
Alvin lelah.
Sekalipun klub malam itu akan segera tutup dan para pengunjung juga sudah hampir pulang sepenuhnya, tapi tetap saja pekerjaaannya belum selesai. Ia harus membereskan sisa-sisa makanan dan minuman dari para pengunjung, memasukkannya ke dalam baki besar.
Ya, walaupun sebenarnya membersihkan ruangan seperti ini sama sekali bukanlah tugas Alvin karena tugas Alvin hanyalah mencatat pesanan dan juga mengantar menu pesanan pada para pengunjung.
Hanya saja menurut kabar yang baru saja Alvin terima, salah satu dari lima petugas kebersihan yang bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan hari ini sedang mengambil izin libur karena sakit dan itu membuat Alvin merasa harus membantu orang-orang itu.
Saat ini Alvin ada di ruangan terakhir yang harus ia bersihkan. Ia mulai membersihkan meja dan lantai ruangan. Dengan sabar Alvin mengumpulkan botol dan kaleng kosong juga gelas-gelas kotor yang berserakan sampai tiba-tiba saja Mr. Robert, manajer dari klub malam itu datang dan menghentikannya perkerjaannya.
"Ini adalah hari pertamamu. Dan kau sudah bekerja lembur malam ini." ujar Mr. Robert tersenyum pada Alvin. "Ini bukanlah tugasmu, Alvin. Tempat ini sudah membayar seluruh petugas bagian kebersihan itu dan mereka harus mengerjakan tugasnya."
"Ah, itu.. saya hanya sedang mencoba untuk membantu mereka. Tadi me-"
"Cepat keluar dari ruangan ini." ujar Mr. Robert tegas.
"Tapi, mereka ha-"
"Mereka akan baik-baik saja tanpamu. Sebelum kau masuk bekerja di sini, semua ini adalah hal biasa. Ini adalah pekerjaan mereka. Setiap malam mereka memang melakukan ini." jelas tuan Robert.
"Aku tidak masa-"
"Aku tahu kau lelah, Alvin. Bukannya aku tidak tahu kalau kau sudah mengerjakan ruangan lain sebelumnya." Mr. Robert segera memotong ucapan Alvin itu. Ia lalu mulai melangkah keluar dari ruangan itu. " Kau bisa pulang, sekarang. Dan ini adalah perintah dari atasanmu!" lanjutnya.
Alvin akhirnya menyerah. Ia menghela pelan dan meletakkan baki berisi barang-barang kotor baru kemudian berjalan keluar ruangan menuju ruang loker karyawan untuk mengganti pakaiannya.
Setelah bersiap-siap dan mengganti pakaiannya, Alvin pamit pada beberapa rekan kerja barunya yang masih berada di tempat itu. Baru kemudian berjalan keluar dari klub malam untuk segera pulang.
Alvin menggosok kedua telapak tangannya sambil sesekali meniupnya karena mulai terasa kedinginan akibat udara malam yang menerpanya. Di tambah lagi dengan rintik gerimis yang mulai turun.
Dan tepat ketika Alvin hendak melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, sebuah suara terdengar di telinganya.
"Hei, kau!" seru seseorang.
Alvin menoleh dan mendapati seorang gadis tengah berdiri tidak jauh darinya.
Tunggu dulu. Bukankah gadis itu adalah gadis yang ada di dalam tadi. Gadis seksi di private party tadi? Kalau tidak salah dia gadis yang bernama Ziva. Tapi apa dia baru saja memanggil Alvin?
Alvin menoleh kanan dan kirinya, mencoba untuk memastikan apakah dirinya yang di panggil. Barangkali gadis itu bukan memanggilnya tapi memanggil orang lain.
"Hai kau, kenapa kau hanya diam di sana? Cepatlah kau kemari!" gadis bernama Ziva itu bicara lagi.
Alvin menunjuk dirinya sendiri dengan canggung. "Apa anda bicara denganku?"
"Tentu saja denganmu, memangnya dengan siapa lagi. Cepatlah kemari!" ujar Ziva dengan nada kesal.
__ADS_1
Alvin mengangguk dan segera menghampiri wanita itu dengan setengah berlari.
"Ada apa, nona?" tanya Alvin setelah sampai di hadapan Ziva.
"Kau, kau ini pelayan yang tadi kan?" Ziva bertanya pada Alvin memastikan ingatanya.
Alvin mengangguk. "Ya, benar."
Ziva lalu menoleh ke belakang dan menunjuk ke arah seorang gadis yang terlihat tengah duduk menyandar dengan kepala menunduk di ban mobil, mungkin dia sudah pingsan.
"Begini... aku sedang butuh bantuanmu. Temanku itu sedang mabuk berat dan aku tidak kuat untuk mengangkatnya, jadi..." Ziva diam sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Mmm... jadi bisakah kau membantuku untuk mengangkatnya ke dalam mobil?"
Alvin lalu menoleh dan menatap kaku pada gadis yang tengah duduk di aspal itu. Ia lalu menunjuk gadis yang di maksud oleh Ziva barusan.
"Anda ingin aku mengangkatnya?" tanya Alvin.
Ziva mengangguk. "Ya!"
"A-aku, tapi aku-"
"Ayolah!" bujuk Ziva dengan nada memohon. "Tunggu sebentar, oke!"
Ziva kemudian berlari ke arah teman wanitanya yang sudah mabuk berat itu. Ia menggoyang-goyangkan bahunya, berusaha untuk membangunkan sebisanya.
