Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 21


__ADS_3

HAPPY READING


“saya ingin bertanya lebih dulu, pak,” ucap agnes meminta izin.


“silahkan, nak agnes,” jawab pak abdi.


“apa benar di sekolah ini, ada seorang siswi yang Bernama Arumi Tirani empat tahun lalu?” tanya agnes menatap pak abdi.


Pak abdi sedikit terdiam. “saya rasa ada.”


DEG


Jantung agnes rasanya ingin lompat seketika Ketika mendengar jawaban pak abdi. Jika itu memang benar ada, kemungkinan besar memang arumilah orang yang telah melakukan itu. Tapi bisa saja itu fitnah kan? Bisa saja itu fitnah untuk menutupi kesalahan orang lain. pikir agnes masih mencoba untuk berspekulasi positif.


“Apa bapak yakin? Mungkin saja hanya nama belakang yang sama,” ucap agnes mencoba mencari celah agar pak abdi memang salah jawab.


“Untuk lebih jelas mari ikut saya ke ruang arsip,” ucap pak abdi yang dibalas anggukkan oleh agnes.


Langkah kaki agnes terasa berat Ketika mengkuti Langkah pak abdi yang semakin dekat dengan ruang arsip.


Sampai di ruang arsip, mereka disambut oleh seorang pegawai laki-laki yang memang menjaga disana. “Saya butuh data yang tadi,” ucap pak abdi yang dianggukki oleh pegawai ruang arsip.


Dahi agnes berkerut bingung. “data yang tadi? Apa sebelumnya sudah ada yang datang selain saya, pak?” tanya agnes heran.


Pak abdi mengangguk. “tadi juga ada pengacara dari keluarga hutama yang meminta data siswa dengan nama Arumi tirani ini,” jawab pak abdi jujur.


Ya Allah. Aku keduluam Ayah. Batin agnes yang sudah bisa menebak siapa yang dimaksud pak abdi.


“ini Pak,” ucap pegawai memberikan dengan sopan pada pak abdi.


Pak abdi menerima berkas tersebut. “ini. Nak agnes bisa cari sendiri,” ucap pak abdi memberikan berkas tebal itu pada agnes.


Agnes menerimanya. Dia membuka satu persatu lembar kertas itu. Agnes benar-benar tidak ingin ada yang terlewat. Hingga lima belas menit membolak-balikkan halaman. Akhirnya agnes berhenti pada halaman dua ratus lima belas. Halaman yang menunjukkan identitas lengkap orang yang di maksud.

__ADS_1


Badan agnes rasanya panas dingin. Kakinya terasa lemas melihat data itu. Benar adanya jika itu adalah data diri mengenai arumi. Semua data yang tertulis disana sama dengan data yang tadi arumi berikan pada agnes saat kunjungan di penjara.


Tapi tunggu?


Arumi meraba-raba kertas yang menunjukan data diri arumi. Dia membedakan dengan lembar yang lainnya. Kenapa kertas data arumi berbeda? Ada apa ini? Dan kenapa hanya data diri arumi? Batin agnes bertanya-tanya. Tentu ini pasti sebuah keganjalan yang harus agnes selidiki.


“pak,” panggil agnes pada pak abdi yang sejak tadi menemani sambil berdiri di sebelahnya.


“iya,” jawab Pak abdi.


“boleh buku identitas siswa ini saya pinjam?” tanya agnes menatap pak abdi penuh harap.


“maaf sekali, nak agnes. Buku ini tidak bisa dipinjamkan. Tapi buku ini bisa di fotokopi saja,” ucap pak abdi menolak halus.


“tapi saya sangat butuh, pak,” ucap agnes memohon.


“maaf, nak agnes. Peraturan tetaplah peraturan,” ucap pak abdi lagi.


Agnes memegang dahinya mencoba berpikir. Ah sudahlah, dia akan foto saja lebih dulu, “saya izin foto saja, pak,” ucap agnes meminta izin. Karena jika di fotokopi maka tidak akan ada bedanya nanti. Semoga dengan di foto ini memperlihatkan sedikit perbedaan. Meskipun mustahil karena warna kertas itu sama, sedikit kekuningan.


Pak abdi mengangguk dan tersenyum. “semoga semuanya berjalan lancar dan kasus ini cepat selesai, nak agnes,” ucap pak abdi tulus.


