
Alvin turun dari mobil sambil menatap bangunan rumah mewah di hadapannya dengan tatapan kagum. Seumur hidup belum pernah Alvin masuk apalagi sampai menginjakkan kakinya di dalam area rumah semewah ini.
Lihatlah! Saking besarnya rumah ini, satpam yang berjaga di pos satpam dekat pintu gerbang tadi bahkan lebih dari lima orang. Tentu saja, mana mungkin seorang atau dua orang satpam saja mampu menjaga rumah sebesar ini.
"Hei, kenapa kau malah melamun di situ."
Ziva menatap heran pada Alvin yang saat ini tengah berdiri menatap takjub ke arah rumah mewah di hadapannya.
"Hei!" seru Ziva lagi.
Alvin segera tersadar dari kekagumannya. "Y-ya?"
"Apalagi yang kau tunggu? Ayo, cepat bantu aku untuk membawanya masuk kedalam!" ujar Ziva sambil membuka pintu bagian belakang mobilnya.
Alvin mengangguk dan langsung melangkah mendekat ke sisi lain mobil.
"Bagaimana aku… membawanya?" Alvin bertanya ragu.
"Dengan menggendongnya, tentu saja." jawab Ziva.
"Me-menggendongnya?"
Ziva menganggukkan. "Ya kau menggendongnya. Bagaimana lagi memangnya? Kalau aku bisa melakukannya aku tidak mungkin memintamu?"
"Menggendong di depan atau di belakanb?"
"Kenapa kau banyak sekali bertanya sih?" Ziva berujar ketus. Ia mulai kesal karena Alvin malah membuang waktu dengan banyak bertanya.
"Masalah itu..." Alvin menggosok belakang lehernya canggung.
Sebenarnya bukan tanpa sebab Alvin bertanya. Bagi Alvin memegang sembarangan orang tanpa izin dari pemilik tubuh adalah hal yang kurang sopan. Meskipun saat ini ia tengah membantu orang itu. Ia tak ingin di sebut sebagai seseorang yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ziva menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kau malu?"
"Bu-bukan, saya hanya-"
Ziva mengibaskan tangannya acuh, membuat kalimat Alvin terpotong.
"Kalau begitu, kau tidak perlu menggendongnya di depan kalau kau tak bisa. Kau gendong dia di belakang punggungmu saja."
"Ah, baiklah." jawab Alvin sambil menganggukkan kepalanya.
Alvin dengan cepat merengkuh tubuh Evelyn, menggendong gadis itu di belakang tubuhnya dengan dibantu oleh Ziva. Setelah itu barulah ia mulai melangkah untuk mengikuti Ziva memasuki rumah mewah itu.
__ADS_1
Begitu menyusuri rumah mewah itu, sekali lagi Alvin harus terkejut setelah menyadari banyak sekali pelayan yang terlihat melintas di dekatnya.
'Rumah semewah ini bahkan tidak di kunci? Apa tidak takut maling masuk.' batin Alvin saat melihat dengan mudahnya Ziva mendorong pintu itu hingga terbuka.
Detik selanjutnya, Alvin mengingat sesuatu. Bukankah ada banyak sekali pelayan di rumah ini. Jadi, tidak mungkin akan ada maling yang berani masuk apalagi sampai mencuri barang.
"Astaga, bagaimana bisa aku melupakan banyak sekali satpam di pintu gerbang tadi. Dasar bodoh." gumam Alvin kemudian terkekeh pada dirinya sendiri.
"Apa?" Ziva yang berada di depan menghentikan langkahnya dan menoleh. Tangan gadis itu masih menyentuh gagang pintu. "Siapa yang bodoh?"
"Ti-tidak." buru-buru Alvin menggeleng dengan senyum canggung.
Ziva menatap Alvin dengan tatapan heran selama beberapa saat barulah kemudian ia menganggukkan kepalanya acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Ayo, cepat! Kita langsung antar dia masuk ke dalam kamar saja." ujar Ziva setelah membuka pintu masuk utama. Sementara Alvin terus mengikuti langkah gadis itu sambil sesekali memperbaiki posisi Evelyn yang tengah ia gendong di belakang tubuhnya.
Dan akhirnya setibanya mereka di kamar Evelyn, Alvin segera membaringkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidurnya.
"Bisa tolong ambilkan handuk bersih. Ada di sana, di dalam lemari di sebelah meja rias." pinta Ziva. "Jangan lupa di basahi lebih dahulu."
"Baik." jawab Alvin, mengangguk.
Alvin kemudian mulai bergerak menuju lemari untuk mencari handuk yang dimaksud. Ia membahasi handuk itu dengan air yang ada di wastafel di kamar mandi kemudian memerasnya.
