Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
50 Tawaran Gadis Asing


__ADS_3

"Apa kau pelayan di klub ini?"


Alvin tampak sedikit terkejut saat mendengar seruan mendadak itu, mengakibatkan tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas air putih miliknya yang berada di atas meja.


"Ya ampun, pakaian kerjaku." ujar Alvin buru-buru membersihkan pakaian kerjanya yang basah karena terkena tumpahan air.


"Kau terkejut?" wanita itu tampak ikut terkejut. Ia buru-buru mendekati Alvin untuk membantu mengembalikan gelas itu ke posisinya lagi. "Maafkan aku. Aku tak sengaja."


"Ah, tidak masalah." ujar Alvin yang saat ini masih tampak menunduk, fokus membersihkan sisa tumpahan air di pakaiannya.


"Sekali lagi aku minta maaf, oke. Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu terkejut seperti barusan. Kau tidak apa-apa, kan?" ujar gadis itu ikut membantu membersihkan pakaian kerja Alvin dari basah dengan tissu yang ia dapat entah darimana.


Alvin menyadari kalau nada bicara gadis itu penuh dengan nada simpati. Ia terlihat begitu peduli pada Alvin, terbukti dengan sikapnya yang buru-buru membantu membersihkan pakaian Alvin yang basah.


"Sini aku bantu membersihkan pakaianmu, ya."


"Ah, tidak perlu nona." tolak Alvin.


"Ini jelas kesalahanku. Aku bantu, ya."


Wanita itu masih tampak sibuk membersihkan pakaian Alvin. Hal itu tampaknya cukup berhasil membuat Alvin merasa tak enak.


"Tidak perlu, nona. Saya yang ceroboh dengan menyenggol gelasnya. Biar saya saja." tolak Alvin.


Alvin jelas menolak bantuan dari gadis itu. Dia adalah pelayan dan gadis itu merupakan pengunjung, jadi mana mungkin Alvin bersedia menerima bantuan dan membuat pengunjung yang harusnya ia layani bersikap seperti ini padanya.


"Kau yakin tidak apa-apa, kan?" tanya gadis itu.


"Ya, nona." sahut Alvin.


"Aku jadi tak enak."


"Tidak, saya sungguh tak apa-apa."


Begitu selesai membersihkan, Alvin yang sejak tadi menundukkan kepala dan fokus membersihkan pakaiannya, akhirnya mendongak untuk menatap wajah gadis itu. Dan pandangan matanya sontak bertemu dengan sepasang mata milik gadis cantik yang juga tengah menatapnya itu.


"Oh ya, aku tadi bertanya padamu, apa kau pelayan di klub ini?" tanya gadis itu lagi.


Alvin sontak mengerutkan dahinya. Sejujurnya, ia merasa heran dengan pertanyaan itu. Apakah pakaian yang ia kenakan saat ini belum cukup menunjukkan siapa dirinya?


"Hai, kau mendengarku, kan?" Gadis itu menjentikkan jarinya di depan wajah Alvin.


Alvin masih tampak terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengerjapkan kedua matanya.


"Benar, nona. Saya pelayan di klub ini." jawab Alvin menganggukkan kepala. Alvin lalu berdiri tegak dan memutar tubuhnya untuk menghadap lurus pada gadis itu. "Apa ada yang sesuatu anda butuhkan?"


"Ya, sebenarnya ada sesuatu."


"Anda butuh bantuan apa, nona?"


"Aku ini tamu VIP disini." ujar gadis itu lagi, namun perkataannya malah membuat Alvin semakin merasa bingung.


Alvin tersenyum canggung.


Sejujurnya, ia sama sekali tak mengerti maksud gadis itu tapi ia tetap menanggapi. "Oh, kalau begitu anda ini pasti sedang mencari ruangan VIP-nya, ya? Maaf nona, ruangan VIP berada di sana. Apa anda mau saya antar?"


Gadis itu menatap Alvin selama beberapa detik, lantas tergelak. "Biar aku tebak, kau ini pasti pelayan baru di sini, ya kan?"

__ADS_1


"Benar nona, sebenarnya saya baru beberapa hari bekerja di sini."


"Pantas saja. Ternyata dugaanku benar." gadis itu manggut-manggut.


"Jadi, apakah ada yang anda butuhkan? Apa anda ingin pesan minuman?"


"Ah, bukan seperti itu maksudku." Gadis itu dengan cepat mengibaskan tangan sembari menggelengkan kepala. "Aku sedang tak membutuhkan minuman apapun."


"Kalau begitu, bisa saya tahu ada apa?"


"Sebenarnya aku sedang mencari teman bicara."


"Teman bicara?"


"Ya, kebetulan aku datang sendiri hari ini, jadi aku sedang mencari teman." Monika bicara sembari tersenyum miring. "Dan sepertinya aku ingin mengobrol denganmu."


"Ya?" jawab Alvin, agak terkejut.


Bagaimana ia tidak terkejut saat seseorang tiba-tiba saja datang dan mengatakan ingin mengobrol denganmu? Itu aneh, bukan? Atau justru itu hal biasa di sini?


"Anda ingin apa?" tanya Alvin memastikan.


"Mengobrol."


"Mengobrol?"