"Eve, bangunlah!" ujar Ziva sambil menepuk pelan pipi Evelyn, mencoba untuk membangunkan sahabatnya itu.
"Dengar! Pelayan ini akan membantuku agar aku bisa membawamu pulang. Dia juga akan menggendongmu nanti. Tidak apa-apa kan?"
Gadis itu mengangguk tanpa mengangkat kepalanya dan hanya mengibaskan tangannya pelan. Namun sedetik kemudian, gadis itu secara tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Terserah saja." jawabnya lalu menatap ke arah Alvin.
Begitu melihat siapa gadis itu, saat itulah kedua mata Alvin sontak membulat. Tubuh Alvin terasa membeku di tempat ia berdiri saat ini. Ia melongo. Alvin bahkan hampir tak bisa menutup mulutnya lagi saat tatapan mata mereka saling bertemu, lidahnya kini seketika menjadi kelu. Alvin buru-buru menyadarkan dirinya dari keterkejutannya kemudian dengan susah payah ia berusaha untuk menelan ludahnya.
Gadis ini? Bukankah dia ini gadis cantik yang ada di private party tadi. Dia adalah gadis yang sama yang sudah berhasil membuat jantung Alvin berdetak tak karuan.
Alvin hendak membuka mulutnya untuk bicara, namun ia terkejut saat Ziva menjentikkan jarinya tepat di depan wajahnya.
"Hei!" ujar Ziva.
"Y-ya?" Alvin tersadar.
"Aku bertanya, kau mau membantuku kan?" tanya Ziva, mencoba memastikan.
"A-aku..." Alvin berujar ragu sambil menatap pada Evelyn untuk beberapa saat baru kemudian ia menghela napasnya pasrah. "Baiklah!"
__ADS_1
Ziva tersenyum senang. "Terima kasih sebelumnya. Ah... dan ini uang untukmu!"
"Ini untuk apa?"
"Sebagai bayaran atas kesanggupanmu."
"Ah, tidak perlu, nona!" tolak Alvin menggeleng dengan cepat sambil mendorong tangan Ziva sebagai bentuk penolakan.
"Apa yang kau lakukan? Cepat ambil." ujar gadis itu memberikan uang itu pada Alvin dengan paksa. "Oke, kau tunggu di sini dulu, aku akan mengambil mobilku terlebih dahulu di sana. Jadi tolong kau jaga dia sebentar!"
Ziva kemudian melangkah meninggalkan Alvin dan Evelyn berdua untuk mengambil mobilnya. Setelah kepergian Ziva, keadaan di tempat itu berubah jadi hening dan hanya menyisakan mereka berdua.
Di tengah keheningan sesekali Alvin melirik pada Evelyn yang ada di hadapannya. Ia berharap di dalam hatinya bisa melihat wajah dari gadis cantik yang kini tengah menundukkan kepalanya itu.
"Nona, apa anda tidak apa-apa?" tanya Alvin pada gadis itu sebagai basa-basi.
Gadis itu tak menjawab.
Sedetik kemudian, pandangan Alvin turun dan menatap pakaian yang di kenakan oleh wanita itu. 'Malam-malam begini, kenapa dia harus mengenakan pakaian setipis ini.' batinnya.
Alvin lalu melangkah mendekat pada Evelyn sambil melepas jaket yang ia kenakan, baru kemudian Alvin memasangkannya ke tubuh gadis itu. Namun saat Alvin tengah fokus memasang jaketnya pada gadis itu, tiba-tiba saja Evelyn mengangkat kepalanya, menatap Alvin.
"Kau?" ujarnya Evelyn menatap Alvin datar dan membuat Alvin terkejut setengah mati.
"A-aku hanya memasangkan jaket. Bukan ingin berbuat macam-macam pada-"
"Aku menabrakmu waktu itu, apa kau tak ingat?" Evelyn menghela manja. "Bagaimana kau bisa melupakannya?"
"Ya?"
Evelyn mengangkat tangannya untuk menepuk pipi Alvin.
"Apa kau tahu, wajahmu itu tampan sekali. Bagaimana kalau aku menidurimu?" racau Evelyn di tengah ketidaksadarannya.
"Apa yang-"
"Sssttt!" ucapan Alvin langsung terpotong saat jari telunjuk Evelyn menekan bibirnya, mencoba menghentikan perkataannya. Evelyn lalu tersenyum, "Jangan mengatakan apapun, oke!"
Belum sempat Alvin menjawab perkataan Evelyn itu, ia langsung melebarkan matanya, kaget saat dengan tiba-tiba Evelyn menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya pada bibir Alvin. Evelyn mulai ******* bibir Alvin dengan lembut.
Alvin masih sadar dan tak ingin dianggap mengambil kesempatan. Ia mencoba mendorong kedua bahu Evelyn untuk melepaskan diri. Namun gadis itu justru semakin menarik tengkuk Alvin dan memperdalam ciumannya hingga membuat pemuda itu sedikit ngos-ngosan karena sedikit kehabisan napas.
Namun di detik berikutnya, tarikan kuat pada tengkuk Alvin itu melemas dan kemudian terlepas. Alvin hanya bisa mengerjap bingung saat tiba-tiba saja gadis itu melepas ciumannya pada bibir Alvin.
Alvin memegang bibirnya sebentar lalu menatap kaget saat menemukan wanita itu yang sudah tergeletak di atas aspal.
__ADS_1
Wanita itu pingsan.
***