Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
38. Bantuan Mendadak


__ADS_3

Karina seolah tak mempercayai apa yang ia lihat. Ia melebarkan kedua matanya, menatap wanita yang berdiri tak jauh darinya itu dengan ekspresi terkejut.


Kedatangan Evelyn begitu mengejutkan Karina. Ia bahkan melangkahkan kakinya mundur, agak menjauh dari Alvin sambil terus melihat pada Evelyn.


"Wanita itu... bukankah dia..."


Karina tampaknya memang sudah tak bisa lagi menahan reaksi terkejutnya. Ia bahkan terus menatap Evelyn tanpa berkedip seolah tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Evelyn di tempat ini.


Gadis itu ada disini juga?


Di kampusnya.


Tapi bagaimana bisa?


Karina kemudian mengerutkan dahi. Ia benar-benar bingung sekarang. Hatinya masih terus bertanya-tanya kenapa gadis sial@n itu bisa ada di kampus tempat ia berkuliah. Tunggu dulu, apa jangan-jangan selama ini Evelyn memang berkuliah di kampus ini juga?


Tidak mungkin.


Karina menggelengkan kepalanya kembali menatap Evelyn.


"Kau!" ujar Karina.


Evelyn yang mendengar seruan Karina itu langsung saja menoleh. Ia menurunkan kacamata hitam yang ia kenakan ke pangkal hidungnya. Gadis itu lalu menaikkan sebelah alisnya, menatap Karina dengan tatapan heran.


"Oh, kau?" ujar Evelyn balik. Ia menatap Karina dari atas hingga bawah lalu tersenyum sinis. "Wah, wah, kejutan apa ini. Kita bertemu lagi."


Karina menatap Evelyn dengan tatapan tajam. Apa-apaan itu. Evelyn bahkan tak terlihat kaget dengan adanya Karina di tempat ini. Ia tampak begitu... santai.


"Bukankah ini luar biasa." Evelyn menatap Karina takjub.


"Ah, aku rasa kita memang punya ikatan batin yang kuat hingga bisa bertemu kembali seperti ini. Haruskah ku sebut pertemuan ini sebagai takdir. Ah, entah itu takdir baik atau malah sebaliknya... sebuah takdir buruk."


Setelah mengatakan kalimat panjang lebar itu Evelyn langsung terkikik geli.


Alvin menatap Karina dan Evelyn bergantian. Ia bingung, sepertinya kedua wanita ini tampak saling mengenal tapi ia yakin mereka bukan saling mengenal dalam hal yang 'positif'.


"Sedang apa kau di kampusku?" ujar Karina menatap Evelyn tajam.


"Aku? Aku sedang-"


"Nona Evelyn!" sela Alvin, membuat perkataan Evelyn langsung terpotong.


Evelyn mengalihkan pandangannya dari Karina dan menatap Alvin, menunggu pemuda itu bicara.


Alvin lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Evelyn dan berbisik dengan raut canggung.


"Sedang apa di sini. Kenapa nona belum pulang?" tanya Alvin.


"Aku mencarimu."


"Mencariku?"


Karina sontak saja ikut menoleh pada Alvin. Ia menyipitkan matanya mencoba mendengar apa yang Alvin katakan pada Evelyn. Ia terus memandangi mantan kekasihnya yang tampak bicara pada gadis itu.


Tunggu dulu.


Apa Karina tidak salah? Alvin baru saja bicara dengan gadis ini? Dan kenapa mereka bicara seolah mereka dekat sekali. Apa Alvin mengenalnya? Tapi bagaimana bisa? Bagaimana Alvin bisa mengenal gadis kurang ajar ini.


"Kenapa nona mencariku? Bagaimana nona bisa sampai kesini?" tanya Alvin bingung.

__ADS_1


"Aku asal masuk saja dan ternyata berhasil menemukan dirimu. Oh ya, ini, ponselmu tadi tertinggal di mobilku." ujar Evelyn mengangkat ponsel milik Alvin, menggoyang-goyangkannya sembari tersenyum.


"Nona masuk untuk mengantar ponselku?"


"Ya, ini benar ponselmu kan?"


Alvin melihat ponselnya seketika menghela napasnya lega. "Benar, ini ponselku. Aku pikir ini hilang."


"Salahkan saja dirimu yang meninggalkannya di mobilku." terang Evelyn.


Evelyn tersenyum memandangi Alvin beberapa saat lalu menoleh ke arah belakang bahu Alvin. Disana masih berdiri Karina yang tengah menatap mereka dengan bingung dan heran.


"Tapi ada apa di sini, Alvin? Maksudku, kau tampak agak kesal sekarang."


Evelyn lalu kembali menoleh pada Karina, sembari menaikkan sebelah alisnya, ia menatap penampilan Karina dari atas hingga bawah, membuat Karina entah kenapa jadi merasa risih sendiri.


"Apa kau baik-baik saja?" bisik Evelyn pada Alvin.


Alvin melirik sekilas ke belakang, melihat pada Karina yang tampak membatu di posisinya, menatap kearah mereka.


"Apa ada masalah?" tanya Evelyn lagi, curiga.


Alvin melihat Evelyn dan menggeleng kecil lalu tersenyum canggung. "Tidak ada apa-apa. Sebenarnya ini hanya masalah kecil."


"Besar atau kecil, bukankah itu artinya memang ada masalah?"


"Ya, tapi aku bisa mengatasinya, nona."


