
Alvin tak pernah merasa lebih bahagia daripada saat ini. Ia tanpa disangka kembali bertemu dengan gadis yang ia temui di lantai bawah tadi. Seorang gadis yang kecantikannya begitu Alvin kagumi hanya di pertemuan sepintas mereka.
Itu hanya pertemuan beberapa detik yang berhasil membuat Alvin tak bisa melupakan pertemuan mereka. Sekarang, Alvin dan gadis itu seolah berjodoh dan kembali bertemu di sini.
Alvin menatap wajah gadis itu dari posisinya. Wajah gadis itu berhasil membuat Alvin tak berkedip dan membeku di tempatnya. Ia terpana. Seolah Alvin tak mengenal dunia sekitarnya lagi.
"Maaf Evelyn, aku ada keperluan mendadak." Gadis bernama Ziva tadi bicara dan akhirnya menyadarkan lamunan Alvin.
'Jadi nama gadis cantik itu adalah Evelyn.' batin Alvin yang entah kenapa merasa jauh lebih senang setelah mengetahui nama dari gadis itu.
"Memangnya kau darimana saja?" tanya gadis lainnya.
"Aku tadi aku harus menerima telepon dulu." jawab Ziva sembari melangkah menuju sofa dan duduk di sebelah seorang pria tampan yang Alvin tebak adalah kekasihnya.
Diam-diam Alvin melirik kembali pada gadis bernama Evelyn itu. Gadis itu tampak sedang asyik bersenda gurau dengan teman-temannya.
Evelyn terlihat duduk di ujung sofa, sendirian, tanpa ada pasangan yang menemani di sebelahnya. Berbeda dengan teman-temannya yang terlihat membawa pasangan. Hal itu membuat Alvin sedikit bertanya-tanya apakah gadis cantik itu masih single?
Namun Alvin buru-buru menggeleng.
Ada apa dengannya barusan? Alvin meruntuki apa yang baru saja ia pikirkan. Untuk apa juga dia harus memikirkan hal-hal konyol seperti itu. Memangnya kenapa kalau gadis itu masih single atau tidak? Hal itu sama sekali bukan urusannya!
Sembari menghela napas, Alvin menggelengkan kembali kepalanya, 'Bodoh sekali. Kenapa aku memikirkan hal konyol itu' batinnya.
Alvin kembali melihat Evelyn yang tampak sedang tertawa-tawa bersama temannya. Namun, saat itu juga Alvin menyadari kalau gadis itu ternyata tengah menatap padanya.
'Sial, dia melihatku' Alvin berujar dalam hati, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tatapan Evelyn itu berhasil membuat tubuh Alvin membeku di tempatnya.
"Kenapa dia menatapku seperti itu. Apa dia tau kalau aku sedang memikirkannya? Dan apa dia tau kalau dari tadi aku menatapnya?" gumam Alvin menundukkan kepalanya, malu.
Sementara Alvin masih sibuk menghilangkan rasa malu karena kedapatan menatapnya, Evelyn malah tersenyum penuh arti.
Sejujurnya, Evelyn tahu kalau pelayan itu memang tengah menatapnya. Beberapa saat setelah memasuki ruangan, pandangan mata pelayan itu memang terus mengarah padanya.
Ah, Evelyn yakin kalau pemuda itu pasti terpukau pada dirinya. Yah, tatapan kagum dari lawan jenis seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa bagi Evelyn.
__ADS_1
Sejak tadi Evelyn juga diam-diam melirik Alvin. Dan tanpa sengaja ia malah mendapati kalau pemuda itu tengah menatapnya. Ah salah, lebih tepatnya tengah terpaku pada dirinya.
"Pelayan ini… bukankah dia…"
"Namanya Alvin." Ziva memotong ucapan Evelyn.
"Kau ini yang sudah menabrakku di lantai bawah tadi bukan? Kau si pelayan baru itu?!" tanya Evelyn pada si pelayan, mengabaikan ucapan Ziva.
Alvin tersadar dan jadi salah tingkah setelah tiba-tiba saja diajak bicara oleh Evelyn. Alvin buru-buru menganggukkan kepalanya gugup.
"I-iya, itu saya nona, benar. Maaf atas kecerobohan saya tadi."
"Lantas, apakah kau datang untuk mengantar pesanan kami?" tanya Evelyn lagi.
"Iya, nona."
"Lalu kenapa kau hanya berdiri diam di ambang pintu seperti itu. Cepat bawa minumannya kemari!" ujar Evelyn sambil menunjuk meja yang ada di tengah ruangan dengan dagunya.
