
Alvin menghela napas panjang, membuat Dave yang sedang duduk menjelasakan materi di hadapannya langsung terhenti. Ia menatap Alvin dengan alis yang menukik bingung.
"Ada apa?" tanya Dave.
"Apanya?"
"Penjelasanku. Apa susah kau mengerti?" tanya Dave dengan raut penasaran karena melihat sahabatnya yang sejak tadi tampak diam, melamun.
Alvin mengerjap.
Pemuda itu lalu menundukkan pandangan untuk menatap buku tebal di hadapannya dan menoleh ke area sekitarnya. Ia baru ingat kalau ia dan Dave tengah berada di perpustakaan karena sedang mengerjakan tugas kelompok yang baru saja diberikan oleh dosen di kelas mereka beberapa saat yang lalu.
"Apa temanya kurang cocok untukmu?"
"Aku-"
"Kalau terlalu sulit dimengerti kita bisa ganti tema saja." Dave menyarankan.
"Tidak. Tidak perlu." Alvin menggeleng cepat, "Tema ini adalah yang terbaik."
"Baiklah." Dave menganggukkan kepalanya paham. Dave yang hendak mengerjakan materi, kembali menatap Alvin dengan tatapan penasaran. "Tapi apa kau baik-baik saja?"
"Ya?"
"Aku tanya, apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat sekali. Kau sakit?"
Alvin menatap wajah Dave yang terlihat khawatir sekaligus juga penasaran. Ia menghela pelan. Sahabat kepo-nya itu memang selalu mengetahui apapun tentang Alvin tanpa perlu Alvin mengatakan apapun padanya.
"Lingkaran hitam di bawah matamu mengganggu penglihatanku. Kau terlihat seperti orang sakit." Dave bicara seolah bercanda, padahal ia sedang serius.
"Aku baik-baik saja, Dave."
"Kau yakin? Maksudku, kau banyak melamun hari ini. Kau bahkan tampak tak fokus selama penyampaian materi di kelas tadi."
"Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kurang tidur." Alvin memijit keningnya, merasa sedikit pusing.
"Lihat itu. Kau memang sakit." protes Dave.
"Tak masalah, Dave. Aku akan beristirahat kalau sempat." jawab Alvin masih menatap buku tebal di hadapannya. "Sampai dimana kita tadi?"
Dave diam, menatap sahabatnya lekat-lekat. Alvin selalu seperti ini. Tak memperdulikan kesehatannya sama sekali. Dave tau kalau Alvin sedang kelelahan sekarang.
"Kau tidurlah dulu! Istirahat."
Alvin mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"
"Bagian mana dari kata 'istirahat' yang tidak kau pahami?"omel Dave.
Alvin membalas dengan dengusan.
"Bukan itu. Kau lihat sendiri kalau tugas kuliah kita belum selesai. Tapi kau malah menyuruhku istirahat?"
"Ini tugas mudah. Aku bisa mengerjakannya sendiri."
"Tapi ini tugas kelompok."
"Ayolah Alvin, lagipula aku juga sering tidur saat kau yang mengerjakan tugas kelompok. Anggap saja ini balas budi dariku. Setelah selesai, kau bisa cek pekerjaanku."
"Aku tidak mau hanya satu orang yang mengerjakan. Ini tugas kelompok. Kita berdua yang harus mengerjakannya. Ayo cepat kita kerjakan!" pinta Alvin.
"Kalau begitu kita akhiri saja pembahasan materinya. Kau istirahat-lah dulu. Kau pasti kelelahan. Aku rasa kau bekerja terlalu keras." Dave menduga-duga.
__ADS_1
"Mungkin saja, ya. Tapi aku rasa tidak perlu sampai mengakhiri pembahasan materi kita. Aku hanya-"
"Berhentilah bicara. Kau istirahat-lah sekarang. Kita masih punya satu lagi mata kuliah yang harus dihadiri setelah ini. Jangan sampai kau tidak fokus nanti." potong Dave panjang lebar sembari memasukan barang-barangnya ke dalam tasnya.
"Baiklah, aku ikuti maumu itu."
Alvin menyerah dan turut memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tasnya.
"Apa bos di tempat kerjamu yang baru memaksamu mengangkat barang berat?" Dave bertanya nyeleneh, ia tau itu. Tapi pertanyaan itu muncul karena ia melihat Alvin yang tampak begitu kelelahan, entah kenapa. "…atau, apakah dia terus memintamu bekerja tanpa henti, begitu?"
"Tidak. Ayolah Dave, bertanyalah hal yang lebih masuk akal sedikit." omel Alvin atas pertanyaan konyol itu sembari memasang tali tasnya ke bahu.
"Ya, baiklah. Maaf." Dave menggedikkan bahunya. "Aku bertanya karena kau tampak seperti orang yang sedang setres."
Alvin buru-buru memegang wajahnya.
"Benarkah? Aku tampak seperti itu?"
"Ya, benar." Dave mengangguk.
"Apa terlihat begitu jelas?"
"Ya," Dave mengangguk.
"Aku tidak setres. Aku hanya merasa lelah dan mengantuk."
