Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 46


__ADS_3

HAPPY READING


Arumi mengikuti Langkah kaki sasmita. Dalam hati dia bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dibicarakan oleh sasmita kepadanya. Hingga melalui beberapa belokan, akhirnya mereka berhenti disebuah ruangan kosong. “ayo masuk, arumi,” ucap sasmita lembut.


Arumi mengangguk. “sebenarnya ada apa ya, nyonya?” tanya arumi menatap sasmita yang menutup pintu.


Sasmita berbalik. Mata Wanita itu sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan air yang akan membanjiri pipinya. Tanpa aba-aba sasmita memeluk tubuh arumi. erat sekali dengan tangis yang tak bisa lagi dia tahan.


Arumi mengerjap polos. Wanita itu kaget denga napa yang baru saja sasmita lakukan. Pelukan seorang ibu? Pelukan sasmita terasa hangat dan arumi bisa merasakan bahwa tubuh Wanita itu bergetar karena menangis. “maafkan saya, arumi,” ucap sasmita bergetar.


Arumi diam. Tangannya dengan perlahan mulai terangkat untuk membalas pelukan sasmita.


“maaf?” tanya arumi tak paham.


Sasmita mengangguk. Dia diam sebentar untuk menetralkan tangisnya agar tak semakin menjadi. Setelah dirasa tenang, sasmita kembali bersuara. “saya minta maaf karena membiarkan cucu saya hidup ditempat seperti ini. Ini bukan tempat yang bagus untuknya,” jawab sasmita lirih.


Apa ini? Apa kali ini arumi akan mendapat sedikit pembelaan? Apa kali ini arumi akan mendapat peluang untuk segera keluar dari tempat ini? Pikir arumi benar-benar sangat berharap untuk itu.


Arumi sedikit tersenyum. “tidak apa-apa, nyonya. Saya disini sebagai tanggung jawab atas apa yang sudah dituduhkan,” jawab arumi pelan.


“bersabarlah sebentar lagi, arumi. tim pengacara kamu sedang berusaha mencari bukti bahwa kamu tidak bersalah,” ucap sasmita setelah melepaskan pelukannya dan menatap arumi. wajah teduh Wanita itu sangat memberikan pandangan indah di mata sasmita. “boleh saya usap dan cium cucu saya?” tanya sasmita meminta izin.


Dengan senyum arumi mengangguk. Wanita itu ikut menitikkan air mata mendengar permintaan sasmita.


Sasmita mengulurkan tangannya menyentuh perut arumi. dengan lembut sasmita mengusap perut yang sudah terasa menonjol itu.


“itu nenek, nak,” ucap arumi seolah memberitahu anaknya.


Sasmita tersenyum. “kamu sehat-sehatlah disana sampai lahir ke dunia nanti ya, nak. Jangan takut sendiri. Karena di dunia aka nada seorang ibu dan nenek yang akan menunggu kelahiran kamu, nak. Jika nanti kamu lahir, tolong maafkan kesalahan kami, nak. Maafkan keluarga kamu, ya,” ucap sasmita dengan suara bergetar.


Dengan perlahan sasmita membungkukkan tubuhnya agar dapat menyetarakan kepalanya dengan perut arumu. Sasmita mendekatkan bibirnya ke perut arumi dan mencium cucunya yang ada di dalam sana.


Arumi yang melihat itu manangis dan tersenyum Bahagia. Ternyata ada orang yang mengharapkan kehadiran anaknya selain dirinya sendiri. Ternyata dia benar-benar tidak sendiri di dunia ini.


Sasmita mencium tiga kali perut arumi. setelah selesai dia menjauhkan kepala dan kembali berdiri tegak. “kamu baik-baik disini, ya nak,” ucap sasmita mengusap lembut pipi tirus arumi.

__ADS_1


Arumi mengangguk. “terimakasih sudah menerima anak saya, nyonya,” ucap arumi dengan suara bergetar.


“anak kamu adalah cucu saya, nak. Jika mungkin, maafkanlah keluarga nagara. dan satu lagi, panggil saya mami jika kita hanya berdua seperti ini. bukan maksud saya apa-apa, hanya saja kamu pasti paham bagaimana keluarga nagara,” ucap sasmita dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


arumi mengangguk. "Mami," ucap arumi lembut yang membuat Sasmita ikut tersenyum.


arumi menangkup tangan sasmita dan menggeleng. “saya mungkin bisa maafkan, mami. Tapi saya tidak bisa melupakan ini,” ucap arumi lirih.


Sasmita mengangguk. “jika nanti kamu bebas, tolong izinkan saya untuk menemui cucu saya ya, nak,” ucap sasmita memohon.


Arumi mengangguk. “tentu. Dan terimakasih banyak karena sudah menjadi keluarga untuk anak saya, mami. Terimakasih banyak sudah bersedia menerimanya,” ucap arumi menangis.