“Aamiin. Sekali lagi terimakasih, pak. Kalau begitu saya permisi,” ucap agnes sopan berpamitan pada pak abdi dan pegawai ruang arsip itu.


Pegawai arsip menatap kepergian agnes sambil mengambil kembali berkas identitas siswa itu. Anda terlambat datang, nona.


…..


Harun memberhentikan mobilnya di kantor hukum miliknya. Sedangkan anaknya, agnes memilih bekerja di tempat lain karena tidak ingin satu tim nanti dengan ayahnya saat bekerja. Harun yang tegas dan agnes yang cukup keras tidak akan bisa disatukan.


Lelaki itu keluar dari mobil dan segera masuk untuk menemui hutama yang sudah menunggunya lebih dulu di kantor hukum.


“maaf sedikit terlambat, tuan hutama,” ucap harun memasuki ruangannya dan mengulurkan tangannya kepada hutama.

__ADS_1


Hutama yang duduk di sofa berdiri dan membalas jabatan tangan harun hingga mereka bersalaman. “tidak apa-apa, harun,” jawab hutama santai.


“anda sendiri, tuan?” tanya harun setelah duduk berhadapan dengan hutama.


Hutama mengangguk. “apa semuanya sudah beres?” tanya hutama tanpa basa-basi.


Harun mengangguk. “semua sudah aku lakukan. Persidangan besok akan membuat pihak terdakwa kesulitan untuk meminta keringanan hukuman. Dan kalau bisa, mungkin besok juga pengadilan akan segera memutuskan lama hukuman untuk terdakwa,” jawab harun menjelaskan.


Hutama mengangguk. Senyum kecil terbit di wajah lelaki itu. “kau memang dapat aku andalkan, harun. Aku sudah tidak peduli dengan kasus empat tahun lalu. Itu juga sudah berjalan lama, dan cucuku pasti sudah tenang di alam sana. Aku hanya ingin Wanita itu di cap sebagai tersangka dan penjahat agar tidak ada jalan untuk bintang kembali bersamanya. Menumbuhkan rasa benci di hati bintang kepada arumi akan sangat baik untuk kehormatan keluargaku,” ucap hutama gamblang.


Tidak ada satupun yang dia sembunyikan dari harun. Dan harun dengan senang hati melakukannya asal bayaran yang dia terima setimpal dengan apa yang dia kerjakan sebagai pengacara.


“dan setelah itu perjodohan agnes dan bintang akan kita resmikan ke pernikahan,” lanjut hutama yang membuat harun tersenyum. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat pasangan mapan seperti bintang. Ditambah lagi latar belakang keluarga bintang yang merupakan orang terpandang.


…..


“kenapa?” tanya angkasa saat bintang masuk ke salah satu warung makan depan kantor polisi tempat mereka dinas dengan wajah lesu.


bintang hanya menggeleng menjawab pertanyaan angkasa.


Sekarang sudah jam makan siang. Dan wajar jika warung ini nampak ramai oleh polisi. Kalau kamu mau jodoh polisi, maka bisa ikut makan siang disini.


Bintang menggeleng.


“aku dapat kabar kalau sidang terdakwa kasus pembunuhan kintani dimajukan besok,” ucap angkasa memberitahu bintang.


“kau tahu darimana?” tanya bintang terkejut sekaligus memastikan. Pasalnya, tidak ada yang memberitahu ini kepadanya. Apa daddy dan maminya sudah tahu? Bintang dapat menebak ini pasti ulah kakeknya. Dia tahu nya sidang akan dilakukan lusa, tapi ini dimajukan satu hari lebih cepat.


“Komandan Iskandar,” jawab angkasa memberitahu.


Bintang hanya mengangguk dan menormalkan ekspresinya agar angkasa tak menaruh curiga atas sikapnya. Tapi sepertinya bintang salah. Angkasa lebih dulu menangkap keganjalan itu bahkan saat mereka membawa arumi ke penjara.


Angkasa memandang sekitar untuk memastikan situasi. Nampak para polisi lahap dengan makannya dan ada juga yang asik mengobrol. Dirasa aman, angkasa kembali menatap bintang. “sebenarnya ada apa antara kau dan arumi, bintang?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2