Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
12. Bersyukurlah Dengan Wajahmu


__ADS_3

Alvin tampaknya tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Hal itu terbuktu dari matanya yang membulat tak percaya setelah mendengar ucapan pria paruh baya di hadapannya.


"Saya diterima?"


"Ya, benar. Kamu di terima bekerja disini."


"Apa bapak serius?"


"Ya, tentu saja saya serius. Kamu di terima bekerja di klub ini." jawab pria paruh baya itu lagi, memperjelas perkataannya.


Alvin menatap Mr. Robert dengan takjub, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia di terima. Begitu saja? Apakah sebegitu mudahnya bekerja di sini.


"Apa saya tidak salah dengar, Pak?"


"Tidak sama sekali." ujar Mr. Robert. Ia tersenyum seolah memahami kebingungan yang di rasakan pemuda tampan di hadapannya ini.


Mr. Robert kembali melanjutkan, "Jadi begini, klub ini memang butuh pelayan baru secepatnya. Dan kebetulan, sebelumnya kamu juga punya pengalaman bekerja sebagai pelayan, kan?"


"Ya, benar pak."


"Itulah sebabnya kamu di terima di sini."


Alvin mungkin tak menyadari sudut bibirnya yang melengkung. Tapi Mr. Robert dapat melihatnya dengan jelas.


"Saya yakin karena pengalaman kerjamu sebelumnya, kamu pasti lumayan cekatan dalam hal melayani pelanggan kami nantinya."


Alvin tidak bisa untuk tidak setuju tentang hal itu. Ia paham apa yang dimaksud oleh Mr. Robert barusan. Meskipun di pekerjaan sebelumnya ia di pecat, tapi ia memang punya pengalaman menjadi pelayan.


Mr. Robert kemudian melanjutkan, "Selain itu, kamu juga punya penampilan yang luar biasa. Itu hal utama yang dibutuhkan untuk bekerja di sini."


"Jadi begitu." Alvin mengangguk paham.


Manajer itu kembali tersenyum. Ia memang berkata jujur. Perawakan Alvin memang luar biasa. Pemuda di hadapannya ini memiliki wajah tampan, tubuh jangkung dan kulit putih susu. Ia yakin kalau Alvin bisa menjadi 'aset' baru di klub ini karena penampilannya berharganya itu.


"Kamu akan bekerja di klub ini dari jam tujuh sore sampai jam satu malam atau bisa lebih. Dan juga, karena kamu masih sangat baru di klub ini, gajimu perbulan adalah tiga juta. Tapi jika kamu bersedia lembur gajimu sudah pasti akan di tambah." jelas Mr. Robert dengan santai namun tampak serius.


"Berapa, ti-tiga juta, Pak?" tanya Alvin kaget.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kurang?" tanya pria itu menatap Alvin datar.


Dengan cepat Alvin menggelengkan kepalanya. "Bu-bukan begitu. Hanya saja itu jauh lebih banyak dari perkiraan saya." jelas Alvin.


Manajer itu lantas tersenyum kecil. Ia paham. Bagi orang-orang seperti pemuda ini, gaji segitu bukannya kecil.


"Tempat ini memang akan sangat ramai kalau malam hari. Orang-orang dari berbagai kalangan akan datang. Itu sebabnya gaji-nya juga tidak mungkin main-main, karena pekerjaannya juga tidak main-main."


Mr. Robert kembali melanjutkan kalimatnya. "Saya akan melihat bagaimana kinerjamu nanti. Pihak klub jelas tidak akan ragu memberimu bonus atau mungkin menaikkan gajimu jika kerjamu giat." jelas manajer itu.


Alvin mengangguk mengerti. "Baiklah, pak. Tapi saat ini saya belum membawa surat lamaran saya."


"Itu masalah gampang. Itu bisa kau berikan pada ku nanti setelah kau bekerja di sini. Saya percaya dengan kemampuan kamu." ujar pria tua itu tenang.


"Baik, pak!" Alvin kembali mengangguk.


Sebenarnya ia tak membutuhkan surat lamaran Alvin karena ia yakin pemuda ini adalah pemuda baik-baik dan mampu melayani pengunjung dengan baik pula. Tapi tatap saja, aturan di klub ini wajib memberikan surat lamaran. Itu sebabnya ia tetap memerintahkan Alvin untuk memberikan surat lamarannya.


"Kau bisa memanggil saya Mr. Robert. Semua orang di sini memanggil saya seperti itu."