"Aku jadi penasaran apa sebenarnya pekerjaanmu. Kau tampak seperti punya beban pikiran yang banyak saja. Seperti tidak tidur selama beberapa hari."
Alvin terkekeh. "Lebih baik kau tidak tahu."
"Kenapa?"
"Kalau kau tahu kau akan kaget."
"Otakmu sungguh negatif." omel Alvin menggelengkan kepalanya lelah.
Dave tertawa geli.
"Ya sudah. Kau istirahatlah dulu!" ujar Dave. "Biar aku yang akan mengembalikan buku-buku ini ke lemari perpustakaan."
Dave kemudian berdiri sembari membawa setumpuk buku di dadanya menuju ke lemari perpustakaan untuk mengembalikannya.
***
"Merasa lebih baik?" tanya Dave saat ia melihat Alvin yang baru saja terbangun dari tidurnya, tengah mengucak matanya.
Alvin menoleh, menatap Dave yang tampak fokus membaca buku ditangannya. Alvin menengok ke sekeliling, melihat perpustakaan sedikit lebih sepi dari sebelumnya.
Alvin mengusap wajahnya kasar, "Berapa lama aku tertidur?"
"Satu jam."
"Satu jam?"
"Hm." Dave yang tengah membaca buku itu hanya mengangguk, tanpa menoleh. Sementara itu mata Alvin langsung membulat sempurna.
"Sial. Kenapa tak di bangunkan, sih?" Alvin buru-buru menarik sebelah tali tasnya, hendak berdiri namun di tahan Dave.
"Kau ini main percaya saja. Aku berbohong." Dave hanya bisa terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya tak percaya betapa bodoh sahabatnya ini.
"Hah?"
__ADS_1
"Cek jam tanganmu."
Alvin langsung mengecek jam tangannya. "Lima belas menit?"
"Ya, kau hanya tidur selama lima belas menit!" jawab Dave terkekeh.
"Benarkah?" tanya Alvin tak percaya.
Alvin hanya bisa melongo menatap Dave yang baru saja mengerjainya, sementara itu Dave masih tertawa sembari meletakkan bukunya ke atas meja. "Maaf, niatku hanya mengerjaimu tadi. Aku sungguh tidak tahu kalau kau akan mudah sekali di bohongi."
Sebagai sahabat, Dave tau kalau Alvin adalah pemuda polos yang mudah dikerjai, tapi Dave tak tahu kalau Alvin sepercaya itu padanya.
"Kau ini benar-benar jahat." omel Alvin sambil menyampirkan sebelah tali tasnya ke bahu.
"Hei, kan aku sudah minta maaf." Dave membela diri.
"Baiklah, baiklah, ayo ke kelas!"
Alvin bangkit dan langsung melangkah menuju kelasnya, diikuti Dave yang masih tampak tertawa-tawa di belakangnya.
"Jadi, apa kau merasa lebih baik sekarang?" Dave bertanya lagi saat mereka dalam perjalanan ke kelas.
"Lumayan." Alvin mengangguk. "Tenyata tidur lima belas menit cukup membuat segar juga. Kantuk-ku juga sudah berkurang."
"Lalu, apa setresmu juga sudah berkurang?"
"Apa yang kau katakan. Sudah ku katakan sejak awal kalau aku sedang tidak setres." Alvin menjawab malas, membuat Dave terkekeh.
"Walau kau bilang tidak setres, tapi tetap saja, kau tak bisa menutupi kenyataan."
"Apa maksudmu?"
"Wajahmu." ujar Dave menunjuk Alvin dengan dagu. "Setelah kau bangun tidur, kau terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya."
"Itu karena rasa kantukku sudah berkurang." ujar Alvin mengusap wajahnya pelan. "Tapi aku merasa kalau wajahku pasti terlihat seperti orang baru bangun tidur sekarang."
"Ya, muka bantalmu benar-benar terlihat." Dave mengangguk setuju.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah mengatakan itu, Alvin berbalik dan berlari melawan arah.
"Kau mau kemana?" teriak Dave bingung.
"Toilet. Aku ingin membasuh wajahku. Mataku terlalu mengantuk untuk jam kuliah selanjutnya. Aku tidak ingin tertidur saat kelas berlangsung nanti. Kau duluan saja ke kelas!"
Alvin berlari memasuki toilet. Ia harus buru-buru karena jam kuliah selanjutnya akan dimulai sebentar lagi. Alvin membasuh wajahnya beberapa kali lalu mengeringkannya menggunakan tissu yang tersedia.
Setelah selesai, Alvin membuang tissu itu ke dalam kotak sampah yang berada di dekat wastafel toilet lalu berdiri di depan kaca untuk mengecek rambutnya.
Alvin tengah merapikan rambutnya di depan kaca saat ia mendengar seseorang berseru memanggilnya.
"Alvin."
Alvin menoleh dan mengernyit saat melihat Karina berdiri di ambang pintu toilet.
"Karina?"
Karina menatap Alvin beberapa detik sebelum tiba-tiba melangkah masuk lalu menutup pintu toilet dan mengucinya dari dalam, membuat mata Alvin membulat.
"Apa yang kau lakukan, Karina?"
__ADS_1
***