Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
40. Sebuah Tawaran


__ADS_3

Evelyn menambah kecepatan mobilnya, seakan ia tengah di kejar oleh sesuatu yang menakutkan.


Ah, ia bukan takut. Tapi malu.


Bayangkan saja, bagaimana ia masih punya muka saat dengan asal mengakui seseorang sebagai kekasihnya. Rasanya ingin sekali Evelyn pulang ke rumah dan bersembunyi di dalam selimut di kamarnya.


"Nona, lampu merah!" seru Alvin membuat Evelyn tersadar.


"Ya ampun."


Evelyn segera mengerem mendadak mobilnya. Ah, lihatlah ini, saking malunya Evelyn, ia sampai lupa kalau Alvin tengah ada di sampingnya, di dalam mobilnya, bersamanya.


Sembari menunggu lampu lalu lintas berubah warna, Evelyn mengetuk-ketuk stir mobilnya. Ia melirik Alvin sekilas. Evelyn dan Alvin sekarang hanya diam. Tak ada dari mereka yang mengatakan satu apapun.


Evelyn diam-diam kembali melirik Alvin yang duduk di sebelahnya kemudian kembali menatap ke jalanan di hadapannya.


"Nona, lampunya sudah hijau." ujar Alvin kembali mengingatkan.


"Ah, y-ya."


Evelyn kembali menancap gas mobilnya.


Dua kali.


Sudah dua kali Evelyn kehilangan fokusnya. Ia tak menyadari lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Evelyn bahkan bisa mendengar bunyi klakson dari kendaraan yang ada di belakangnya mengingat mobil yang mereka kendarai memang berada di posisi paling depan.


Sambil menyetir, diam-diam Evelyn menarik napas dalam dan membuangnya dengan hembusan panjang, terus mencoba menenangkan dirinya.


Selama ini ia tidak pernah bersikap tidak tenang dan sembrono seperti ini. Tapi hari ini ia sudah seperti tanpa arah. Ia terlihat seperti kehilangan akal saja sekarang.


Entah kenapa semenjak hadirnya Alvin sudah seperti berhasil mengacaukan fokus hidupnya.


"Siálan!" umpat Evelyn.


Dengan gerakan kasar, Evelyn lalu membanting stirnya ke kiri, menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan langsung mematikan mesin mobilnya.


Sementara Alvin sempat terkejut dan tersentak dari posisinya di kursi mobil. Untung saja sabuk pengaman yang Alvin kenakan berhasil menahannya dari gerakan ekstrem.


Evelyn sadar hampir saja mencelakai Alvin. Ia langsung menatap pemuda itu khawatir. "Kau tidak apa-apa kan?"


"Ya, aku baik-baik saja." ujar Alvin canggung.


"Benar tidak apa-apa?"


"Ya, nona."


Evelyn menghembuskan napasnya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan dahinya pada stir mobil yang ia pegang, memilih diam selama beberapa saat, menenangkan dirinya sendiri dari pikirannya yang terasa amat kacau.


Alvin menatap Evelyn bingung, "tapi apa nona baik-baik saja?"


Evelyn tak menjawab. Gadis itu masih tetap mempertahankan posisi menunduknya.


"Maafkan aku." ujar Evelyn dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti berbisik.


Alvin mengerutkan dahinya bingung, tapi ia langsung menggelengkan kepalanya. "Ah, aku tidak apa-apa, nona. Aku kan mengenakan sabuk pengaman, jadi-"


"Bukan itu."


"Ya?"


Evelyn masih menutup kedua matanya. Detik selanjutnya ia menegakkan kembali tubuhnya sembari membuka kembali kedua matanya dengan perlahan, menatap lurus ke jalanan di depan.


"Aku bukannya minta maaf tentang hal itu."


"Jadi, anda minta maaf tentang apa?" Alvin tersenyum bingung.


Evelyn lalu menoleh ke arah Alvin. Pemuda itu tampak tersenyum padanya. Ya ampun. Evelyn benar-benar merasa sudah tak punya muka sekarang untuk berhadapan dengan pemuda itu.


