
Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!
"Beraninya kau menjelekkan nama keluargaku?" tanya Hutama marah dengan tangan terkepal.
"Kenapa? Apa Kakek marah? Kakek merasa tersinggung? Aku bisa saja memenjarakan Kakek sekeluarga sekarang juga!"ucap Arumi tajam membalas tatapan Hutama.
"WAH! WAH! WAH! Wanita kampung ini ternyata sudah berani melawan ku! Hutama berjalan melewati Bintang dan berjalan mendekati Arumi.
"Kau berani karena kau sudah kembali menarik simpati Bintang rupanya, ya. Kau ingat ini, ya! Sampai kapanpun, mau kau bersalah atau tidak, yang pasti Bintang tidak akan kembali bersamamu!" ucap Hutama tajam.
"Itu saja sudah menunjukan bahwa keluargamu sendiri, lebih memihak ku dari dirimu sendiri yang merupakan Kakek kandungnya!" jawab Arumi terkekeh pelan menatap Hutama.
Wajah Hutama memerah dengan kedua tangannya mengepal kuat. Sungguh, apa yang Arumi sampaikan sangat menyinggung Hutama saat ini. "Berani sekali kau, Arumi!" ucap Hutama menunjuk wajah Arumi dengan jari tangan kanannya.
"Aku tidak takut, Kakek!" jawab Arumi tegas.
"Orang yang benar, tidak akan pernah takut dengan apa yang dia sampaikan, kakek. Dan orang yang salah, akan mudah tersinggung dengan perkataan orang lain meskipun bukan dirinya yang disinggung," lanjut Arumi lagi dengan memberikan senyum manis yang membuat Hutama semakin marah.
"KAU!"
"KAKEK!" teriak Bintang cepat menahan tangan Hutama yang sudah terangkat untuk menampar Arumi.
Semuanya menatap terkejut apa yang Hutama lakukan. Termasuk Arumi yang kini menunduk menyembunyikan wajahnya. Nafas wanita itu memburu karena terkejut.
Setelahnya Arumi mengangkat kepala dan melihat punggung Bintang yang sudah berada di depannya.
"Kakek selalu mengajarkan aku untuk tidak mengangkat tangan kepada wanita," ucap Bintang menghempaskan tangan Hutama.
"Kau berani melawan Kakekmu demi wanita ini?" tanya Hutama menatap Bintang.
"Karena yang Kakek lakukan sudah sangat keterlaluan!" jawab Bintang dengan menaikan nada suaranya.
"Kau senang karena cucuku membelamu?" tanya Hutama beralih menatap Arumi.
"Dia hanya melakukan itu untuk mencegahmu terlihat seperti banci, Kakek. Karena hanya seorang banci yang mengangkat tangan kepada wanita, dan harusnya kau berterimakasih pada cucumu karena tindakannya itu," jawab Arumi lagi.
__ADS_1
Bintang yang mendengar jawaban Arumi berbalik dan menatap tak percaya atas apa yang Arumi sampaikan.
"Arumi ku tidak sekasar ini," ucap Bintang menggeleng tak percaya.
Arumi terkekeh pelan. "Arumi ku? siapa Arumi mu? Aku hanya Arumi Tirani, wanita desa yang dengan bodohnya memberikan seluruh hidupnya untuk lelaki brengsek sepertimu," jawab Arumi menatap Bintang berani. Entah darimana semua keberanian ini, yang pasti Arumi sangat senang, setidaknya dia bisa membela diri dan menyelamatkan hatinya dari rasa sakit yang teramat dalam.
"Aku masih mencintaimu, Bintang," ucap Arumi yang tiba-tiba membuat semua orang terdiam dan menatap tak percaya apa yang wanita itu sampaikan.
"Itu yang ingin kau dengar dariku setelah bebas, bukan?" lanjut Arumi terkekeh pelan.
Agnes tersenyum melihat sikap Arumi yang seperti ini. Wanita itu nampak beribu kali lebih cantik dengan ketegasannya.
"Maaf, Bapak Bintang yang sangat saya hormati, keinginan anda tidak akan tercapai untuk yang satu itu, jadi jangan berusaha untuk mencari pembelaan karena sudah melindungiku dari Kakekmu," ucap Arumi lagi.
"Kau memang tidak tahu diri, Arumi. Tidak tahu Terima kasih," ucap Harun menyela.
"Jangan ikut campur!" ucap Agnes bersuara menjawab perkataan Harun. Agnes tahu, Harun akan menjelekkan Arumi dan memanfaatkan situasi.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Ali yang sejak tadi diam.
