Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
52. Tak Tergoda.


__ADS_3

Alvin melangkahkan kakinya menuju toilet dengan sedikit terburu-buru. Ia bahkan harus beberapa kali meminta maaf pada pengunjung klub malam karena tak sengaja menabrak atau menyenggol mereka.


Sesampainya di toilet, Alvin mengedarkan pandangan untuk memastikan suasana toilet. Saat itu ia yakin kalau toilet tengah kosong karena orang terakhir baru saja keluar.


Dengan cepat Alvin memasuki salah satu bilik toilet dan dengan gerakan tergesa-gesa menutup pintu toilet lalu menguncinya. Alvin kemudian menutup tutup toilet dan mendudukkan dirinya ke atas closet.


"Apa ini? Apa yang baru saja terjadi. Kenapa gadis itu tiba-tiba berbuat hal tak senonoh seperti itu padaku?" Alvin mengusap wajahnya frustasi. Sesungguhnya ia benar-benar terkejut atas apa yang baru saja terjadi.


"Akkhh…" pekiknya kesal.


Tangan Alvin tampak mencengkram rambutnya sendiri dengan kasar. Ia merasa kesal setengah mati pada dirinya sendiri karena bayangan saat gadis asing itu mencoba menciumnya masih terus terbayang di kepalanya.


Kejadian ini sedikit banyak kembali mengingatkannya dengan kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian saat dimana Evelyn mencium bibirnya. Benar-benar sama persis seperti yang terjadi di parkiran tapi entah kenapa rasanya jauh berbeda.


Evelyn memberikannya rasa yang lain. Rasa yang begitu berbeda. Membuat jantungnya berdebar kencang bahkan ia menginginkannya lagi. Tapi kali ini, rasanya begitu buruk seakan-akan ia baru saja di paksa saat melakukannya bahkan memberikannya rasa trauma.


Alvin menghela napasnya lelah kemudian bangkit dari duduknya. Ia keluar dari bilik toilet dan menuju wastafel.


Alvin menyalakan keran untuk berkumur kemudian menyemburkan air itu dengan rasa jijik seolah-olah ciuman itu akan menjadi penyebab penyakit untuknya. Hal itu ia lakukan karena ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan ciuman gadis asing itu.


Setelah itu Alvin lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan dirinya lalu menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.


Alvin menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi padanya. Ia merasa baru saja di lecehkan. Tunggu, apakah itu memang bisa disebut pelecehan?


Alvin merapikan seragam pelayannya dan bersiap untuk keluar dari toilet. Namun saat hendak melangkahkan kakinya keluar toilet, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis berdiri tepat di depan pintu.


Alvin menatap terkejut. "Anda?"


"Ya, benar. Ini aku. Lagi..." jawab Monika.


Gadis itu tampak berdiri dengan santai di hadapan Alvin. Ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu sembari melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum pada Alvin.


"Apa yang anda lakukan di sini?"


"Aku?" Monika menunjuk dirinya sendiri. "Aku sedang menunggumu."


Alvin mengernyitkan dahi.


"Tapi, bagaimana..." Alvin menoleh ke area sekitar toilet, tak ada satu pun orang di sana, toilet juga masih sepi. "Bagaimana anda bisa-"


"Bagaimana aku bisa masuk kemari? Itukah yang ingin kau tanyakan padaku?" ujar gadis itu.

__ADS_1


Alvin diam saja, tak berniat menjawab ucapan gadis itu.


"Seperti yang kau lihat ini toilet umum." ujar Monika menjelaskan.


"Ya, tapi ini toilet laki-laki, Nona."


"Ini memang toilet laki-laki."


"Dan anda tidak boleh masuk kesini."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa anda masuk ke sini."


"Karena aku ingin." Monika terus menjawab pertanyaan Alvin dengan santai. Wanita itu seperti tak punya beban.


Alvin menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang gadis ini lakukan. Jika dia tahu ini adalah toilet laki-laki lalu kenapa ia tetap masuk ke dalam?


"Apa anda tidak malu masuk ke toilet laki-laki seperti ini?"