"Barusan itu aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu."


"Memangnya apa yang nona lakukan padaku." Alvin menatap bingung.


"Ini tentang aku yang sudah dengan seenaknya mengaku-ngaku sebagai kekasihmu, di hadapan mantan pacarmu tadi."


Alvin menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ah, tentang itu rupanya." gumam Alvin.


"Itu pasti mengejutkanmu, ya?"


"Sedikit. Itu memang cukup mengejutkan untukku tadi. Tapi aku sama sekali tak masalah. Aku bisa mengerti niat Nona."


"Benarkah, tak masalah bagimu?"


"Benar, nona."


Evelyn lalu menundukkan kepalanya, tersenyum miris. "Sejujurnya hal ini agak memalukan untukku."


Alvin membeku di posisinya.


Diam-diam muncul rasa kecewa di hatinya. Apa kata Evelyn barusan, memalukan? Jadi, apakah begitu memalukan bagi Evelyn karena sudah mengaku sebagai kekasihnya tadi.


"Benar, pasti akan sangat memalukan bagi nona untuk melakukan itu. Untung saja tak ada orang yang mendengarnya selain Karina."


Evelyn menatap Alvin dengan alis berkerut. Pemuda itu menunduk. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Arah pembicaraan mereka tampaknya berbeda.


"Alvin."


"Nona tenang saja. Tidak akan ada yang percaya kalau kita menjalin hubungan. Bahkan Karina saja tak akan percaya. Jadi hal ini tidak akan terlalu memalukan bagi nona."

__ADS_1


"Tidak, Alvin. Bukan begitu maksudku." jelas Evelyn.


"Lalu?"


"Maksudku, di sini justru aku yang merasa malu padamu karena sudah berani mengaku-ngaku sebagai kekasihmu. Aku sangat malu dan merasa tak enak padamu, kita bahkan baru saja saling kenal tapi sikapku sungguh kurang ajar."


"Apa yang membuat nona merasa tak enak?"


Evelyn menghela perlahan,


"Tentu saja aku tak enak karena sudah tanpa izinmu malah mengaku-ngaku menjadi kekasihmu. Bagaimana aku bisa melakukan itu."


Alvin sadar, ia baru saja salah paham pada nona muda ini.


"Nona tidak perlu merasa bersalah seperti itu."


"Bagaimana bisa? Itu hal yang konyol Alvin!"


"Dan aku tidak keberatan nona." jawab Alvin membuat Evelyn tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya, percayalah. Aku sama sekali tak keberatan."


Evelyn mengangguk.


"Ya, tapi sekali lagi aku minta maaf padamu. Ini semua karena aku tadi merasa sangat kesal karena dia sudah berkata seenaknya padamu. Dasar gadis sialán!" umpat Evelyn memukul stir mobilnya.


"Sejujurnya, aku tidak masalah dengan hal itu."


"Tidak masalah bagaimana?" kesal Evelyn. Ia mengeratkan pegangannya pada stir mobil, meremāsnya kuat-kuat, menahan amarah.


Alvin tersenyum ragu. "Aku sungguh tidak apa-apa dengan itu nona."


"Bagaimana kau bisa terima begitu saja? Bagaimana kau mengatakan kalau kau tidak apa-apa setelah apa yang dia lakukan padamu. Dia menghinamu, Alvin!"


"Sebenarnya, aku sudah sering dihina olehnya, nona. Sejak kami berpisah dia sudah sering menghinaku seperti itu. Ini bahkan sudah mulai menjadi hal yang sangat biasa bagiku. Itu sebabnya aku tidak masalah sama sekali."


Evelyn menatap Alvin dalam.


Diam-diam ia kembali merasa kesal. Gadis sialán itu pasti sudah berbuat sangat keterlaluan pada Alvin.


"Sudah lama kalian putus?"


"Kami putus beberapa waktu lalu. Aku lupa kapan tepatnya. Ya, sebenarnya bukan lupa, tapi aku hanya tidak ingin mengingatnya."


"Kenapa kalian bisa putus?" tanya Evelyn lagi penasaran.


