Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
33. Ajakan Evelyn


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan Alvin dan Evelyn di balkon malam itu. Dan semenjak saat itu, Alvin tidak pernah bertemu lagi dengan Evelyn karena gadis cantik itu tidak pernah datang ke klub malam itu lagi.


Dan siang ini, Alvin baru saja menyelesaikan jadwal kuliah terakhirnya. Ia tengah memasukkan bukunya kedalam tas saat ia mendengar dering ponselnya yang berbunyi.


Alvin meraih ponsel dari kantong jaketnya dan menatap layar ponselnya. Ia mengernyit saat melihat nomor tak di kenal baru saja mengirimkan pesan teks padanya. Dengan ragu Alvin membuka dan membaca isi pesan tersebut.


Dari : +628xx xxxx xxxx


'Halo, ini Evelyn.'


'Gadis yang kau temui di balkon klub malam tiga hari lalu.'


'Aku harap ini Alvin? Maaf sebelumnya, aku mendapatkan nomormu ini dari Mr. Robert semalam. Aku menghubungimu karena aku agak khawatir saat melihatmu yang tampaknya sangat bersedih waktu itu. Dan ya, aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja.'


Setelah membaca isi pesan itu Alvin mengerjapkan kedua matanya. Ia masih menatap pada layar ponsel miliknya, membaca sakali lagi isi dari pesan teks itu.


Evelyn?


Gadis yang ia temui di balkon klub malam?


Demi Tuhan, kedua mata Alvin seketika saja langsung membulat. Dan lihatlah, ia tengah melotot dengan sempurna sekarang. Bayangkan saja! Pengirim pesan ini mengatakan kalau dia adalah Evelyn? Gadis cantik yang menjadi pujaan hati Alvin itu? Wow, bukankah ini gila. Gadis yang Alvin sukai baru saja menghubunginya secara mendadak seperti ini.


Dengan tergesa-gesa, Alvin mulai mengetik jawaban untuk si pengirim.


Kepada : +628xx xxxx xxxx


'Hei, kau benar! Aku Alvin. Ah, aku baik-baik saja!! Sangat baik malah. Dan tolong jangan khawatir!'


Dengan tangan gemetar, Alvin meletakkan ponselnya ke atas meja. Saat ini seribu pertanyaan seketika ssja melintas di benaknya. Ia bertanya-tanya mengapa Evelyn menghubunginya dan bertanya tentang dia. Dan hal lain yang membuatnya heran adalah mengapa gadis itu tampak seperti... sedang khawatir?


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Oh yang benar saja, kenapa jantung Alvin bahkan berdetak semakin kencang. Ah ini jelas tidak wajar. Alvin mengambil dan menatap layar ponselnya.


Tunggu dulu!


Ini panggilan telepon.


Evelyn... meneleponnya.


Karena panik, Alvin bahkan melempar ponselnya keatas meja kuliahnya. Ia menatap tak percaya pada layar ponselnya. Tapi ia memang tak salah lihat, Evelyn benar-benar meneleponnya.


Alvin pasti sedang beruntung saat ini karena gadis yang ia sukai tiba-tiba menghubunginya bahkan tanpa di minta. Dan setelah membulatkan tekatnya Alvin memutuskan untuk mengangkat telepon dari gadis itu.


'Sekarang atau tidak sama sekali,' pikirnya karena cepat atau lambat dia memang harus menjawab telepon dari gadis itu. Anggap saja sebagai norma kesopanan.


Alvin mengambil napas dalam-dalam, kemudian dengan tangan yang masih gemetar ia mengambil ponselnya lagi. Dan setelah itu jari telunjuknya yang juga terlihat gemetar berhasil menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo?"


"Apa jadwal kuliahmu sudah selesai?"


"Itu-"


"Ini sudah jam sebelas siang. Sepertinya ini sudah jam pulang kampus kan?" tanya gadis itu lagi dari seberang telepon. "Aku melihat beberapa mahasiswa keluar dari kampus."


"I-iya. Bagaimana bisa tau?" ujar Alvin gagap. Ia meruntuki dirinya sendiri di dalam hati karena nada suaranya yang terdengar gemetaran saat ini.


"Karena aku sedang di luar kampusmu. Em.. bisakah kau kemari dan temui aku?" ujar Evelyn lagi.


