
Evelyn menegak habis minuman dari gelasnya. Entah ini sudah gelas keberapa yang ia habiskan malam ini. Ia sudah tak ingat lagi. Sejak tadi Evelyn hanya minum dan terus minum sementara teman-temannya yang lain asyik mengobrol satu sama lain.
Evelyn kembali mengisi gelas kosong miliknya dan langsung menghabiskannya dalam sekali tenggak.
Ziva melirik sekilas pada Evelyn tepat saat gadis itu hendak kembali menuang minuman ke dalam gelasnya untuk yang kesekian kalinya.
"Apa yang dia lakukan?" gerutu Ziva. Sebenarnya sejak tadi Ziva sudah memperhatikan sahabatnya itu yang kerjanya hanya minum saja.
"Evelyn, hei, apa yang kau lakukan."
"Minum." jawab Evelyn santai.
"Letakkan itu. Kau sudah terlalu banyak minum." ujar Ziva hendak menarik botol minuman dari tangan Evelyn.
"Tidak apa-apa. Aku ini kuat minum. Kau lupa?" ujar Evelyn sambil menepis tangan Ziva.
Ziva memutar bola matanya malas.
"Ya aku tau. Tapi sekuat apapun, kalau kau minum sebanyak itu tetap saja kau akan mabuk juga. Ayo, berhenti dulu."
Tangan Ziva yang bergerak ingin mengambil kembali botol minuman milik sahabatnya itu harus kembali di tepis oleh gadis itu.
"Ada apa denganmu, Ziva." omel Evelyn.
"Melarangmu mabuk! Apalagi memangnya?"
"Ck, bukankah tujuan awal kita datang kemari untuk bersenang-senang. Jadi ayo bersenang-senang dan berhentilah menggangguku!" gerutu Evelyn.
"Aku akan berhenti menganggumu, tapi kau harus berjanji ini adalah botol terakhirmu. Dan setelah botol ini kau harus berhenti minum." paksa Ziva menatap sengit sahabatnya itu. Ayolah, Ziva hanya tak ingin sahabatnya itu nanti kesusahan.
"Baiklah.. baiklah.." ujar Evelyn dengan nada malas.
"Kau bawa supir, Eve?" ucap seorang lelaki yang duduk di dekat mereka dan sejak tadi hanya fokus mendengarkan percakapan Evelyn dan Ziva.
Dia adalah Fernando, seorang pengusaha yang di kenal sebagai orang yang kaya raya. Fernando diketahui memang sudah sejak lama menyukai Evelyn tapi Evelyn memang tak tertarik sama sekali padanya. Evelyn hanya menganggap Fernando sebagai salah satu kenalan biasa.
Evelyn menggeleng sebagai jawaban. "Aku datang bersama Ziva tadi." jawabnya singkat.
"Apa kau mau ku antar pulang?" tawar Fernando.
"Tidak perlu." Evelyn mengibaskan tangannya acuh dan langsung membuat Fernando tersenyum kecewa.
__ADS_1
Mendengar penolakan dari Evelyn pada pemuda itu, Ziva langsung mendecih sinis dan menggelengkan kepalanya pelan.
Ziva tahu benar sifat dari sahabat baiknya itu. Jika gadis itu tidak tertarik pada seseorang, jangankan untuk pulang bersama, kehadirannya saja Evelyn tidak akan peduli.
"Kau menolaknya lagi?" bisik Ziva.
Evelyn menggedikkan bahunya acuh. "Tentu saja. Aku ini bukan wanita murahan. Aku tidak akan pulang dengan sembarangan orang."
Ziva mendengus sinis.
Bagaimana Evelyn bisa mengatakan hal konyol itu jika seminggu yang lalu ia bahkan pulang dengan seseorang yang bahkan baru ia kenal di klub malam yang berbeda.
"Katakan itu pada lelaki yang kau tiduri lima malam lalu!" ejek Ziva sambil menegak minumannya.
"Aku tidak menidurinya, oke! Jadi jangan bicara sembarangan!" protes Evelyn kesal.
"Wow, benarkah?" Ziva jelas tak percaya pada sahabatnya itu.
"Hei, aku memang tak menidurinya, aku tidak berbohong padamu. Sudah aku katakan berulang kali padamu kalau aku sama sekali tidak berselera pada Fernando." ujar Evelyn malas sambil memutar-mutar gelas minuman di tangannya, menatap busa kecil dari minuman yang ada di dalam gelas itu.
