Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
16. Pesta


__ADS_3

"Bukankah dia tampan? Maksudku lihatlah wajahnya itu." ujar Helena, tepat setelah kepergian pelayan berwajah tampan nan rupawan tadi.


"Bukan tampan, tapi sangat tampan." jawab gadis lainnya.


"Tubuhnya juga wangi."


"Aku setuju. Astaga, aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya bahkan hanya dengan melewatinya saja. Ah, aku sangat ingin mencium wangi itu setiap hari." timpal Helena gemas.


"Tapi sayang, sepertinya pelayan tampan itu hanya tertarik pada Evelyn saja." sambung gadis berambut blode.


"Benar. Apa kalian lihat tadi? Dia terus saja menatap Evelyn tanpa berkedip padahal saat itu aku sedang sibuk menggodanya. Menyebalkan sekali." ujar Helena sinis.


"Ah, aku iri sekali pada Evelyn. Dia selalu menggoda pria yang kita sukai bahkan tanpa melakukan apa-apa." jawab gadis lain membuat ekspresi cemberut.


Evelyn terkekeh, menanggapi. "Ya, benar. Aku sama sekali tidak menggodanya tapi dia tetap tergoda. Jadi, lebih baik salahkan saja diri kalian yang gagal menggodanya." ejek Evelyn.


"Apa yang kalian bicarakan? Aku justru merasakan kalau Evelyn-lah yang sebenarnya tertarik pada pelayan itu." sambung Ziva mengedipkan sebelah matanya pada Evelyn untuk menggoda gadis itu.


"Aku?" Evelyn menunjuk dirinya sendiri dan langsung dibalas anggukan oleh Ziva.


"Ya, kau menatap pelayan itu dengan tatapan lapar."


"Apa yang kau katakan?" Evelyn menggaruk tengkungnya canggung.


"Kau tidak bisa menutupinya dariku." balas Ziva lagi.


"Hai, ada apa dengan kalian. Dia itu kan hanya pelayan, kenapa kalian harus memujinya sampai berlebihan seperti itu!" ujar salah satu teman pria yang duduk tidak jauh dari mereka, tampak mulai bosan dengan topik pembicaraan tentang pelayan ini.


"Kau hanya iri, Sean. Kau juga pasti menyadari kalau dia itu memang tampan. Bahkan jauh lebih tampan darimu." ujar Ziva mengejek teman lelakinya itu sambil sesekali bermesraan dengan kekasihnya yang duduk di sebelahnya.


"Cih, mau tampan seperti apapun. Tetap saja, dia itu hanyalah seorang pelayan." jawab Sean yang masih tak mau kalah dan membuat para gadis itu tertawa karena melihat ekspresi kecemburuan di wajah lelaki itu.


Ziva lalu menoleh pada Evelyn. Gadis itu hanya duduk diam di posisinya sekarang. Seolah tak tertarik untuk mengatakan apapun.


Evelyn bahkan tak mengatakan apapun untuk menyanggah ucapan Ziva saat ia menggodanya tadi. Evelyn juga lebih banyak diam, mendengarkan teman-temannya bicara. Itu agak aneh, karena biasanya saat mereka berkumpul seperti ini Evelyn selalu jadi seseorang yang banyak bicara.


Menyadari keanehan dari sahabatnya itu, Ziva akhirnya bangkit lalu berpindah posisi agar bisa duduk tepat di sebelah Evelyn yang entah kenapa sejak tadi hanya duduk diam, melamun dengan mata yang terus melirik ke arah pintu.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Ziva sambil memegang lengan dari sahabatnya itu dan di balas Evelyn dengan tatapan bingung.


"Kenapa denganku?"


"Kau hanya diam saja? Apa kau sedang sakit?"


Evelyn tersenyum sekilas pada Ziva lalu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja."


"Kau yakin?" tanya Ziva, menatap khawatir pada Evelyn. "Kau tampak melamun dan juga sangat diam malam ini. Apa ada yang mengganggu pikiranmu saat ini?"

__ADS_1


Ziva mencoba mencari tahu penyebab dari kegalauan sahabatnya itu. Evelyn tak pernah diam saat ada pesta. Dia tipe orang yang selalu meramaikan suasana.


Evelyn menghela pelan lalu menatap Ziva lekat. Sahabatnya ini memang yang paling mengerti dirinya.


"Ya, sebenarnya memang ada yang mengganggu pikiranku." ujar Evelyn mengalah.


"Sudah kuduga." Ziva tersenyum puas.


"Memang ada yang mengganggu, tapi ini bukan tentangku."


Ziva mengernyitkan alisnya bingung. "Lalu mengenai apa? Ah, apa tentang kekasih barumu?"


Evelyn menggeleng. "Bukan."


"Lantas? Siapakah orang yang sudah membuat sahabatku jadi galau seperti ini." canda Ziva.


"Ini... ini tentang pelayan itu." ujar Evelyn pelan setelah beberapa detik. Suaranya sangat pelan, hampir berbisik, seperti tidak ingin di dengar oleh siapapun selain mereka.


"Pelayan? Apa maksudmu pelayan tampan yang baru saja mengantar minuman kita tadi?" tanya Ziva, Evelyn mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Ya, ini tentang dia."


"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Ziva semakin bingung dan penasaran.


