Kekasihku Nona Muda

Kekasihku Nona Muda
49. Tidak Pantas Cemburu


__ADS_3

Beberapa saat setelah meninggalkan ruangan Evelyn, Alvin bekerja dengan tak fokus. Tampak beberapa kali ia hampir menumpahkan minuman yang ia bawa. Alvin bahkan juga sempat menabrak seorang pengunjung dan berakhir dengan mendapat umpatan.


Alvin akui kalau saat ini dirinya memang sedang dalam kondisi tak sehat. Tubuhnya terasa jauh lebih lemas dari hari biasanya. Ditambah lagi ia tak fokus karena sejak tadi otaknya terus memikirkan Evelyn yang tengah berduaan dengan seorang lelaki di salah satu ruangan Vip.


Ingatan tentang Evelyn membuat Alvin bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Alvin jadi penasaran apa sebenarnya hubungan Evelyn dengan lelaki itu? Jujur saja, pertanyaan itu cukup mengganggu dirinya, karena entah kenapa Alvin seperti baru saja menyaksikan hal yang begitu menyakitkan hatinya.


Alvin tahu kalau dirinya tak pantas merasa cemburu dengan siapapun lelaki yang dekat dengan Evelyn saat ini. Ia bahkan tak berhak mengetahui apapun tentang urusan pribadi gadis itu. Tapi tetap saja, hati tak bisa bohong. Ia memang berharap kalau Evelyn dan lelaki itu tak punya hubungan apa-apa.


Saat ini Alvin hendak mengantar pesanan dari salah satu tamu. Namun tampaknya tubuhnya tak bisa di ajak kompromi. Ia sudah tak mampu lagi menahan sakitnya, karena baru saja Alvin mencoba untuk melangkah, tiba-tiba saja tubuhnya limbung ke kiri.


"Astaga, hati-hati, Alvin." ujar rekan kerja Alvin yang bernama Rasyit. Pemuda itu datang tiba-tiba dan langsung membantu menangkap nampan Alvin yang hampir jatuh.


"Terima kasih, Rasyit."


"Kau hampir saja menjatuhkannya barusan."


"Ya benar, aku hampir saja mendapat masalah. Untung saja kau datang dan membantuku." ujar Alvin tersenyum lega pada lelaki itu.


"Tak masalah. Ayo, kubantu. Berikan nampannya padaku." ujar Rasyit. Ia menarik perlahan nampan yang masih Alvin pegang.


Tubuh Alvin kembali limbung. Ia sontak membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang memegang kedua lututnya. Alis Rasyit tampak mengerut saat melihat wajah Alvin yang tampak begitu pucat.


"Tapi apakah kau baik-baik saja? Maksudku, kau terlihat seperti akan pingsan barusan."


"Ya, maaf, tadi pandanganku sedikit kabur dan aku tak bisa menahan tubuhku yang goyah."


"Ada apa? Apa kau sedang tidak enak badan hari ini?"


"Ah, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing saja." Alvin bicara dengan sedikit gemetar. Tubuhnya terasa begitu lemas dan tampak mengeluarkan keringat dingin.


"Ini sepertinya tak bagus." gumam Rasyit menoleh ke area sekitarnya. "Kau tampaknya sedang sakit. Ayo, berhenti bekerja dulu dan ikut aku ke meja Bar."


"Berhenti bekerja? Tapi-"


"Kau masih bisa jalan kan? Ayo cepat!" potong Rasyit lebih dahulu melangkahkan kakinya tanpa mendengar ucapan Alvin lagi.


Alvin memilih mengangguk pasrah dan mengikuti lelaki itu menuju meja Bar dengan langkah gontai. Rasyit tampak memanggil pelayan lain, meminta bantuan untuk mengantar nampan minuman pesanan yang sempat ingin Alvin antarkan tadi.


"Ayolah, kau duduklah di sini dulu!" perintahnya pada Alvin menepuk kursi yang ada di dekat mereka.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu duduk."


"Berikan segelas air putih." ujar Rasyit pada Bartender yang bertugas. Ia seolah tak mendengar ucapan Alvin barusan. Ia lalu menunjuk Alvin dengan dagunya. "Alvin tampak tak fokus saat bekerja, sepertinya agak kelelahan."


Sang bartender mengangguk kemudian dengan cepat memberikan segelas air putih pada Alvin.


"Ini air putihnya." ujar sang bartender meletakkan air putih iti ke atas meja.


"Terima kasih."Alvin tersenyum. "Harusnya tidak perlu repot-repot begini."