"Aku jadi penasaran lelaki seperti apakah yang akan membuatmu berselera." ujar Ziva lalu mendekatkan dirinya pada Evelyn, menyenggol lengan sahabatnya itu. "Aku tau! Apa jangan-jangan yang seperti pelayan tampan itu?"
Evelyn sontak menoleh dan menatap tajam pada Ziva. "Apa yang kau bicarakan? Berhentilah bicara sembarangan. Kau bisa membuat rumor diantara teman-teman kita nanti."
Evelyn kini terdiam, termangu di posisinya.
'Ya, jika aku bisa jujur pada Ziva, sebenarnya aku memang tertarik pada pelayan itu.' batin Evelyn.
Evelyn akui kalau ia memang sangat tertarik dengan pelayan itu, entah kenapa. Ia hanya merasa terhubung dengan pemuda itu. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya pada Ziva.
Dan ya, demi menjaga harga dirinya itu, Evelyn tentu mencoba mengontrol sikapnya karena ia tidak ingin terlihat kalau memang sedang tertarik pada pelayan itu.
Setelah beberapa saat berlalu, acara malam itu berakhir juga. Semua orang berpamitan. Dan mulai meninggalkan ruangan itu satu per satu.
Tampak beberapa dari mereka pulang dalam keadaan mabuk berat. Bahkan beberapa lainnya ada yang sudah kehilangan kesadaran karena terlalu banyak minum di pesta itu.
Ziva yang sejak tadi fokus mengobrol dengan kekasihnya menoleh, menatap pada Evelyn yang ternyata juga sudah terlihat mabuk berat.
Melihat kondisi Evelyn saat ini Ziva langsung mendengus kesal.
"Bukankah tadi dia mengatakan kalau dia tidak akan mabuk." gerutunya.
__ADS_1
Evelyn membuka sedikit matanya dan melihat ruangan yang sudah mulai sepi.
"Apa acaranya sudah selesai?"
"Sudah dari tadi. Semua orang bahkan sudah pulang sekarang." jawab Ziva malas.
"Kalau begitu aku juga akan pulang sekarang." ujar Evelyn mencoba bangkit dari duduknya namun gagal.
Ziva buru-buru bangkit dari duduknya untuk membantu Evelyn berdiri.
"Hati-hati, Eve! Kau sangat mabuk sekarang."
"Semua sudah selesai, kan?" gumam Evelyn lagi.
"Iya! Ayo kita pulang. Kalau tidak kau akan tidur di tempat ini nanti. Sayang, tolong kau bawakan tasku, ya!" pinta Ziva pada kekasihnya lalu mulai kembali membantu Evelyn berdiri.
Sebenarnya Evelyn masih memiliki sedikit kesadaran bahkan masih bisa berjalan meskipun langkahnya terlihat agak sempoyongan.
"Aku akan mengantarkan pacarku dulu, oke!" ujar Ziva pada Evelyn sesampainya mereka di area parkir.
"Hm."
"Dengar, kau tunggu disini dulu sebentar, oke! Hanya sebentar." ujar Ziva sambil meninggalkan Evelyn di dekat anak tangga.
"Ya, pergilah dulu." ujar Evelyn mengibaskan tangannya malas.
Evelyn melangkahkan kakinya perlahan menyusuri area parkir. Ia tampak menyandarkan punggungnya pada sebuah mobil yang entah milik siapa, sembari memijit kepalanya yang terasa sangat pusing.
Ziva segera mengantarkan kekasihnya menuju ke tempat lelaki itu memarkirkan mobil. Ia mengecup pipi kekasihnya sebagai tanda perpisahan karena Ziva memang memintanya untuk pulang lebih dulu dan tidak perlu menunggunya karena ia memang membawa mobil sendiri.
"Kau yakin tidak mau ku antar sayang?" tanya kekasih Ziva mencoba memastikan.
Ziva mengangguk mantap.
"Ya, aku harus mengantar Evelyn pulang terlebih dahulu. Aku harus bertanggung jawab karena dia datang bersamaku tadi." ujar Ziva.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." pamitnya.
Ziva melambaikan tangannya pada mobil kekasihnya yang mulai pergi meninggalkan area klub malam itu. Setelah itu Ziva lalu memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah sangat malam.
Namun begitu ia menolehkan pandangan kembali pada Evelyn, Ziva terkejut setengah mati saat melihat sahabatnya itu sudah duduk menyandar di dekat ban mobil milik orang lain dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Hei, Evelyn Apa yang kau lakukan. Jangan tidur di situ." pekik Ziva panik.
***