Sekali lagi mata Alvin membulat. Kepanikan seketika saja melonjak di dalam pikirannya dan dia merasa dirinya sudah gila karena mendengar semua hal gila ini.


Evelyn di depan kampusnya?


"Halo, apa kau masih di situ?" tanya Evelyn lagi membuyarkan lamunan kecil Alvin.

__ADS_1


"A-aku masih di sini! Ya, a-aku akan keluar sebentar lagi. Bisakah anda menungguku, nona?" jawab Alvin gugup.


"Tentu." jawab Evelyn kemudian memutus sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Alvin mengernyit bingung sambil menatap ponselnya.


'Kenapa dia menghubungiku, membuatku kaget setengah mati dan memutuskan panggilan teleponnya sepihak begini.' batin Alvin.


Tak ingin berdiam diri lebih lama, Alvin mengambil tasnya dari atas meja dan bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya. Selama perjalanan menuju parkiran, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang telah dia lakukan sehingga Evelyn mendadak ingin bertemu dengannya saat ini.


Dan ia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar selain menemui gadis itu sekarang. Alvin sebenarnya merasa gugup jika harus bertemu dengan gadis itu saat ini. Tapi ia juga sudah setuju jadi tidak bisa lagi berbalik atau membatalkan pertemuan mereka kali ini ini, dia sudah setuju untuk bertemu tadi.


Setelah mengambil motornya di parkiran. Ia mengendarai motornya menuju keluar dari kampus. Namun sesampainya di pintu gerbang, Alvin menoleh kanan dan kirinya untuk mencari keberadaan gadis itu tapi ia tak melihat kehadiran Evelyn dimanapun. Di tempat itu hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat berdiri, menunggu jemputan atau taksi.


'Dimana dia.' batin Alvin.


Apa mungkin Evelyn pulang karena terlalu lama menunggunya tadi. Setelah sadar tak mendapati keberadaan gadis itu dimanapun, Alvin akhirnya kembali menancap gas motornya dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Ia menghela pelan, tidak tau kenapa tapi ia merasa kecewa karena gagal bertemu gadis yang ia sukai itu.


Tin..Tin..Tin...!


Alvin terkejut saat mendengar bunyi klakson dari mobil yang berasal dari arah belakangnya. Ia menoleh dan mendapati sebuah mobil mewah berwarna merah tengah berjalan pelan mengikutinya di belakang.


Mobil itu bergerak maju ke sebelah Alvin, sejajar dengan motornya. Dan tepat saat itu Alvin bisa melihat kaca mobil di turunkan dan tampaklah seorang gadis cantik tengah menatapnya dengan senyum manis di wajahnya.


Itu Evelyn.


"Hei! Berhenti dulu." teriak Evelyn dari balik jendela mobilnya.


Alvin membuka kaca helmnya. "Nona sedang apa disini?"


"Berhenti dulu." teriak Evelyn lagi sambil sibuk mengendalikan stir mobilnya.


Alvin langsung menepikan motor yang ia kendarai diikuti Evelyn di belakangnya yang ikut menepikan mobilnya juga.


Setelah itu Alvin segera melepaskan helm-nya dan turun dari motornya. Untuk beberapa saat Alvin menatap mobil Evelyn dari tempat ia berdiri saat ini. Gadis ini benar-benar kaya. Lihatlah! Mobilnya saja terlihat sangat mewah. Alvin mungkin tak akan sanggup untuk sekedar membeli ban-nya saja.


Alvin tak menjawab. Ia lalu berjalan mendekat ke arah mobil Evelyn.


"Ada apa, nona?" tanya Alvin sambil membungkukkan badannya, mengintip melalui jendela mobil Evelyn.


"Masuklah dulu." seru Evelyn lagi menunjuk pintu mobilnya dengan dagu.


"Masuk ke dalam mobil?" Alvin memastikan.


Evelyn mengangguk dan bergeser untuk membantu membuka pintu mobilnya untuk Alvin.


"Ayo, cepat masuk!" ujarnya sesaat setelah pintu terbuka. Alvin mengikuti perintah Evelyn dan segera masuk kedalam mobil.


"Ada apa, nona?" tanya Alvin sekali lagi pada gadis itu.


"Kau ikut aku makan siang!" entah apakah itu sebuah pertanyaan, ajakan atau gadis itu tengah memerintah Alvin saat ini, Alvin juga tidak begitu paham.