"Ck, apa yang kau katakan. Tidak ada yang direpotkan di sini. Dan bisakah kau duduk dulu!"


"Aku tidak apa-apa. Sungguh." ujar Alvin.


"Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas wajahmu itu tampak pucat sekali. Kau ini sedang sakit, Alvin."


"Kita tidak boleh lama-lama bersantai di sini. Lihatlah! Pengunjung sedang ramai dan butuh dilayani."


"Masih banyak pelayan yang menggantikkan kita. Tenang saja dulu. Jadi, cepat duduk!" Rasyit menekan kedua bahu Alvin, memaksa agar pemuda itu duduk di kursi.


Alvin duduk, meskipun itu karena paksaan Rasyit. Ia menoleh kanan dan kiri dengan tatapan canggung.


"Tapi Rasyit, apa kau tidak takut kalau bos kita akan marah jika melihat kita malah bersantai disini?"


Alvin menunduk. "Ya, tapi kan-"


"Ngomong-ngomong, jam berapa terakhir kali kau makan hari ini?"


"Sekitar jam dua tadi siang."


"Siang? Yang benar saja. Di sini kita akan bekerja sampai subuh, Alvin. Kenapa kau tidak makan dulu tadi?"


"Ya. Aku tahu. Aku hanya tidak lapar. Perutku tidak enak, jadi aku memutuskan menunda makan."


"Apa kau mau makan dulu?" tanya rekan kerja Alvin dengan nada khawatir.


Alvin menggeleng, "Tidak. Tidak perlu."


Jawaban Alvin itu membuat Rasyit menghela napasnya malas.

__ADS_1


"Alvin, kau harus makan dulu. Aku lihat keadanmu tak begitu baik."


"Lihatlah, ini bahkan belum jam istirahat kita."


"Apa maksudmu? Kau akan mati kelaparan jika menunggu jam istirahat kita. Kau lupa? Jam istirahat kita masih akan berlangsung beberapa jam lagi."


"Tidak masalah, saat ini aku juga sedang tidak lapar, Rasyit."


"Apa kau yakin?"


"Ya, aku yakin aku baik-baik saja."


"Baiklah jika kau bilang begitu. Tapi kalau kau merasa sakit, kau harus langsung istirahat dan makan!"


Alvin menganggukkan kepalanya. "Kau tenang saja."


Rasyit menatap Alvin selama beberapa detik sebelum kemudian mengangguk.


"Kau minum ini dulu, oke." ujar rekan kerja Alvin itu sembari mendorong kembali gelas air putih tadi agar lebih dekat dengan Alvin. "Kalau kondisimu lebih baik, barulah kau bisa lanjut bekerja."


Alvin mengangguk dan meraih gelas itu dengan senyum canggung, "terima kasih atas bantuannya."


"Ya, ini hanya bantuan biasa. Jangan terbebani. Ya sudah, aku tinggal dulu." ujar rekan kerja Alvin itu sembari melangkah meninggalkan Alvin.


Alvin yang sedang meminum air putih miliknya buru-buru menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian Rasyit, Alvin hanya duduk diam, termenung di meja bar itu. Ia memikirkan tentang dirinya sendiri. Lebih tepatnya, tentang hidupnya yang seolah berada di jalan buntu dalam hal percintaan.


Pertama, Alvin menjalin hubungan dengan Karina namun ia justru dikhianati. Dan sekarang ia jatuh cinta pada Evelyn, seseorang yang sempurna namun tak dapat ia miliki.


Alvin meneguk minumannya sembari berpikir, jika dia menjadi orang berada, apakah Karina akan meninggalkannya seperti waktu itu? Selain itu Alvin yakin kalau ia juga tak perlu bekerja siang dan malam seperti ini.


Alvin menghela napasnya lelah, menatap lekat-lekat pada gelas air yang ada di tangannya kemudian meletakkan gelas ituke atas meja bar. Alvin lalu memejamkan kedua matanya sembari memijit pangkal hidungnya perlahan, mencoba mengurangi rasa pusing di kepalanya.


'Apa yang salah denganku. Kenapa pikiranku melantur begini. Harusnya aku bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.' batin Alvin.


Alvin membuka kembali matanya lalu menoleh ke area sekitarnya. Ia menyadari klub malam itu mulai terasa penuh oleh pengunjung yang berdatangan.


Hal itu membuat Alvin menyadari kalau ia harus segera kembali bekerja.

__ADS_1


"Apa kau pelayan di klub ini?" Suara wanita tiba-tiba terdengar dari samping kirinya.


***


__ADS_2