"Hm, benar. Mengobrol denganmu. Kita berdua, kau dan aku." tegas gadis itu. "Ada apa? Apa bicaraku kurang jelas untukmu?"


"Ah, bukan. Tapi saya-"


"Ngomong-ngomong kita belum berkenalan." ujar gadis itu memotong perkataan Alvin sembari mengulurkan tangannya. "Namaku Monika."


Gadis yang mengaku bernama Monika itu tersenyum senang. Ia tampak puas dengan perkenalan mereka.


"Jadi bagaimana? Apa kau mau mengobrol denganku, Alvin?"


"Itu... saya-"


"Apakah tidak boleh?"


Tanpa disadari Alvin melirik ke belakang. Ia tampak mencari Mr. Robert. Takut-takut pria paruh baya itu tengah memberikan tatapan maut padanya karena bukannya bekerja, ia malah duduk berduaan dengan seorang gadis di sini.


"Boleh, kan?" tanya Monika lagi karena ucapan yang sebelumnya tidak dijawab oleh Alvin.


"Aku... sebenarnya... atasanku…"


"Kau takut atasanmu marah?" tebaknya.


Alvin mengangguk, Monika tersenyum.


"Tidak apa-apa. Tenanglah!" kata Monika. "Jika itu masalahnya, kau tak perlu khawatir. Mr Robert tak akan marah jika mengetahui kau pergi bersamaku."


"Benarkah?"


"Kenapa hal itu sampai begitu mengejutkan untukmu?" ujar Monika. "Apa kau tidak mengenal siapa diriku?"


Alvin diam sebentar kemudian tersenyum canggung sembari menggelengkan kepalanya. "Maafkan saya, tapi saya tidak tahu."

__ADS_1


Monika menatap Alvin lekat-lekat. Ia seolah tak percaya bahwa pemuda ini tak mengenal siapa dirinya. Bagaimana bisa? Meskipun Alvin adalah pelayan baru di klub ini bukankah setidaknya ia harus mengetahui kalau dirinya adalah pelanggan tetap di klub malam ini.


"Mungkin kau agak bingung karena aku tiba-tiba datang padamu seperti ini. Tapi satu fakta tentang diriku. Hampir semua pelayan tampan di klub malam ini selalu bersedia menemaniku untuk mengobrol."


"Begitu rupanya." Alvin manggut-manggut.


"Benar. Tapi khusus untuk malam hari ini agaknya berbeda. Saat melihatmu aku jadi tertarik dan ingin mencobanya denganmu." Monika mendekatkan wajahnya pada Alvin, mencoba berbisik. "Aku sedang ingin mencoba bicara santai denganmu."


Alvin tersenyum gugup saat gadis itu bicara dari jarak yang begitu dekat dengannya.


"Aku sudah biasa melakukannya dengan pelayan di sini. Aku bahkan akan memberikan tip jika mereka bersedia menemaniku."


"Ada tip-nya?"


"Hm."


"Untuk sekedar mengobrol?" Alvin tampak tertarik saat Monika mengucapkan 'tip'. Ia mulai menanggapi serius ucapan Monika itu. Bagaimana tidak, saat ini ia memang sedang membutuhkan uang tambahan untuk membayar biaya hidup sehari-sehari.


Sebelumnya, Alvin memang tahu jika ada tip saat bekerja di sini. Sebelumnya ia juga mendapatkannya dari Evelyn dan teman-temannya yang sudah Alvin gunakan untuk membayar tagihan semesternya.


"Tapi kenapa Mr. Robert tidak pernah memberitahu saya tentang hal ini."


"Itu karena hanya pelayan pilihan yang bisa melakukan ini."


"Pilihan?"


"Ya, pelayan yang punya wajah tampan pasti akan lebih beruntung."


Alvin tampak manggut-manggut. "Begitu, ya?"


Gadis itu tersenyum melihat tingkah polos Alvin. Ia heran. Kenapa pemuda kikuk ini bisa bekerja di klub malam tempat orang-orang liar berada seperti ini.


Monika maju selangkah mendekati Alvin. "Jadi bagaimana? Apa kau bersedia ngobrol denganku, Alvin?"


Untuk kesekian kalinya, Alvin tak menjawab. Ia hanya diam sembari memikirkan keputusannya.


"Alvin…hei!" Monika menjentikkan jarinya di depan wajah Alvin, mencoba menyadarkan pemuda itu dari lamunan.


"Ya?"


"Kau mendengarkan aku?"


"Ya, tentu saja saya dengar, tapi saya…" Alvin lalu menundukkan kepalanya, masih terlihat ragu atas jawaban apa yang akan ia pilih.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu begitu ragu?"


"Tidak ada, hanya saja saat ini pengunjung sedang ramai. Mr Robert pasti akan-"


"Ayolah, ini hanya mengobrol. Lagipula, sudah ku bilang padamu bukan, aku ini pelanggan istimewa di sini. Dan atasanmu.. dia tak akan marah jika kau pergi denganku."


Alvin menghela napasnya. "Baiklah. Saya akan ikut nona."


"Bagus."


Monika tersenyum puas lalu berdiri tegak, merapikan pakaiannya. "Kalau begitu, ikuti aku."


Alvin mengangguk dan melangkah mengikuti Monika yang tampaknya sedang menuju ke ruang vip.

__ADS_1


***


__ADS_2