"Ya, Mr. Robert."


"Saya akan berusaha untuk bekerja dengan baik Mr. Robert!"


Mr. Robert menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Kau bisa pergi sekarang. Kau bisa mulai bekerja sore ini juga. Dan jangan khawatirkan apapun. Nanti akan ada pelayan senior yang mengajarkan segala hal tentang klub ini padamu." ujar Mr. Robert lagi.


"Baik Pak, kalau begitu saya undur diri." pamit Alvin lalu membungkukkan setengah badannya. "Saya sangat berterima kasih pada bapak karena sudah menerima saya bekerja di sini." lanjutnya.


Pria itu mengangguk dan tersenyum. "Jangan sungkan. Kamu bisa menemui saya kalau ada sesuatu yang mengganggu di hatimu."


"Baik, terima kasih sekali lagi, pak." ujar Alvin sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Mr. Robert membalas uluran tangan sembari tersenyum simpul.


Alvin menghela nafasnya lega setelah keluar dari ruang kantor Mr. Robert. Rasanya tubuhnya hampir menjadi patung karena tegang. Entah kenapa saat melihat ekspresi tegas dari Mr. Robert, perasaan takut dan segan berkumpul jadi satu dan membuat Alvin tegang sendiri.

__ADS_1


"Apakah kau di terima?" ujar wanita cantik yang mengantarkan Alvin beberapa waktu lalu.


Alvin mengangguk disertai senyum bahagia.


"Aku diterima."


"Wow, kau beruntung."


"Ya?"


"Biasanya akan ada seleksi ketat bahkan sekedar untuk mencari pelayan. Selama ini Mr. Robert terlalu pemilih untuk mencari karyawan di klub ini."


"Benarkah begitu?"


Wanita cantik itu tertawa kecil. "Benar. Aku tidak berbohong. Aku pikir lebih baik kau bersyukurlah dengan wajahmu itu. Maksudku karena Mr. Robert hanya selalu menerima pegawai yang berpenampilan menarik. Hanya yang cantik dan tampan!"


"Ah, itu-"


"Mr. Robert selalu menerima pegawai yang berpenampilan menarik untuk menarik pelanggan dan membuat mereka senang." jelas wanita itu.


Alvin hanya mengangguk meski ia tak begitu mengerti dengan kalimat terakhir. Ia memilih pamit pada wanita itu, baru kemudian ia berlalu pergi.


'Membuat pelanggan senang? Apa maksudnya itu?' batin Alvin.


Dan begitu Alvin tiba di luar gedung klub malam itu, ia terus tertawa. Ia tidak menyangka akan mendapat pekerjaan secepat ini. Rupanya tidak sia-sia ia bolos kuliah hari ini. Ia bahkan mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tanpa mengganggu jam kuliahnya.


"Terima kasih, Tuhan." ujarnya pelan. "Aku tidak akan menyia-nyikan pekerjaan ini. Aku tidak akan membuat kesalahan seperti di tempat kerjaku yang sebelumnya."


Setelah itu Alvin menghela napasnya pelan. Ia merasa lebih tenang sekarang. Ia kembali teringat alasan hidupnya yang berantakan adalah karena ia masih sedih karena kehilangan Karina. Ia memahami semua itu karena Karina adalah cinta pertamanya. Dan sebenarnya, mau seburuk apapun Karina, gadis itu pernah ada dihidupnya dan tetap berjasa sebagai orang yang mengajarinya cara saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.


Tapi mulai sekarang Alvin tidak perlu memikirkan gadis itu lagi, karena gadis itu sudah merusak segalanya. Cintanya, kepercayaannya, semuanya. Dan Alvin harus melupakan semua kejadian itu, ia benar-benar harus melupakan Karina.


"Mulai sekarang aku akan mencoba untuk melupakan sisa kenangan dari Karina dan fokus pada hidupku saja. Terus mengingatnya akan membuat hidupku semakin berantakan dan tidak tenang." gumam Alvin penuh tekat.


Setelah itu, Alvin kembali mengambil motornya yang sempat ia parkirkan di dekat warung tempat ia membeli minuman tadi.


Ia menstater motornya dan segera pulang ke rumahnya untuk bersiap memulai pekerjaan barunya. Dan dalam perjalanan pulang, Alvin terus memikirkan bagaimana cara mengatur ulang hidupnya agar jauh lebih baik daripada sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2