"Arumi sudah dibebaskan dari penjara, om. Dan itu artinya dia sama sekali tidak melakukan tuduhan yang keluarga Nagara tuduhkan," ucap Agnes.
"Saya datang untuk berterimakasih kepada Tante Sasmita atas segala kebaikannya sewaktu memberikan penyuluhan di penjara," jawab Arumi lembut.
"Sampaikan kepada istri saya," ucap Ali mempersilahkan Arumi untuk mendekati istrinya.
Arumi mengangguk. "Terimakasih," ucap Arumu lembut dan berjalan mendekati Sasmita tanpa memperdulikan Hutama dan Bintang yang ada di dekatnya.
Sedangkan di ujung teras, Tyas yang sejak tadi menyaksikan tersenyum melihat keberanian Arumi. Ya, dia memang mengikuti Hutama dan Harun sejak kedua lelaki itu keluar dari rumah mereka. Kau sudah bisa membela dirimu sendiri, nak. Batin Tyas senang.
Arumi berhenti tepat di depan Sasmita. Wanita itu memberikan senyumnya yang dibalas senyuman balik oleh Sasmita. "Boleh saya memeluk Tante?" tanya Arumi meminta izin.
Sasmita tersenyum dan mengangguk. Tanpa mw jawab, Sasmita memberikan pelukannya kepada Arumi.
Dengan sigap Arumi membalas pelukan Sasmita. "Harusnya Kamu panggil Mami," ucap Sasmita berbisik yang hanya di dengar oleh dia dan Arumi.
Arumi tersenyum. "Terimakasih banyak, Nenek," jawab Arumi balik berbisik yang membuat Sasmita tak kuasa menahan senyumnya. Mata wanita itu berkaca-kaca karena mendengar panggilan yang diberikan oleh Arumi.
__ADS_1
"Maaf jika aku berkata kasar kepada Bintang dan Ayah mertua mami," ucap Arumi lagi berbisik yang dibalas anggukkan kepala oleh Sasmita.
Setelah beberapa berpelukan, Arumi dan Sasmita saking melepas pelukan. Setelahnya Arumi beralik menatap Ali dan tersenyum. "Terimakasih," ucap Arumi lembut. Dapat Arumi rasakan bahwa Ali adalah lelaki baik namun itu semua tertutup oleh pribadinya yang pendiam dan tegas.
Tanpa bicara apa-apa, Arumi langsung berbalik. "Ayo," ucap Arumi mengajak Agnes untuk segera pergi meninggalkan orang-orang yang sudah memberikannya luka.
"Tidak ada yang bisa membawa Agnes, termasuk dirimu," ucap Harun yang tiba-tiba memegang tangan Agnes dengan Kuat.
"Lepaskan aku!" ucap Agnes menatap tajam Harun.
"Kau akan tetap disini!" ucap Harun semakin menguatkan pegangan tangannya pada tangan Agnes.
Agnes menghela nafas pelan. Percuma jika dia melawan Harun saat ini. Lelaki itu akan bersikeras menahannya dan membuat tangan Agnes semakin sakit.
"Pergilah, Arumi. Berlama disini tidak baik untuk mentalmu," ucap Agnes sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Arumi untuk memberi kode agar Arumi mengikuti apa yang dia katakan.
Arumi mengerti. Wanita itu memasang wajah memelas dan menghel nafas lelah. "Jaga dirimu, Agnes. Dan terimakasih untuk semuanya," ucap Arumi dan berjalan meninggalkan mereka semua yang memberikan luka dan kenangan buruk pada masa lalu Arumi.
"Jangan pergi, Arumi," ucap Bintang tiba-tiba menahan tangan Arumi.
Dengan cepat Arumi menarik tangannya dari tangan. Bintang. "Kita sudah tidak ada urusan. Aku bukan lagi tahanan keluargamu, jadi jangan mengaturku," ucap Arumi tegas.
"Aku hanya memintamu untuk tidak pergi," ucap Bintang sendu.
"Apa kau mendengarkan saat aku memintamu untuk percaya padaku saat tuduhan itu diberikan kepadaku?" tanya Arumi balik bertanya.
"Selain murahan, kau juga wanita yang angkuh dan sombong," ucap Hutama bersuara menatap Arumi tajam.
"Aku bersumpah semoga hidupmu selalu susah sampai anakmu sekalipun!"
"AYAH!"
"KAKEK!"
...----------------...
Satu kata untuk Hutama 😂
__ADS_1
Duuuuh, author deg-degan, semoga jantung kalian aman, ya, hehe ✌
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**