Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
13. Klub Malam


__ADS_3

Aroma dari minuman keras yang menusuk hidung dan suara dari musik dj yang terdengar nyaring, di sertai orang-orang yang tengah menari meliuk-liuk di atas lantai dansa klub.


Hal seperti adalah hal yang sudah sangat biasa terjadi bahkan sudah menjadi ciri khas dari klub malam di perkotaan. Keramaian manusia sudah tak dapat terelakan lagi membuat klub malam itu menjadi penuh sesak.


Dan di sinilah Alvin sekarang, berdiri sambil menatap aula klub yang penuh sesak karena diisi dengan orang-orang yang tengah menikmati serunya dunia malam.


Alvin menatap satu persatu orang yang melintas di depannya dengan heran. Sebenarnya apa yang asyik dari hal seperti ini. Musik bising, ramai, penuh sesak, bau alkohol dan hal tak enak lainnya.


Selama ia hidup, Alvin sendiri sangat tidak terbiasa dengan hal-hal ramai dan juga liar seperti ini. Ia merasa jauh lebih nyaman saat berada di rumahnya, tempat yang sepi namun selalu membuatnya merasa nyaman.


Tapi sekarang, mau tak mau, suka tak suka, Alvin harus membiasakan dirinya dengan hal seperti ini. Karena toh sudah jelas, berada di tempat ini akan menjadi pekerjaannya setiap malam.


"Bagaimana pekerjaanmu di sini, Alvin?" seseorang menepuk bahu Alvin.


Alvin menoleh.


Itu Mr. Robert, manajer sekaligus atasan baru Alvin yang menerimanya bekerja di tempat ini siang tadi.


"Mr. Robert." sapa Alvin.


"Apa kau kesusahan?" ujar Mr. Robert lagi. Pria tua itu bicara dengan nada suara yang cukup nyaring pasalnya suara musik di klub malam itu terdengar begitu nyaring dan sedikit menutupi suaranya.


"Aman pak. Pekerjaan saya sejak tadi hanya mengantar minuman pada para pengunjung." ujar Alvin dengan senyum lebar di wajahnya.


Mr. Robert tersenyum sembari mengangguk-angguk mendengar jawaban Alvin.


"Semoga kau betah bekerja disini." ujar Mr. Robert sambil menepuk pelan bahu Alvin lalu beranjak pergi, kembali ke ruangan kerjanya.


"Terima kasih, Mr. Robert."


Setelah itu Mr. Robert melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Alvin menatap kepergian atasannya itu dengan senyuman kecil.


"Hei, pelayan, kemari!" suara seorang pengunjung sedikit samar karena tertutup suara musik.


Alvin yang di panggil oleh pengunjung itu segera berbalik.


Seorang pria tengah menjentikkan jarinya memerintah padanya agar mendekat. Alvin segera mendatangi meja pengunjung itu dengan setengah berlari, hingga tiba-tiba...


Bruk!


"Aw!" seru seseorang.


"Astaga."


Alvin membulat saat menyadari kalau ia baru saja menabrak seorang pengunjung. Itu bukannya hal yang di sengaja, tapi mampu membuat Alvin kalangkabut.


Oh, tidak lagi.


Kejadian sial yang terjadi di restoran waktu itu kembali terulang sekali lagi. Alvin meruntukki dirinya sendiri yang tak punya kemampuan refleks cepat yang baik. Dan juga, kenapa tubuhnya hobi sekali menabrak orang, sih?


Menyadari ini adalah kesalahan fatal, Alvin seketika saja menjadi gugup. Ia bahkan tak berani menatap orang di hadapannya yang ternyata seorang perempuan. Alvin semakin terkejut saat menyadari tas yang di pegang perempuan itu tampak jatuh ke atas lantai beserta beberapa isinya terhambur keluar.


"Maaf nona. Saya tidak sengaja!" ujar Alvin sambil buru-buru membantu mengambil isi tas gadis itu.


Tak ada jawaban. Gadis itu hanya diam, memperhatikan Alvin yang tengah mengambil barang-barang tasnya.


"Ini tas anda." Alvin tampak menunduk sembari menyerahkan tas milik gadis itu.

__ADS_1


"Sekali lagi saya minta maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja." ujar Alvin sembari membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda penyesalan.


Alvin mendongak untuk menatap gadis itu. Namun ia malah tercengang saat melihat wajahnya.


'Cantik sekali!' batin Alvin terpesona.


Mata Alvin tak berkedip dan terus menatap wajah gadis cantik itu. Ia benar-benar terpana. Gadis di hadapannya ini benar-benar definisi dari seorang bidadari.


"A-apa nona tidak apa-apa?" tanya Alvin, dengan nada gugup sementara tangannya menyerahkan tas milik gadis itu. "Oh ya, i-ini tas milik anda."


"Terima kasih." ujar gadis itu sambil meraih tas miliknya dari tangan Alvin.


"Sa-saya minta maaf, karena saya-"


"Tidak masalah!" ujar gadis itu.


Gadis itu diam selama beberapa detik. Ia lalu menatap penampilan Alvin dari atas ke bawah. Tubuh Alvin membeku saat gadis itu memamerkan senyum termanisnya.


"Tapi, apa kau ini pelayan baru sini?" kata gadis itu.


"Ya?"


"Maksudku, aku tak pernah melihatmu sebelumnya di klub ini."


"Ah, benar, saya memang pelayan baru di sini."


