Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
53. Bantuan Daniel


__ADS_3

Monika tersenyum kecut pada lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia kesal. Usahanya untuk menggoda pelayan tampan ini harus kembali gagal karena kedatangan lelaki itu.


Alvin turut menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda tampak berdiri di hadapan mereka sembari memegang sepuntung rokok di tangannya.


Alis Alvin tampak mengerut saat melihat siapa pemuda itu. Dia adalah pemuda yang beberapa waktu lalu berada di ruangan yang sama dengan Evelyn.


"Apa aku salah masuk ruangan?" gumam lelaki itu menatap area sekitarnya. Ia lalu menggedikkan bahunya santai. "Aku rasa tidak. Aku tidak salah ruangan. Ini memang toilet."


Setelah bicara dengan dirinya sendiri, lelaki itu lalu menatap kembali ke arah Alvin dan Monika. "Lantas kenapa ada orang yang tidak tahu tempat ingin berbuat mesum di sini?" gumamnya.


Mendengar tuduhan itu, Alvin dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Maaf, anda salah paham. Saya bahkan tidak melakukan hal mesum apapun di sini"


"Memangnya apa urusanmu?" sanggah Monika.


Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"


Monika menatap lelaki itu dengan tatapan menantang. "Aku bertanya, memangnya apa urusanmu. Dimana pun aku mau melakukannya, bukankah itu urusanku. Apa ada masalah?"


Lelaki itu tak menjawab. Hanya menatap Monika sekilas lalu beralih pada Alvin, menatap pemuda ini lekat-lekat.


"Ah, kau!" ujar lelaki itu sembari menunjuk ke arah Alvin sama sekali tak mengindahkan perkataan yang Monika lontarkan padanya. "Kau ini kan pelayan yang tadi sempat mengantarkan pesanan di ruanganku?"


Alvin diam saja.


Ia menatap lelaki itu dengan raut wajah canggung sementara lelaki itu melangkahkan kaki mendekat padanya.


"Berhenti disitu!" tahan Monika. "Kau mau apa?"


Daniel menghentikkan langkahnya dan menatap Monika dengan tatapan heran. Menurutnya, gadis di hadapannnya ini terlalu mengganggu.


"Maaf, Nona. Bisakah kau minggir!"


"Apa?"


"Sejak tadi aku sedang bicara dengan pemuda ini. Tapi kau terlalu berisik."


"Siapa yang kau sebut berisik, hah?"


Lelaki itu tak menanggapi ucapan Monika untuk yang kesekian kali dan kembali menolehkan pandangannya pada Alvin.


"Kau tahu siapa aku, kan? Aku ini Daniel. Orang yang tadi bersama Evelyn di ruang Vip." ujar Daniel mengulurkan tangannya.


Monika merasa kesal karena terus diabaikan oleh lelaki itu. Dan akhirnya memilih untuk menarik lengan Daniel, membuat lelaki itu menatap ke arahnya dan menatapnya tajam.


"Minggirlah." ujar Monika. "Dia targetku untuk malam ini."


"Targetmu?" ujar Daniel kembali menatap Monika dari atas ke bawah dan memasang ekspresi seolah-olah Monika adalah gadis aneh. "Maaf sebelumnya, tapi pemuda ini tak boleh kau goda."


Monika mendecih, "Apa kau bilang?"


"Ya ampun, aku ini bukanlah tipe orang yang suka mengulang perkataanku."


"Apa sebenarnya maksudmu, hah?"

__ADS_1


"Kau tahu maksudku dengan jelas" ujar pria itu sembari mengepulkan asap rokoknya. "Intinya, jauhi pemuda ini. Kau dilarang menggodanya."


"Ck, memangnya siapa kau berani mengatur-atur diriku?"


"Siapa aku?" Daniel menahan diri untuk tak memutar bola matanya malas, "Aku tak perlu memperkenalkan diriku padamu. Tapi jika kau mau tau, selama ini banyak orang memanggilku tuan muda. Dan aku bisa membuatmu di depak dari klub ini, malam ini juga."


"Jangan mengada-ada." Monika tersenyum sinis.


Jujur saja, menurut Monika pemuda di hadapannya ini memang tampan layaknya tuan muda, tapi ucapannya barusan terlalu absurd, membuatnya berpikir kalau pemuda ini sedikit gila.


Daniel menatap Monika dengan senyum penuh percaya diri.


"Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang suka ikut campur. Tapi karena dia adalah seseorang yang ku kenal, sepertinya kali ini aku akan ikut-ikutan."


"Bisakah kau berhenti bicara omong kosong dan pergi dari sini? Kau mulai menggangguku, sialán!"


Mendengar kata 'sialán' membuat Daniel tersinggung. Ia tak terima kata umpatan itu kemudian bergerak maju.


"Kau sendiri, bisakah kau berhenti menjadi jaláng dan menjauhlah dari temanku."