Alvin terdiam, membuat Evelyn tersadar atas pertanyaanya sendiri.


"Ya ampun. Maafkan aku. Harusnya aku tidak ikut campur terlalu dalam." Evelyn mengusap wajahnya.


"Kenapa tidak? Kita teman sekarang." balas Evelyn menggedikkan bahunya.


Alvin kembali terdiam selama beberapa saat, menunduk, memainkan jarinya. Ia menghela napasnya perlahan kemudian tersenyum miris.


"Sebenarnya saat itu dia mencampakanku."


Evelyn nyaris memaki dirinya sendiri mendengar perkataan Alvin. Bagaimana bisa ada seseorang yang mencampakan lelaki sesempurna Alvin. Ah, wanita itu sungguh bodoh.


"Miskin."


"Ya?" Evelyn mengernyit bingung.


"Dia mencampakan aku karena aku miskin."


Evelyn kembali diam.


Ia menimbang-nimbang kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya setelah ini.


Tapi tak ada.


Itulah kebenarannya. Itu salah satu dari banyak alasan umum bagi seseorang mencampakan kekasihnya. Uang. Segalanya akan kembali pada uang. Seseorang akan mencari pasangan yang memiliki lebih banyak uang.


Sebagai wanita Evelyn juga bisa mengatakan alasan itu-lah yang paling masuk akal. Banyak sekali wanita akan lebih mengincar uang dibandingkan cinta. Bagi mereka, orang hidup dengan uang, bukan dengan cinta.


Evelyn akui, sejak kecil hidupnya sudah sangat berkecukupan. Itu sebabnya dia tak memikirkan hal-hal seperti itu. Uang mudah untuknya. Sehingga dia tak pernah mencampakan seseorang kerena hartanya. Ia hanya perlu mencari seseorang yang memberinya rasa nyaman.


Evelyn memejamkan matanya dan menunduk. Uang benar-benar bisa menghancurkan banyak orang. Ia tampak berpikir untuk beberapa detik sebelum kembali bicara.


"Sebenarnya, aku melihatnya." ujar Evelyn pelan.


Alvin menoleh pada Evelyn.


"Melihat apa?"


"Segalanya yang Karina katakan di klub malam padamu." ujar Evelyn menatap Alvin, "Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri saat dia menghinamu. Aku mendengar hal buruk yang dia katakan padamu."


"Anda di sana?" mata Alvin membulat.


"Ya, apa kau tidak ingat kita bertemu di balkon di malam yang sama? Kau lupa?"


Alvin mengangguk. "Ah, benar juga."


"Dan aku tau penyebab kau menangis di balkon waktu itu adalah karena wanita itu."


"Aku tidak menangis nona." protes Alvin.


"Baiklah, kau tidak menangis."

__ADS_1


Alvin menunduk malu. Sejujurnya ia memang menangis saat itu. Ia hanya menolak dipandang sebagai lelaki lemah dan cengeng.


"Menurutku apa yang dia lakukan padamu saat itu memang sangat keterlaluan. Dan saat itu kau juga tidak melawan. Itu membuatku amat kesal."


"Ya, aku memang tidak berniat membalas apapun saat itu."


"Kenapa tidak?"


"Karena semua yang dia katakan benar."


Evelyn mendecih kesal. "Mau benar atau tidak. Itu adalah perbuatan salah ketika kau menghina orang lain."


Alvin diam saja. Perbuatan Karina padanya memang salah. Tapi ia bisa apa. Semua yang dikatakan Karina padanya memang benar, bukan?


"Kenapa kau tidak membalasnya saja?"


"Membalasnya?"


Evelyn mengangguk.


"Ya, membalas semua perbuatannya padamu. Apa kau tidak ingin membalas perbuatannya?"


Alvin terdiam.


Bagaimana dia bisa melakukan itu. Bahkan tak pernah terlintas sedikipun di benaknya untuk melakukan hal itu.


