
Beberapa saat menunggu, akhirnya kembali terdengar suara ketukan pintu di kamar Evelyn dan seketika muncullah kepala Ziva sambil tersenyum sumringah.
"Hei, aku datang." ujar Ziva dengan nada girangnya.
Evelyn hanya memutar bola matanya sebagai jawaban membuat Ziva bingung.
"Kenapa dengan ekspresi wajahmu?" tanya Ziva.
"Ada apa?" Evelyn bertanya balik, membuat alis Ziva mengerut.
"Ada apa, apanya?"
"Ayolah, Ziva. Tidak biasanya kau datang sore-sore begini."
"Kenapa memangnya? Ada masalah kalau aku datang sore hari? Apa kau tidak suka dengan kedatanganku ini?" sindir Ziva.
"Sedikit. Ini kan jam istirahatku." ujar Evelyn bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah nakas dan menuang minuman ke dalam gelas. "Kau mau minum juga?"
"Tidak. Aku tidak haus." Ziva menggeleng kemudian melipat tangannya ke atas dada. "Tapi sejak kapan kau hobi beristirahat? Aku juga tidak tahu kalau kau punya jam istirahat. Bukankah selama ini kau selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Sampai lupa waktu?"
"Sibuk?"
"Ya, sibuk bersenang-senang, maksudku."
"Berhenti mengataiku, Ziva." ujar Evelyn sinis sambil menegak minuman di tangannya.
"Aku bukan mengataimu, tapi sedang mengejek dirimu." ujar Ziva membuat Evelyn langsung menatapnya tajam.
"Baiklah." ujar Ziva mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sembari berjalan menuju sofa yang ada di kamar Evelyn.
Ziva mendudukkan dirinya dengan santai di atas sofa, menatap Evelyn beberapa saat kemudian terkekeh sendiri.
"Apa yang kau tertawakan?" Evelyn menatap sengit pada sahabatnya itu.
"Tidak! Aku hanya heran. Bukankah kau ini anak konglomerat, Eve? Tapi kenapa kau bahkan tidak bisa memilih baju yang benar dan sesuai keadaanmu sendiri?" ujar Ziva membuat Evelyn menaikkan sebelah alisnya.
"Cocok dengan keadaanku? Keadaan apa?" tanya Evelyn keheranan.
Bukannya menjawab, Ziva malah menggedikkan bahunya dan membuat Evelyn jadi kesal sendiri karena merasa penasaran.
"Apa maksudmu sebenarnya, Ziva?" kesal Evelyn.
"Lihatlah! Kau mengenakan pakaian yang terlalu terbuka untuk keadaan tubuhmu."
"Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Oh, ayolah Evelyn. Harusnya kau mengenakan pakaian yang lebih tertutup setelah kau selesai bercinťa." sindir Ziva lagi.
Evelyn yang tengah minum langsung tersedak dan menoleh pada Ziva. Ia menatap sahabatnya itu dengan ekspresi kagetnya.
Bagaimana sahabatnya ini bisa tahu?
"Apa?" ujar Ziva dengan nada santai saat melihat reaksi kaget dari Evelyn yang dinilainya sedikit berlebihan itu.
Evelyn berdehem sebentar. "Apa yang kau katakan, Ziva? Bercinťa apanya? Aku ini baru selesai berbelanja dan bukannya ber-"
"Ya, ya, ya! Katakan saja omong kosong dan semua alasan tak pentingmu itu pada tanda merah keunguan yang ada di dada mu itu." potong Ziva sambil memutar bola matanya malas.
Evelyn refleks menundukkan pandangannya untuk menatap tanda bekas hubungannya beberapa waktu lalu. Evelyn dengan cepat menyilangkan kedua telapak tangannya didepan dadanya, menutupi apapun yang sedang dipandang oleh sahabatnya itu.
"Kau! Berani sekali kau memandangi dadaku!" protes Evelyn sinis.
"Aku sama sekali tidak berniat memandanginya, nona Anderson. Tapi tanda itu bahkan terlihat sangat jelas, bahkan tidak butuh usaha sama sekali untukku agar dapat melihatnya" ujar Ziva santai.
"Ya, tapi harusnya kau tidak perlu terus memandanginya, kan!"
"Percuma saja kau menutupi dadamu, di lehermu juga ada."
Mendengar itu, Evelyn langsung buru-buru meraba lehernya.
Ziva mendengus sinis saat melihat tingkah laku konyol dari sahabatnya itu. "Aku jadi penasaran siapa lagi laki-laki yang kau tiduri. Ayo, cepat jawab! Bekas kecupán siapa itu, hah?"
"Ini bukan bekas kecup*n, oke!" protes Evelyn tak terima. "Ini hanya bekas gigitan nyamuk dan agak gatal, jadi-"
"Wow, kau sangat pandai berakting rupanya. Aku bahkan sampai tertipu dengan akting hebatmu itu." ujar Ziva sinis, bicara dengan nada meledek.
Oke, Evelyn benar-benar merasa terpojok sekarang. Ia malah jadi salah tingkah sendiri. Dan tepat saat itu, sepintas ingatan tentang dirinya dan pria bernama James, si direktur dari majalah terkenal, yang nyaris bercin*a dengannya di kamar hotel semalam muncul begitu saja di kepalanya.
Kenyataan bahwa cium*n James yang sama sekali tidak membangkitkan gairah apapun di tubuhnya menjadi sebab ia tidak ingin membahas hal ini sekarang.
Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya, mencoba dengan keras menghapus ingatan itu dari kepalanya.
"Bisa kita hentikan pembicaraan ini? Dan sekarang aku jadi penasaran sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di rumahku sore-sore begini? Aku yakin kalau kau kemari bukan hanya untuk membahas tentang 'tanda'ku ini kan?" sebal Evelyn.
Ziva menggedikkan bahunya acuh. "Ya, kau benar. Aku memang bukan ingin membahas itu!"
"Jadi apa?" tanya Evelyn sambil melangkahkan kakinya ke arah sofa yang ada di tengah kamarnya kemudian turut mendudukkan dirinya di sofa itu, tepat di sebelah Ziva.
"Hm, jadi begini. Seperti yang kau tau, kalau aku akan mengadakan pesta. Dan waktu itu kau kan sudah berjanji padaku kalau kau juga akan datang. Jadi hari ini aku datang padamu untuk menagih janjimu dan memastikan kalau kau memang akan datang di pesta itu nanti." jelas Ziva antusias.
"Menagih janji? Memangnya kapan aku pernah berucap janji padamu?" Evelyn mengeryit heran.
__ADS_1
"Sial, Eve!" umpat Ziva kesal. "Apa kau mau melupakan janjimu sendiri, hah? Kau sudah berjanji padaku, sahabatmu sendiri."
"Haha, tenang saja Ziva. Tentu saja aku masih ingat janjiku." ujar Evelyn tersenyum geli melihat reaksi kesal dari sahabatnya itu. "Aku hanya mengerjaimu barusan."
"Evelyn, apa liburanmu di Bali waktu itu kurang menyenangkan sehingga harus mengerjaiku lebih dulu untuk tertawa?"
"Wajahmu lucu saat marah, Ziva. Sangat menyenangkan untuk melihatnya."
"Kau ini sahabat macam apa, heh." omel Ziva. "Jadi kau akan datang kan?" mata Ziva langsung kembali berbinar senang.
"Bagaimana ya-"
"Lagipula aku akan mengadakan pestanya di klub milik ayahmu. Aku jamin kau tidak akan rugi jika datang kesana nanti."
Evelyn mengangguk pelan. "Ya, kau tenang saja. Aku akan datang ke sana. Sekalipun tidak di klub malam milik ayahku. Dimana pun kau mengadakan pestanya aku tetap akan datang, Ziva."
"Aku tahu itu. Kau pasti akan menepati janjimu. Kau memang sahabatku." seru Ziva yang langsung menghamburkan diri untuk memeluk Evelyn.
Evelyn hanya menggeleng melihat tingkah laku sahabatnya itu. "Jadi apa kau datang kemari hanya untuk menanyakan itu?"
"Ya," Ziva melepas pelukannya lalu mengangguk mantap. "Aku akan membawa gaunku kemari agar kita bisa pergi bersama nanti. Aku akan ganti baju dan bersiap di sini saja. Nanti aku pinjam ruang riasmu, oke!"
"Ya! Terserahmu saja." jawab Evelyn terkekeh geli. "Kapan acaranya?"
"Belum aku tentukan, mungkin dua atau tiga hari lagi. Kalau begitu, aku pergi dulu." pamit Ziva memasang kembali jaket ke tubuhnya.
Evelyn mengernyit. "Kau mau pergi kemana?"
"Aku akan pergi membeli gaun untuk acaranya nanti. Sampai jumpa, Eve!" ujar Ziva setelah mengambil tas mahal miliknya yang ada di atas meja.
Ia lalu melambaikan tangan pada Evelyn kemudian berjalan pergi dari tempat itu, meninggalkan Evelyn di kamarnya.
Setelah kepergian Ziva, Evelyn kembali menenggak minumannya. Ia hanya diam sambil menatap lekat gelas yang ada di tangannya. Evelyn lalu menghela napasnya pelan. Kalau diminta memilih, sebenarnya dia akan lebih memilih untuk tidak pergi.
Ia suka pesta, sangat suka. Tapi beberapa hari ini, setelah pulang dari Bali, entah kenapa tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya, sangat lelah. Ia seperti tak punya gairah bersenang-senang untuk sementara waktu ini . Tapi tak masalah, demi sahabatnya yang cerewet itu, dia tetap akan pergi ke pesta itu.
Jujur saja, di bandingkan pergi ke pesta, saat ini Evelyn hanya ingin 'hiburan' untuk tubuhnya. Tapi tidak ada yang bisa memberikan hal itu untuknya. Bahkan James, lelaki tampan yang baru Evelyn kenal yang awalnya Evelyn pikir bisa membuatnya puas, justru sama sekali tak bisa membuat tubuhnya merasa senang.
Evelyn sudah mencobanya semalam tapi gagal, ia tak bisa merasakan apapun saat bersama James.
Sebenarnya bukan hanya James, tapi semua pria yang pernah Evelyn temui dan bahkan menjalin hubungan dengan mereka, semuanya sama.
Terakhir kali, Evelyn juga sampai harus pergi ke Bali untuk mencari seseorang yang bisa menyenangkannya, tapi tetap tak berhasil. Mereka semua tak bisa membuat tubuh Evelyn merasa puas. Dan itu-lah yang membuat Evelyn merasa frustasi sendiri.
***
__ADS_1