"Makan siang?" Alvin mengernyit.


Evelyn mengangguk mantap. "Ya! Kau akan menemani aku makan siang."


"Menemani makan siang?" gumam Alvin semakin mengerutkan dahinya bingung. "Nona kemari hanya untuk mengajakku makan siang?"


"Hm." Evelyn kembali terlihat mengangguk dengan santainya. "Aku sedang lapar sekarang."


Alvin melongo di tempatnya. Apa ini? Jadi ini adalah pekerjaan orang kaya ketika mereka bosan? Mereka membuang waktu mereka seperti ini. Ah, atau Evelyn sedang mengajaknya bercanda saat ini?


"Motormu akan di bawa oleh bawahanku nanti, tinggalkan saja di sini." ujar Evelyn lagi di sela kebingungan Alvin.


Tunggu dulu, jadi gadis ini serius dengan ucapannya?

__ADS_1


Alvin mengangkat tangannya, untuk menatap jam di pergelangan tangannya.


"Apa nona tidak bekerja?" tanya Alvin


Evelyn menggeleng. "Aku tidak punya pekerjaan. Tapi biasanya jam segini aku pulang kuliah dan pergi berbelanja bersama teman-temanku." lanjutnya.


"Nona kuliah?"


Evelyn mengangguk. "Tentu saja. Universitas Bina Karya. Semester akhir."


Alvin terhenyak.


Ia tau jelas, kampus itu adalah kampus swasta yang di kenal menjadi tempat orang-orang berada berkuliah. Dan itu bukan kampus yang cocok untuk Alvin, karena sepengetahuannya, biaya per semester di kampus Bina Karya itu saja sama dengan biaya kuliah Alvin selama empat semester di kampusnya ini. Bayangkan saja! Untuk biaya per semesternya saja sudah empat kali lipat dari biaya per semester di kampus Alvin(?)


"Ini kan sudah jam makan siang. Aku lapar dan aku ingin makan. Tapi aku ingin makan denganmu. Kau mau kan?" jelas Evelyn dengan ekspresi memohon di wajahnya.


"Tapi-"


"Ayolah, Alvin!" bujuk Evelyn.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, Alvin memilih untuk mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, nona! Aku mau. Memangnya nona mau makan apa?" tanya Alvin kemudian.


"Bubur ayam."


"Hah?"


"Bubur ayam langgananmu." ujar Evelyn menegaskan ucapannya. "Tempatnya ada di perempatan jalan ini kan?"


Alvin kembali melongo.


Bagaimana Evelyn bisa tau kalau dia punya langganan bubur ayam. Evelyn menatap wajah Alvin dan sontak saja tertawa saat melihat ekspresi terkejut dari pemuda itu.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Evelyn masih tertawa.


Alvin tersenyum canggung. "Bagaimana-"


"Kau ingin bertanya bagaimana aku bisa tau tempat makan langgananmu?" potong Evelyn sambil terkekeh geli.


"Ya. Bagaimana nona bisa tau?"


Evelyn tak menjawab. Ia hanya tersenyum penuh makna sementara otaknya kembali mengingat saat ia membayar orang untuk mengikuti Alvin selama tiga hari belakangan ini.


"Tentu saja aku tau!" ujar Evelyn kemudian dengan bangga.


"Hah?"


Alvin semakin bingung mendengar jawaban ambigu dari Evelyn dan membuatnya semakin merasa penasaran saja.


"Jadi mau atau tidak untuk pergi menemaniku makan siang?" tanya Evelyn memastikan sekali lagi dengan tak sabar. Sebenarnya ia hanya mengalihkan pembicaraan saja.


"Ya, aku mau nona. Aku sudah menjawabnya tadi. Tapi motorku akan aku bawa kembali ke dalam kampus dulu."


"Bawahanku nanti bisa-"


Alvin menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku akan menitipkannya di parkiran kampus saja. Aku bisa mengambilnya lagi nanti sepulang makan siang."


"Ya sudah kalau begitu. Terserah kau saja." Evelyn menggedikkan bahunya acuh. "Kita kembali ke kampusmu."


Alvin mengangguk dan segera turun dari mobil Evelyn untuk mengambil motornya. Ia membawanya kembali ke kampus diikuti mobil Evelyn di belakangnya. Setelah itu barulah mereka menuju ke tempat makan siang.


***

__ADS_1


__ADS_2