Sasmita mengangguk. “jangan menangis, nak,” ucap sasmita dan memeluk tubuh arumi dengan hangat.


“ini tangis Bahagia. Tak terkira senang hati saya saat mami menerima kami. Tak terkiran senang saya saat ada orang yang ikut menantikan kehadiran anak saya. Terimakasih banyak,” jawab arumi bergetar.


Sasmita hanya mengangguk. Jika dia kembali bersuara maka tangisnya akan semakin menjadi. Setelah beberapa saat dan dirasa mulai tenang, sasmita melepaskan pelukannya pada tubuh arumi. “sekarang kamu boleh kembali, nak. Terimakasih banyak,” ucap sasmita tulus.


“saya juga berterimakasih, mami,” jawab arumi dengan senyum manisnya.


Dengan senyum indahnya arumi kembali berjalan menuju selnya. Tapi saat di pembelokkan Lorong, seseorang menarik tangan arumi dan membawanya masuk ke ruangan yang ada disana.


“siap-” ucapan arumi terpotong kala dia menatap seseorang yang menariknya. Mata arumi membola melihatnya. “kau!? Ucap arumi sedikit emosi.


“jangan emosi,” jawab orang itu dengan santai.


“anda melanggar aturan, pak polisi!” ucap arumi menatap tajam orang itu. Ya, dia adalah seorang lelaki yang merupakan akar dari setiap masalah dalam hidup arumi.


Bintang terkekeh. “disini hanya ada aku dan kamu, arumi. dan lagi, aturan mana yang aku langgar? Aku ini seorang polisi yang bertugas mengawasi tahanan. Kamu tahanan dan aku polisi, jadi tugasku adalah mengawasimu,” jawab bintang tanpa beban.


“Semoga negara ini tak hancur karena abdi negara sepertimu,” ucap arumi menatap tajam bintang.


Bintang hanya diam. Dia tidak menghiraukan apa yang disampaikan oleh arumi. dengan Langkah pelan bintang berjalan mendekati arumi. arumi yang melihat itu mulai was-was dan melangkah mundur. “kamu mau apa, pak bintang?” tanya arumi sedikit takut.


Bintang hanya diam. Dia terus melanjutkan langkahnya hingga kini badan arumi berhenti di dinding dekat pintu karena sudah tak jalan untuk mundur. “jangan macam-macam atau saya akan teriak,” ucap arumi mengancam.

__ADS_1


“teriak?” tanya bintang dengan suara pelan. Senyum lekaki itu terbit dan kedua tangannya direntangkan ke dinding hingga mengunci pergerakan arumi agar tak lari kemana-mana.


“aku merindukanmu,” ucap bintang menatap arumi sayu.


Arumi hanya diam. “jangan bersikap tidak sopan!” ucap arumi tajam.


Bintang terkekeh. “kita sudah saling tidak sopan sejak dulu,” jawab bintang santai.


Bintang semakin mendekatkan wajahnya pada arumi. arumi terus saja menunduk hingga dia bisa merasakan deru nafas bintang. Tangan arumi terkepal. Dengan kuat dia mendorong tubuh bintang.


PLAK.


Satu tamparan kini mendarat di pipi bintang. Bintang termenung. Tangannya terulur mengusap pipi yang sudah memerah itu.


“jangan macam-macam. Saya bukan arumi yang dulu. Sekarang tubuh saya bukan untuk anda!” ucap arumi tegas.


“arumi,” panggil bintang lembut dengan tatapan sendu.


“maaf,” ucap bintang penuh penyesalan. Dia masih terbawa nafsu saat tadi berfoto bersama arumi sampai dia tak bisa mengendalikannya.


“jangan berubah arumi,” ucap bintang lirih.


Arumi terkekeh pelan. “jangan berubah anda bilang? Anda yang membuat saya seperti itu,” jawab arumi tanpa takut.


“jika saja kamu tidak membunuh adikku mungkin aku masih bisa memperjuangkan hubungan kita. Tapi-”


“tapi karena aku pembunuh seperti yang kamu tuduhkan? IYA!?” ucap arumi lantang menyela ucapan bintang.


“cinta saya tulus. Tulus saya ikhlas. Sabar saya juga ikhlas. Penantian yang saya lakukan untukmu juga iklhas. Saya berharap kamu adalah arumah. Tapi ternyata penjara yang kamu beri pada saya, pak bintang yang terhormat!” ucap arumi menatap bintang lekat yang semakin menyeruakkan kesenduan ditatapan bintang.


Arumi segera berbalik untuk keluar.


“tunggu arumi,” ucap bintang mencegah arumi.


Arumi menghentikan langkahnya. “tidak ada yang bisa kamu perjuangkan. Diri saya hanya milik saya. Cinta saya hanya untuk saya sendiri. Dan kamu? Kamu adalah orang yang saat ini saya lupakan dalam setiap doa saya!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2