Karina mendecih.


"Ada atau tidaknya adanya masalah, itu sama sekali bukan urusanmu! Jadi jangan ikut campur." ujar Karina pada Evelyn tajam.


Karina masih merasa kalau tujuan Alvin ada di sini karena ia memang berniat menemuinya. Ia bahkan merasa kalau saat ini Alvin hanya mencoba mengulur waktu saja dan membuat alasan.


"Dan Alvin, bukankah kau sudah menemukan ponselmu. Cepat hubungi teman-temanmu itu!" ujar Karina kembali memerintah Alvin.


"Aku sudah bilang aku kemari bukan untuk menemuimu, Karina."


"Kalau begitu cepat buktikan saja padaku!" tantang Karina.


Alvin menghela lelah. Ia menyerah untuk menjelaskan apapun pada Karina. Ingatkan dirinya sendiri kalau ini akan menjadi yang terakhir kali ia berurusan dengan gadis ini.


"Baiklah." ujar Alvin.


Alvin sudah hendak mencari nomor teman-temannya sampai Evelyn memegang lengannya.


"Ada apa sebenarnya?" bisik Evelyn.


Alvin menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, nona. Ini hanya salah paham yang harus aku selesaikan dengannya..." Alvin menunjuk Karina dengan dagunya.


Evelyn menoleh sekilas pada Karina lalu kembali menatap Alvin.


"Masalah apa. Bisakah aku tahu?" bisik Evelyn.


"Tidak apa, nona."


Alvin tersenyum pada Evelyn lalu menggeleng sambil kembali menatap ponselnya, hendak kembali mencari nomor teman-temannya.

__ADS_1


Evelyn menatap Alvin beberapa saat sebelum tersenyum licik kemudian kembali memegang pergelangan tangan Alvin, menahan pemuda itu yang hendak menghubungi temannya.


"Alvin, dengar! Apapun masalahnya, kau jangan lakukan apa yang dia inginkan!"


Karina sontak menatap dingin pada Evelyn. "Kenapa aku tidak-"


"Kau diam saja. Kami-"


Evelyn sudah hendak bicara untuk menanggapi Karina namun ucapannya terhenti saat tangan Alvin menyentuh lengannya, menahannya agar tak meladeni Karina.


"Tolong hentikan." mohon Alvin pada Evelyn


Karina yang melihat Alvin memegang lengan Evelyn tampak mendecih kesal. "Apa-apaan itu. Kenapa mereka saling menyentuh satu sama lain seperti itu?" Karina menggerutu pada dirinya sendiri.


Ia kesal melihat Alvin yang menyentuh Evelyn dengan santainya. Sejauh yang Karina tahu, Alvin tidak akan pernah mau menyentuh tangan wanita dengan sembarangan.


Apa sebenarnya hubungan mereka?


Dan juga, entah kenapa Evelyn selalu tiba-tiba saja muncul dan mencampuri urusannya. Jangan lupa dengan apa yang sudah Evelyn lakukan pada Karina saat di klub malam beberapa waktu lalu.


"Alvin, kenapa kau diam saja. Jika kau terus diam, dia tidak akan berhenti menghinamu. Dia pikir dia bisa seenaknya menginjak-injak orang lain seperti itu." bisik Evelyn, menatap Karina tajam.


Sementara Karina saat ini tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan merendahkan.


"Ya ampun, aku membenci gadis itu. Wajahnya benar-benar menyebalkan." omel Evelyn.


Evelyn tak berbohong saat mengatakan ia membenci Karina. Ia tak pernah merasa sekesal ini dalam selama ia hidup. Evelyn bahkan tak pernah ingin menampar wajah orang sebesar ia ingin menampar wajah Karina sekarang.


"Aku tidak masalah, nona. Sungguh. Jangan hiraukan dia." Alvin mencoba menenangkan Evelyn.


Tapi Evelyn sudah tak tahan. Ia menatap Alvin lalu melirik ke arah Karina sekilas. Evelyn tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya, memberi tanda pada pemuda itu kalau ia tak akan menurut.


"Minggir dulu, oke!" Evelyn lalu mendorong Alvin agar menyingkir.


Melihat Evelyn yang melangkah maju, Alvin jadi gelagapan.


"Nona!" seru Alvin.


Tapi Evelyn seolah tak peduli, gadis itu melangkah meninggalkan Alvin dibelakang.


Alvin menatap punggung Evelyn sembari menggaruk belakang kepalanya frustasi. "Kenapa jadi begini."


Alvin menghela napasnya kasar.


Pada awalnya, ia tidak berniat membuat Evelyn masuk ke dalam masalahnya tapi sepertinya kedua wanita ini memiliki masalah pribadi mereka sendiri dan malah menjadi pertengkaran antar para wanita.


Evelyn menoleh ke belakang, menatap Alvin sekilas lalu kembali menatap Karina sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Siapa bilang aku tak ada hubungan?" ujar Evelyn santai. "Kami bahkan punya hubungan istimewa."


"Apa?" Karina menaikkan sebelah alisnya.


Evelyn tersenyum kemudian melangkahkan kakinya, lebih mendekat pada Karina.


"Kau harus tahu kalau Alvin dan aku…" sekali lagi Evelyn menatap Alvin sekilas, kemudian kembali menatap Karina.


"Alvin… sebenarnya dia adalah kekasihku."


***

__ADS_1


__ADS_2