Monika hampir tak bisa menahan tawanya mendengar perkataan pemuda tampan ini.


"Dan kenapa nona harus menggangguku?"


Alvin kembali menunjukkan ekspresi tak percaya diwajahnya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran wanita di hadapannya ini.


"Bisakah nona keluar. Ini jelas tidak sopan jika anda berada di toilet pria seperti ini."


"Ayolah, aku bisa berada dimana aku mau. Tak ada yang bisa menghalangiku. Lagipula aku sudah mencarimu sejak tadi." ujar Monika lagi.


"Saya tidak ingin tahu dengan apa yang sedang anda lakukan di sini atau apa yang anda cari. Tapi saya harap itu tidak ada hubungan apapun dengan saya. Jadi saya permisi."


"Tidak." Monika buru-buru merentangkan sebelah tangannya untuk menutup pintu, mencegah Alvin pergi. "Kau sudah mengabaikanku tadi dan aku tak ingin diabaikan lagi."


Alvin mengerutkan alisnya. "Apa yang anda lakukan? Dan sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya."


"Kau istimewa. Ada sesuatu pada dirimu yang membuat aku menyukaimu. Maukah kau tidur denganku?"


Alvin menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tak punya banyak waktu untuk meladeni hal-hal seperti ini.


"Sudah cukup, nona. Saya harus bergegas, saya minta anda menyingkir. Saya hanya tak ingin berbuat kasar pada wanita."

__ADS_1


"Tapi aku suka jika ada yang kasar padaku." goda Monika.


Alvin menatap Monika dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Saya rasa anda sedang mabuk sekarang, nona. Tolong sadarkan diri anda terlebih dahulu."


"Aku mabuk?" Monika tertawa renyah. "Aku sedang tidak mabuk. Aku sadar. Seratus persen. Tapi, yah, aku memang mabuk. Aku mabuk kepayang oleh dirimu. Aku menginginkanmu. Jadi bagaimana kalau kita-"


"Bisa tolong jauhkan tangan anda. Saya ingin pergi." pinta Alvin.


Monika menggeleng, kemudian tersenyum.


"Ah, kupikir aku tak cukup menarik untukmu. Kau pelayan yang punya selera tinggi rupanya." ujar Monika.


Monika sungguh tersinggung sekarang karena Alvin yang terus menerus menolaknya. Sejujurnya Alvin adalah orang pertama yang menolaknya untuk bermain cinta dan itu sangat melukai harga dirinya.


"Dengar!" Monika melangkah maju.


Melihat Monika yang melangkah maju, Alvin dengan cepat melangkah mundur setengah meter, menjauh dari wanita itu.


"Kenapa kau menjauh begitu?" Monika semakin merasa kesal sekarang. "Apa kau mencoba untuk menghindariku?"


"A-aku," Alvin tergagap.


Pemuda itu tidak langsung menjawab dan malah terdiam sembari menatap gadis itu dengan tatapan gugup. Saat ini Alvin tengah berusaha untuk mencari cara dalam pikirannya untuk menghindari gadis ini tetapi otaknya terasa kosong.


"Ada apa Alvin?" Monika melangkah maju. "Kenapa kau tampak begitu gugup?"


"Aku tidak gugup."


"Benarkah begitu?" Monika terus melangkah maju, membuat Alvin kembali melangkah mundur. Alvin bahkan tak menyadari bagaimana Monika berhasil membuatnya terpojok hingga punggungnya menyentuh dinding.


Monika mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Alvin tapi Alvin dengan cepat menepisnya. "Maaf nona, jangan bertindak kurang ajar pada saya."


"Menarik. Sungguh menarik. Ini pertama kalinya ada seseorang yang tak tergoda oleh rayuanku seperti ini. Kau tau, selama ini tak pernah ada yang bisa menahan pesonaku."


Sembari mencondongkan tubuhnya pada Alvin, Monika tersenyum licik.


"Mari kita lihat seberapa kuat kau menahan pesonaku."


"Apa aku menggangu kalian?" terdengar suara berat dari arah pintu masuk, membuat Monika langsung memundurkan langkahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2