"Kau keluarlah dulu. Aku akan membereskan semuanya di sini. Tapi jangan pergi dulu. Aku akan menemuimu di luar sebentar lagi, oke." ujar Ziva.
Alvin mengangguk dan segera meninggalkan Ziva di kamar itu, membiarkan gadis itu membereskan segalanya.
Ziva mulai melepas sepatu hak tinggi milik Evelyn dan membersihkan tangan dan lehernya dengan handuk. Ia lalu menyelimuti sahabatnya itu dengan selimut tebal milik gadis itu. Setelah itu barulah ia beranjak keluar kamar untuk menemui Alvin.
Sementara itu di ruang tamu, Alvin berdiri dengan agak gelisah, menunggu Ziva.
"Permisi, aden ini teman nona Evelyn?"
Alvin menoleh untuk melihat siapa yang sedang mengajaknya berbicara. Dan seorang perempuan paruh baya terlihat berdiri di dekatnya.
"Saya? Bukan, saya ini pelayan klub malam. Saya diminta bantuan untuk mengantar nona Evelyn pulang."
"Oh, begitu. Aden mau minum apa? Saya bisa ambilkan." tanya perempuan itu lagi, tampaknya dia adalah pelayan di rumah ini
Alvin menggeleng. "Tidak, terima kasih. Saya akan pulang sebentar lagi."
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk paham. Ia kemudian berlalu meninggalkan Alvin seorang diri di tempat itu.
Tak menunggu waktu lama, Ziva akhirnya muncul. Ia mendekati Alvin dengan senyum lega di wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih atas bantuannya.Aku benar-benar tidak tahu bagaimana akhirnya jika kau tidak muncul tadi. Aku tidak menyangka kalau dia akan mabuk berat seperti itu. Ah, harusnya aku menahan kekasihku pergi lebih dulu tadi."
"Tidak masalah, aku hanya membantu." ujar Alvin dengan nada segan. "Sepertinya semua sudah beres." lanjutnya.
Ziva mengangguk setuju "Hm, aku sangat berterima kasih karena kau sudah bersedia membantuku. Oh ya, siapa namamu tadi. Maaf, aku tidak begitu ingat karena aku terlalu fokus menyetir."
"Namaku Alvin, nona." jawab Alvin sopan. "Kalau begitu aku akan pergi saja sekarang." ujar Alvin berpamitan.
"Baiklah. Tapi kau akan pulang menggunakan apa? Kau kan tadi kemari bersamaku. Ah, apa mau ku antar kembali ke sana?" tawar Ziva.
"Tidak perlu, nona." Alvin menggeleng. "Saya rasa sebaiknya nona jangan pulang larut malam begini, akan sangat berbahaya bagi perempuan jika keluar pada jam segini."
Ziva terkekeh mendengar nasihat itu. Satu fakta yang Alvin tidak tahu kalau sebenarnya ia sudah terbiasa pulang pada jam-jam seperti ini. Namun Ziva tetap memilih untuk menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Kalau begitu saya pamit dulu, nona Ziva." Alvin berpamitan dengan sopan.
"Ya. Sekali lagi terima kasih." ujar Ziva.
Alvin sudah hendak beranjak pergi, namun langkahnya kembali terhenti. Ia berbalik dan menatap Ziva dengan senyuman.
"Oh ia satu lagi." ujar Alvin sambil merogoh kantong celananya. "Ini... ini adalah uang milik nona tadi."
Ziva menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ini kan uang yang ku berikan padamu tadi? Kenapa malah di kembalikan?"
Sebelumnya, Ziva memang sempat memberi Alvin uang sebagai tanda terima kasih atas bantuan.
Alvin tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Saya rasa saya harus mengembalikannya. Lagipula saya ikhlas membantu tanpa bayaran."
"Tidak masalah, ambil saja." ujar Ziva. "Anggap saja, itu sebagai ucapan terima kasih dariku untukmu karena sudah membantuku tadi."
"Tapi-"
"Aku bilang ambil saja!" ujar Ziva tegas.
Alvin terpaksa mengangguk. "Baiklah. Terima kasih. Kalau begitu saya pergi dulu, nona..." ujarnya.
Ziva mengangguk lalu memperhatikan Alvin yang saat ini tengah melangkah pergi. Pemuda itu bahkan sempat berpamitan pada satpam yang berjaga di dekat pintu gerbang sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.
"Pemuda itu. Sekali lagi, Evelyn sudah membuatnya susah dan berhutang maaf dan ucapan terima kasih padanya." ujar Ziva sambil tertawa kecil lalu masuk kedalam rumah Evelyn. Dia memutuskan untuk menginap saja malam ini.
***
__ADS_1