Evelyn menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan sebelum menjawab pertanyaan Ziva itu. "Sebenarnya, aku pernah bertemu dengannya di tempat lain, sebelum ini, maksudku sebelum malam ini." jelas Evelyn.


"Wow, benarkah itu?" Ziva berujar kaget. "Kapankah itu?"


"Apa? Menabraknya?"


"Ya, hampir saja."


"Lalu bagaimana? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?" tanya Ziva terkejut. "Tapi dia terlihat baik-baik saja. Aku juga tidak melihat satu pun luka di tubuhnya." gumamnya sambil mencoba mengingat-ingat lagi.


Evelyn menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, dia memang tidak terluka. Sudah kukatakan tadi kalau mobilku hanya hampir menabraknya."


"Begitu rupanya."


Evelyn kembali terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi aku rasa dia sama sekali tidak mengingatku sebagai pemilik mobil yang hampir menabraknya sore itu."


"Oh, bukankah itu bagus jika dia tak mengingatmu?" Ziva berujar heran. "Lagipula saat itu kau hanya hampir menabraknya, bukan benar-benar menabraknya. Dia juga tak terluka sama sekali, lalu apa masalahnya?"


"Justru itulah masalahnya. Itulah yang membuatku kesal, Ziva. Fakta bahwa dia bisa dengan mudahnya melupakan aku. Itulah yang membuatku tak terima." terang Evelyn dengan raut kesal.


"Tapi kenapa itu harus membuatmu kesal." tanya Ziva semakin heran.


"Masalah itu..."

__ADS_1


Evelyn tersenyum canggung. Bagaimana dia bisa mengatakan pada Ziva kalau dia sangat kecewa karena pemuda itu tak mengingatnya sama sakali. Bayangkan, di mata orang lain, Evelyn adalah orang penting dan tak mungkin akan dengan mudah dilupakan begitu saja.


Tapi jauh berbeda dengan pemuda ini. Hanya beberapa hari setelah pertemuan mereka dia sudah tak mengenali wajah Evelyn. Entah kenapa, tapi itu membuat Evelyn sedikit... patah hati.


Evelyn merasa begitu kecewa untuk yang pertama kali dalam hidupnya.


Ziva menatap sahabatnya lekat-lekat kemudian mendekatkan wajahnya pada Evelyn dan berbisik. "Apa kau tertarik padanya?"


Pertanyaan Ziva itu berhasil membuat tubuh Evelyn menegang. Ekspresi wajahnya berubah jadi canggung.


"Hah?"


"Bisa jadi kau menyukainya, tapi dia malah melupakanmu dan membuatmu kecewa dan marah, apakah begitu?"


"Itu... tidak mungkin." Evelyn meringis canggung. Ucapan Ziva seratus persen benar.


"Apanya yang tidak mungkin."


"Tidak mungkin aku menyukainya!"


"Kenapa?"


Evelyn terdiam. Ia lalu menghela napasnya pelan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya sambil mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa, Ziva. Lupakan saja."


"Baiklah." Ziva menggedikkan bahunya santai. Ya, walaupun jawaban Evelyn itu masih menggantung dan membuatnya jadi penasaran, tapi Ziva juga tidak berhak memaksa sahabatnya itu untuk menceritakan kisahnya.


Setelah pembicaan kecil itu, Evelyn menenggak minumannya dan kembali menghela nafasnya pelan. Evelyn bingung. Bagaimana mengatakan pada Ziva kalau ia patah hati karena orang yang dia sukai justru tak ingat wajahnya? Harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan Ziva menertawainya.


Ya, Evelyn menyukai pelayan itu. Entah bagaimana bisa. Padahal mereka baru dua kali bertemu tapi Evelyn sudah tertarik padanya.


Ziva kembali menatap Evelyn. "Tapi aku sedikit penasaran. Bukankah sebelumnya kau tidak pernah memberi uang tip pada pelayan di klub malam milik ayahmu. Namun pemuda itu mendapatkannya. Apa karena insiden kecelakan itu?"


"Kurang lebih. Walaupun aku tidak menabraknya, tapi rasa bersalahku padanya masih ada." jelas Evelyn sambil menenggak minuman di tangannya.


Evelyn lalu kembali menoleh ke arah pintu, tempat pelayan tampan tadi keluar.


'Sebenarnya masalahnya adalah... pria itu memang sudah berhasil mencuri perhatianku tapi aku masih ragu dan juga malu untuk memberitahu Ziva.' ujar Evelyn dalam hati.


Disaat Evelyn masih gelisah dengan dirinya sendiri, Ziva tiba-tiba saja sambil mengangkat gelas minuman miliknya.


"Oke semuanya! Malam ini adalah saatnya kita bersenang -senang." seru Ziva nyaring.


Semua orang ikut mengangkat gelas sambil tertawa senang. Ziva menoleh pada Evelyn yang belum juga mengangkat gelasnya, masih melamun.


"Hei, apa yang kau tunggu, Evelyn? Ayo cepat angkat gelasmu." ujar Ziva sambil membantu mengangkat tangan Evelyn yang memegang gelas.


Evelyn tersenyum saat Ziva mengangkat gelas minumannya ke atas.

__ADS_1


"Oke, oke, mari bersulang." ujar Evelyn pada teman-temannya.


***


__ADS_2