Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
70. Salah Paham Lagi


__ADS_3

Karina memasuki mobil milik kekasihnya, Steve dengan senyuman kecilnya.


"Terima kasih sudah datang untuk menjemputku hari ini, sayang." ujar Karina sembari meletakkan barang-barangnya barulah kemudian menutup pintu mobil.


"Ya sayang, aku langsung menjemputmu kesini setelah selesai berolahraga dan mandi."


"Maaf ya karena sudah merepotkanmu." Karina memasang raut tak enak. "Sebenarnya mobilku tadi di bawa oleh adikku dan sampai sekarang dia belum juga kembali."


"Aku sama sekali tak masalah sayang. Aku bisa dengan cepat menjemputmu dimana saja kau berada."


Karina hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Steve pada Karina.


Gadis itu kembali mengangguk dan dengan sigap memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai melaju di jalan raya.


Karina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil sembari menolehkan pandangannya keluar jendela. Ia menatap pada jalanan di depannya yang saat ini tengah ramai oleh kendaraan.


Namun bukan kendaraan yang menjadi fokusnya saat ini, melainkan seseorang yang beberapa hari ini terus saja mengisi pikirannya.


Itu adalah Alvin.


Alvin sendiri adalah seseorang yang sudah Karina campakan, tapi entah kenapa setelah mereka berpisah, bayangan mantan kekasihnya itu selalu saja muncul di kepalanya. Karina juga tak paham pada dirinya sendiri. Ia tak tahu kenapa ia jadi memikirkan mantan kekasihnya itu terus menerus padahal toh mereka telah putus.


Karina bahkan terus saja mengingat saat ia merawat Alvin di rumah pribadi milik pemuda itu. Jujur saja, malam itu adalah malam istimewa bagi Karina sendiri. Ia tak pernah merasa begitu bahagia melihat wajah Alvin dengan jarak sedekat itu.


Akhirnya, karena terlalu fokus memikirkan Alvin, Karina bahkan sudah tak mendengarkan Steve yang tengah bicara padanya.


"Karina, aku bicara padamu." ujar Steve. Namun tak ada tanggapan dari gadis itu.


Steve mengerutkan alisnya heran saat melihat Karina yang tengah senyum-senyum sendiri sembari menatap jalan raya di depannya.


"Karina?" seru Steve lagi.


Masih tak ada tanggapan apapun dari kekasihnya itu.


Steve yang merasa Karina sedang asyik sendiri dan tak kunjung menjawab perkataannya akhirnya merasa kesal.


"Rin!" seru Steve nyaring.


Karina yang tengah melamun langsung saja tersentak oleh seruan kekasihnya itu.


"Iya, Vin?"


Steve sontak terhenyak mendengar jawaban dari gadis itu. Bibir pemuda itu mengatup rapat saat mendengar nama siapa yang baru saja Karina sebut.


"Apa?" ujar Steve yang seolah tak percaya dengan pendengarannya. Steve menatap Karina dengan tatapan tajam. Apa gadis itu baru saja salah bicara?


"Siapa kau bilang? Nama siapa yang kau sebut?"


"Hah?"


"Vin, barusan kau bilang Vin, kan??" tanya Steve, mencoba untuk memastikan pendengarannya.


"Aku bilang begitu?"


"Benar." Steve masih menatap Karina dengan tatapan tajamnya. "Nama siapa yang kau sebut barusan?"


Karina buru-buru tersenyum, meskipun tampak canggung.


"Maksudku tadi aku namamu. Aku memanggil Steve, sayang."

__ADS_1


"Ck, benarkah?"


"Ya!"


Steve mendecih kesal karena Karina tak mau mengaku, "Tidak Karina, aku bisa mendengar dengan jelas, kau tadi menyebut, Vin!"


Karina meruntuki dirinya sendiri. Ini pasti terjadi karena ia memikirkan Alvin sepanjang perjalanan. Habislah sudah. Ia yakin kalau Steve pasti sungguh kesal. Lagipula kenapa juga ia bisa sampai salah menyebut nama, sih?


Steve memberhentikkan mobil yang ia kendarai ke pinggir jalan.


"Steve, kenapa berhenti di sini?" Karina menoleh kanan dan kiri jalan.


Steve tak menjawab. Ia mengetuk-ngetuk stir yang ia genggam dengan raut wajah kesal.


"Jelaskan!" ujar Steve tajam, matanya menatap Karina seolah ia butuh lebih dari sekedar penjelasan.


"Apa yang harus aku jelaskan?"


"Semuanya."


"Steve!"


"Karina! Lebih baik kau jujur saja, yang kau maksud barusan itu Alvin, ya kan?"