"Sepertinya kau tidak mengingatku."


"Mengingat anda?" Alvin mengerutkan alisnya bingung. "Kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ya."


"Waktu itu, kau-"


"Pelayan!" seru pelanggan tadi, kembali memanggil Alvin, membuat ucapan gadis itu terpotong. "Di sebelah sini!"


"Ya," balas Alvin mengangguk


"Tidak. Lebih baik lupakan saja. Kau urus saja pelanggannya." gadis itu mengibaskan tangannya lalu melanjutkan kembali langkahnya, menuju ke arah lift yang menuju ke lantai atas.


"Dia cantik sekali!" gumam Alvin tersenyum. Namun Alvin teringat sesuatu. Alvin mengerutkan dahinya sembari menatap punggung gadis itu.


"Tapi apa maksud dari pertanyaannya? Mengingat apa? Memangnya kami pernah bertemu sebelumnya? Yah, wajahnya memang tak asing. Sepertinya aku memang pernah melihatnya, tapi entah dimana?"


Alvin mencoba untuk mengingat dimana kiranya ia bertemu dengan gadis itu. Namun saat berusaha untuk mengingat ia harus terganggu saat mendengar seruan dari pengunjung.


"Hei, pelayan!"


Itu adalah pengunjung pria yang tadi sempat memanggil Alvin tadi. Ia kembali memanggil Alvin untuk yang kesekian kalinya.


"Hei, aku memanggilmu sejak tadi. Kau tidak dengar?!" omel pengunjung itu.


"Ah, maaf tuan!"


Alvin tersadar dan segera mendatangi pengunjung pria itu untuk mengurus pesanannya.


Setelah beberapa saat sibuk mencatat pesanan dari para pengunjung klub malam, Alvin kini sudah beralih pekerjaan. Ia diminta untuk mengantar pesanan pengunjung.

__ADS_1


Saat ini Alvin tengah melangkah dengan hati-hati, membawa nampan di tangannya untuk mengantar pesanan dari salah satu pengunjung.


"Alvin!"


"Ya?"


Alvin menghentikkan langkah dan menatap rekan kerjanya yang berdiri di dekat meja bartender. Ia berdiri diam kala melihat rekan kerjanya itu mendekat padanya sembari sedikit kesusahan mendorong troli.


"Kau sibuk?"


"Sedikit. Ada apa?" tanya Alvin bingung.


"Ini... bisa kau bantu aku untuk mengantar pesanan minuman ke ruang VIP yang ada di lantai tiga." pinta sang rekan kerja sambil menunjuk troli lainnya yang berada tak jauh dari mereka.


Alvin menatap troli yang dimaksud. Ia menatap troli di hadapannya yang berisi banyak sekali botol minuman dan juga gelas kosong di atasnya.


"Mengantar troli-troli ini?"


"Ya?"


"Ya, dua troli ini. Aku bawa yang ini dan kau bawa yang satu lagi. Yang disana!"


"Tapi, minuman ini bagaimana?" Alvin mengangkat nampan berisi gelas minuman di tangannya


"Biar yang lain saja yang mengantarnya."


Sang rekan kerja dengan cepat mengambil alih nampan itu dan meletakkannya kembali ke atas meja bartender.


"Ini jauh lebih penting. Ada private party di salah satu ruangan di atas. Mereka adalah pelanggan nomor satu di klub ini. Dan juga, salah satu dari mereka adalah anak dari pemilik klub ini. Mereka tamu istimewa, oke. Jadi kita harus cepat. Kalau satu saja dari mereka sampai komplain, Mr. Robert bisa marah."


Alvin mengangguk patuh. Toh tak mungkin kan ia membuat sang manajer marah di hari pertamanya bekerja.


"Minumanku barusan adalah pesanan meja nomor lima. Bisa tolong bantu aku mengantarkannya. Aku ada pekerjaan penting sekarang." ujar Alvin pada sang bartender yang berdiri di dekatnya sembari menunjuk nampan minuman di atas meja.


"Aku akan minta yang lain mengurusnya." balas sang bartender santai.


"Terima kasih."


Alvin lalu meraih salah satu dari dua troli minuman itu. Ia semakin terkejut saat melihat banyaknya botol minuman keras yang harus mereka bawa.


"Wah, semua ini pesanan mereka?" tanya Alvin terkejut.


"Ya, semua ini memang pesanan dari orang-orang yang ada di ruangan itu." jawab sang rekan sambil mendorong troli miliknya, di ikuti Alvin yang berjalan di belakangnya.


"Ini banyak sekali."


"Sedang ada private party besar-besaran di sana. Itu sebabnya mereka memesan banyak sekali minuman untuk acara itu. Minumannya sangat banyak, itu sebabnya kita harus menggunakan troli." jawab rekan kerjanya lagi.


Alvin mengangguk mengerti. "Baiklah."


"Dan ingat! Hati-hati saat membawanya. Ini semua bukan minuman murah." ujar sang rekan kerja mencoba mengingatkan Alvin.


"Ya, baiklah." Alvin kembali mengangguk paham. "Ini pesanan ruangan nomor berapa?"


"Nomor enam." jawab sang rekan kerja.


Alvin terus mengikuti rekan kerjanya, membawa troli minuman itu masuk ke dalam lift, mengantarnya menuju lantai tiga dimana ruangan tempat pesta berada.

__ADS_1


***


__ADS_2