"Ck, ck, ck, kata-katamu sungguh busuk seperti mulutmu." ujar Monika sinis. "Apa kau tidak bisa menghargai wanita. Bicaralah dengan baik."


Daniel mendengus mendengar ucapan wanita itu.


"Menghargai?" Daniel mengulangi dengan nada getir. Ia membuang puntung rokok ke lantai dan menginjaknya dengan sepatu.


Daniel lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Monika.


"Mungkin jika kau berbicara dengan baik padaku sejak awal aku akan lebih cenderung menjawab dengan baik pula." ujar Daniel menggedikkan bahunya santai. "Lagipula, kau menguntit temanku. Itu bahkan bukan hal yang baik. Jadi, aku sarankan kau tidak perlu membahas apa itu 'hal baik' padaku."


Teman?


Alvin menatap Daniel, tapi pemuda itu memasang raut biasa, matanya menatap pada Monika.


"Apa?" Monika menatap terkejut, matanya tampak membulat. "Dia temanmu?"


"Kenapa masih bertanya juga. Apa kau tidak bisa membaca situasi dan menyimpulkan kalau kami berteman? Ah, mungkin matamu itu punya gejala kebutaan."


"Tutup mulutmu, sialán!"


"Jadi lebih baik kau jauhi temanku dan pergi dari sini!"


"Siapa kau berani mengusirku dari sini."


"Jangan coba-coba mencari tahu. Kau akan menyesal jika tahu siapa aku." Daniel tersenyum. "Ah, aku juga akan melaporkan masalah ini pada pemilik klub ini agar dia melarangmu masuk ke klub ini lagi." ujar Daniel.


"Kau-"


"Pergi atau satpam yang akan mengusirmu?"


Monika menatap Daniel yang sudah bersiap mengeluarkan ponselnya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba yakin kalau Daniel benar-benar bisa membuatnya dilarang masuk ke dalam klub ini lagi.


"Lain kali aku akan membalasmu." ujar Monika memilih mundur. Ia berbalik kemudian melangkahkan kakinya pergi dari toilet itu.


Gadis itu bahkan menabrak pengunjung lain yang hendak masuk ke dalam toilet. Pengunjung yang melihat Monika berada di toilet pria hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Alvin hanya terdiam memandang kepergian gadis itu. Ketika tersadar dari lamunannya yang menatap kepergian Monika, ia berjengit terkejut saat mendapati Daniel sudah berada di sampingnya.


"Kau kaget?"


"Maaf." ujar Alvin memegangi dadanya.


Daniel mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong terima kasih atas bantuannya." ujar Alvin pada akhirnya, berusaha mengakhir kecanggungan di antara mereka berdua.


Daniel mengangguk singkat, "Tak masalah. Senang bisa membantu."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Tunggu dulu."


"Ya?"


"Siapa namamu?" tanya Daniel menatap Alvin selama beberapa detik, seolah menuntut jawaban.


Alvin menatap pemuda di hadapannya itu dengan tatapan bingung. Namun, meskipun begitu ia tetap merasa perlu untuk menjawabnya.


"Alvin."


"Sejujurnya aku tau namamu." Daniel tertawa sendiri. "Dan bisa aku tau apa hubunganmu dengan Evelyn?"


Alvin mengerutkan dahi. Kenapa pria ini malah membahas Evelyn. Entah kenapa ia merasa alasan Daniel bertanya ini adalah karena ia bertegur sapa dengan Evelyn beberapa saat yang lalu.


"Tuan jangan khawatir. Juga jangan salah paham pada saya. Saya ini bukan kekasih nona Evelyn. Saya hanya pelayan, jadi tidak akan berani menggodanya."


Daniel menatap Alvin dengan heran.


"Apa maksudmu?"


"Ya?"


"Aku bahkan tidak peduli kau menggodanya atau tidak. Aku kan hanya bertanya apa hubunganmu dengannya. Lagipula aku tidak percaya kalau kau ini hanya pelayan."


Alvin mengerutkan alisnya bingung tapi tetap menganggukkan kepalanya. "Saya memang pelayan."


"Ya, aku hanya menilai. Kau memang terlalu tampan untuk menjadi pelayan. Itu sebabnya para wanita memujamu." Daniel lalu menatap Alvin dengan cengiran lebar, "tapi apa kau pikir aku ini kekasih Evelyn?"


"Bukan begitu." Alvin buru-buru mengibaskan tangannya, "saya hanya berniat memperjelas posisi saya sendiri."


"Jangan berpikiran apa-apa. Lagipula tak ada untungnya bagiku kau memperjelas posisimu begitu."


Daniel mengangguk lalu menatap penampilan Alvin dari atas ke bawah.


"Tapi kalau mengabaikan pakaian pelayan ini, aku yakin kau pasti luar biasa sekali. Yah, aku bisa melihat alasannya tertarik padamu."


"Ya?"


"Kau tidak tahu?"


"Maaf, tapi tentang apakah ini?"

__ADS_1


"Kau tak tau? Evelyn tertarik padamu."


***


__ADS_2