"Baik." Alvin mengangguk patuh.
Dengan cepat Alvin pun segera masuk untuk menyusun gelas kosong dan juga botol minuman yang di pesan oleh orang-orang itu ke atas meja. Tapi entah kenapa Alvin merasa kalau mata Evelyn terus memperhatikan pekerjaannya sejak tadi.
"Sudah selesai, nona." ujar Alvin setelah menyelesaikan tugasnya. Ia membungkukkan tubuhnya sopan pada orang-orang yang duduk di dekatnya.
"Dia tadi hanya berdiri dan menunggu di depan." ujar Ziva tertawa setelah mengatakan apa yang Alvin lakukan diluar ruangan tadi.
"Benarkah?" Evelyn berekasi.
"Benar, awalnya aku pikir dia tamu juga." Ziva tertawa lagi.
"Jadi apa dia pegawai baru? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini." tanya seorang gadis yang berdiri di dekat Ziva.
"Ya, dia bilang dia baru masuk bekerja siang hari tadi. Itu sebabnya dia tidak tahu siapa kita."
Dan setelah mendengar cerita Ziva barusan para gadis yang ada di dekat Ziva langsung mengangguk paham. Mereka bisa mengerti atas sikap canggung yang ditunjukkan oleh pelayan baru ini.
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang!" ujar Ziva sambil tersenyum pada Alvin.
__ADS_1
"Baik," Alvin mengangguk.
"Kami akan memanggilmu lagi kalau ada yang dibutuhkan atau ingin memesan minuman lagi. Ini uang tip untukmu, ambillah!"
"Ah... dan ini juga, uang tip dariku!" Evelyn terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dari dalam tasnya dan langsung memberikannya pada Alvin. "Kau ambillah uang ini!"
Alvin menatap bingung pada uang pemberian dari para gadis itu. Apa hal wajar menerima uang tip seperti ini.
"Ambillah!" ujar Ziva.
"Tapi ini-"
"Wow, ada apa ini? Apa kalian sedang memperebutkan pelayan ini?" seru seorang gadis yang baru saja datang.
"Wah, apa kau pelayan baru? Ini adalah pertama kalinya aku melihat pelayan setampan kau!" puji gadis lainnya yang juga baru tiba dan langsung duduk di sofa, tepat di hadapan Evelyn sambil menatap takjub pada Alvin.
"Dan tidak biasanya Evelyn kita memberikan uang tip pada pelayan di sini. Apakah karena wajahnya yang sangat tampan?" lanjutnya menggoda Evelyn.
"Tutup mulutmu, Helena!" ujar Evelyn sinis lalu menggeleng pelan saat mendengar kata-kata sindiran dari temannya itu yang malah semakin menjadi-jadi.
"Aku hanya berbuat baik," ujar Evelyn sambil tersenyum simpul. Evelyn kembali menoleh pada Alvin. "Lagipula dia pelayan baru disini."
Alvin hanya menatap para gadis itu seperti orang bodoh. Apa orang-orang ini sedang mengerjai dirinya?
"Kau! Ambillah uang ini dan pergilah!" ujar Evelyn sambil menyodorkan lagi uang tip di tangannya pada Alvin.
"Ya, cepat pergi! Kalau tidak temanku yang bernama Helena ini akan menahanmu di sini dan akan memperk*samu nanti." ujar Ziva menunjuk pada gadis yang baru datang tadi.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan dengan ragu meraih uang tip pemberian Ziva dan Evelyn itu baru kemudian ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Dan sesampainya Alvin di luar ruangan, ia segera menutup kembali pintu ruangan itu dan memegangi dadanya. Ada apa ini? Kenapa jantungnya berdetak kencang tak karuan begini? Terutama saat bicara dengan Evelyn, tatapan gadis itu berhasil membuat Alvin seakan melupakan sekitarnya.
Dan sekarang, Alvin jadi benar-benar yakin kalau ia dan Evelyn memang pernah bertemu sebelumnya. Dimana mereka bertemu, Alvin juga tidak ingat, tapi wajahnya benar-benar familiar di ingatannya.
Satu hal yang pasti dari Evelyn adalah gadis itu benar-benar sudah berhasil mencuri hati Alvin sejak pertemuan mereka saat insiden di lantai bawah tadi.
Alvin menyukainya.
__ADS_1
Alvin menyukai gadis bernama Evelyn itu.
***