Skakmat!


Tebakan Steve langsung pada intinya.


"Benar kan?"


Karina menatap Steve dengan tak enak. Haruskah ia jujur saja. Tapi ia yakin Steve pasti akan sangat marah.


Dengan lembut Karina meraih sebelah tangan pemuda itu.


"Penjelasan?" Steve dengan cepat menyentak tangan Karina yang mencoba untuk menyentuhnya. "Kau ingin menjelaskan kalau barusan kau sedang memikirkan dia, begitu kan?"


"Steve!"


"Luar biasa, Karina. Pemuda bodoh itu sepertinya sudah berhasil membuatmu tergila-gila lagi. Kenapa, apa kau menyesal sudah putus darinya?"


Karina menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu, sayang. Aku tadi itu hanya-"


"Kenapa kau masih saja memikirkan pemuda bodoh itu, sih! Apa kau lupa kalau kalian itu sudah berpisah beberapa waktu lalu. Dan apakah kau lupa kalau kekasihmu sekarang adalah aku?"


"Iya, aku tau. Aku bisa ingat itu dengan jelas."


Steve menghembuskan napasnya kasar. "Lalu kenapa kau malah memikirkan dia?"


"Aku tak memikirkan dia."


"Lalu apa? Kau memikirkanku? Lantas kenapa malah menyebut namanya?"


"Ini hanya kesalahan penyebutan yang-"


"Cih. Ini bukan kesalahan penyebutan, Karina. Kau jelas sedang memikirkan dia, Karina. Itu sebabnya kau sudah tanpa sengaja menyebut namanya tadi."


"Kau tau Karina, aku sudah tau semuanya."


Karina tak menjawab, gadis itu hanya diam menunggu hal apa yang akan dikatakan oleh Steve selanjutnya.


"Sudah beberapa kali aku menyaksikan kau diam-diam bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa? Kau kaget aku bisa tau semua itu?"


"Aku tidak pernah diam-diam menemuinya. Kau mulai menuduhku macam-macam."


"Benarkah? Lalu siapa yang berduaan di dalam toilet? Siapa yang mengantarkan mantannya ke kampus dan siapa yang salah sebut nama? Semua itu kau lakukan dan kau mau aku tetap membiarkan, begitu?"


Sejujurnya, Karina terkejut Steve bisa mengetahui semua itu. Bahkan pertemuannya dengan Alvin di toilet waktu itu Steve juga tahu.


"Ini hanya masalah salah sebut nama Steve, kenapa kau jadi begitu berlebihan dengan membahas banyak hal begini."


"Aku berlebihan?" Steve menatap sebal pada Karina.


"Steve ini hanya salah paham."


"Ini bukan salah paham. Karina ini bukan hanya sekedar salah sebut nama. Alvin itu mantanmu, Rin. Dari jutaan nama di dunia ini kenapa kamu malah menyebut namanya?"


"Oke, oke, maaf!" pinta Karina.


"Dan kau mengakhiri semua ini dengan kata maaf saja?"


"Kau mau apa memangnya?"


Mendapat tantangan seperti itu, Steve terdiam. Ia tak tahu apa yang dia mau setelah insiden ini.


"Sialán!" umpat Steve memukul kencang stir mobilnya dan kembali melajukan mobilnya menuju kampus dengan kesal


***


Steve membanting pintu mobil dengan keras. Ia tak peduli Karina yang terkejut. Ia sungguh kesal karena merasa Alvin berusaha mendekati Karina lagi. Ia sudah jauh di atas kesal sekarang.


Pertama ia melihat Karina bersama Alvin di toilet. Kedua, Karina mengantakan Alvin ke kampus dan sekarang gadis itu menyebut nama Alvin tepat di depannya.


Steve bahkan mengabaikan Karina yang tengah memanggil-manggil namanya di belakang.


Dengan kesal Steve datang menuju ke tempat kelompoknya biasa berada.


"Ada apa denganmu, Steve?" tanya teman sekelompok Steve.


"Sumpek!"


"Kenapa?"


"Karina dan Alvin, kurasa mereka akan kembali bersama lagi."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Si bodoh itu terus saja mendekati Karina. Aku muak melihat mereka terus bersama. Karina bahkan melamunkannya."


"Ck, kenapa kau harus semarah ini."


"Tentu saja aku marah."


"Lebih baik kau santai saja, Steve. Urusan seperti ini adalah masalah kecil."


"Benar, itu urusan gampang." timpal yang lainnya.


"Apanya yang gampang."


"Balas saja dia. Beri saja dia pelajaran." tandas teman Steve yang lain. "Aku ada rencana untuk membantumu."


***

__ADS_1


__ADS_2