"Selama aku hidup, aku tak pernah terima saat orang lain menginjak-injak harga diriku. Dan sekarang aku juga ingin kau kuat. Aku ingin kau membuktikan pada orang-orang macam Karina kalau kau istimewa."


"Aku bisa membantumu untuk membalasnya kalau kau mau melakukannya." ujar Evelyn lagi.


"Membantu?"


"Ya! Aku bisa membantumu, itu pun kalau kau mau. Kau bisa membuatnya menyesal karena sudah berani menyia-nyiakan dirimu."


"Tapi kenapa aku harus melakukan itu?"


"Ya ampun." Evelyn memutar bola matanya malas. "Itu karena kau harus membuktikan padanya kalau dia bukan satu-satunya wanita untukmu. Kau juga bisa membuatnya menyesal karena sudah mencampakanmu."


Alvin terdiam untuk yang kesekian kali.


Jelas tidak mungkin Karina merasa menyesal karena sudah menghianati dirinya. Gadis itu bahkan sudah sangat bahagia dengan pria lain sekarang. Alvin merasa kalau Karina justru sangat bersyukur karena sudah meninggalkan Alvin waktu itu.


"Bagaimana?" tanya Evelyn memastikan.


Alvin menatap Evelyn ragu.


"Karina tidak mungkin menyesal, maksudku, dia-"


"Dia akan menyesal!" Evelyn berujar mantap.


"Nona Evelyn, saat itu Karina meninggalkanku demi lelaki yang kaya raya. Jadi mana mungkin dia akan menyesal."


Evelyn tersenyum.


"Bagaimana kalau kita berhasil membuatnya menyesal?"


"Bagaimana kalau tidak berhasil?"


"Kita bahkan belum mencoba apapun, kan?" Evelyn menatap Alvin penuh harap. "Hal ini bahkan tidak akan merugikan dirimu jika mencobanya. Bagaimana?"


Alvin kembali terdiam.


Membuat mantan menyesal?


Tawaran macam apa yang baru ia dengar ini. Alvin menatap Evelyn. Diam-diam hatinya mulai merasa tertarik. Tapi dengan cepat Alvin menggelengkan kepalanya. Setelah dipikir lagi sejujurnya Alvin tidak begitu suka dengan ide ini.


"Aku rasa aku tidak ingin membalas apapun, nona" jawab Alvin pada akhirnya.


Evelyn menatap Alvin beberapa detik kemudian berdehem.


"Ya, kau memang terlalu baik untuk urusan seperti ini." kata Evelyn menggedikkan bahunya malas. Ia kembali menatap Alvin.


"Dengar, Alvin! Kau tidak akan memutuskannya sekarang, oke? Kau punya banyak waktu untuk memutuskan. Menurutku, lebih baik kau pikirkan saja tawaranku ini lebih dahulu, setelah itu kau bisa menghubungi aku lagi, barulah kita bahas hal ini lagi nanti. Aku akan menunggu saat-saat kau menghubungiku."


"Ya," Alvin mengangguk.


Evelyn mendekat untuk berbisik pada Alvin, "Dan, jika kau ingin menghubungiku, ini kartu namaku. Semua kontakku ada di sini. Nomor ponsel. Nomor telepon rumah. Alamatku. Dan lain sebagainya."


Alvin menatap kartu nama itu lekat kemudian kembali menatap Evelyn.


"Tapi aku tidak perlu ini, nona. Jika aku ingin bertemu, aku sudah mengetahui alamat dan juga nomor ponsel nona, kan?."


"Ya, memang benar. Tapi tak apa. Lebih baik kau simpan saja."


"Baiklah."


"Oh ya, bisakah nona menurunkan aku di halte yang ada di depan sana. Aku akan pulang naik bis saja."


"Kau tidak kembali ke kampus? Bagaimana dengan tugas kuliahmu?"


Alvin menggeleng. "Lebih baik aku pulang saja. Aku akan memberitahu teman-temanku kalau aku ada urusan mendadak."


"Lalu motormu?"


"Tak masalah nona, motorku akan aman karena berada di parkiran kampus."


"Baiklah kalau begitu."


***

__ADS_1


__ADS_2