Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 80


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


Binar mengambil ponsel yang ada disebelahnya dan membuka pesan itu. "Bintang," jawab Binar singkat.


"Bintang bilang apa, Ma?" tanya Angkasa yang mendengar jawab Mamanya.


"Aku izin melakukan penggeledahan malam ini, Komandan," ucap Binar menyampaikan pesan yang dia baca dari ponsel Iskandar.


Iskandar dan Angkasa saling pandang, mereka dengan serentak melepaskan stick PlayStation dan berbalik hingga kini duduk bersama Binar di atas sofa dengan posisi Binar di tengah-tengah.


"Sini, Sayang," ucap Iskandar meminta ponselnya.


Binar langsung memberikannya pada Iskandar. "Kenapa? Kenapa wajah kalian tegang begitu?" tanya Binar heran.


Lagi ada orang di keluarga Nagara, Ma," ucap Angkasa menjawab.


"Perang? Maksud kamu?" tanya Binar tak paham.


"Ada selisih paham antara Bintang dan Kakeknya," jawab Angkasa singkat yang tak mungkin menceritakan semuanya sekarang. Waktu semalaman mungkin tak cukup untuk menceritakan kisah Bintang dan Arumi.


Iskandar segera melakukan panggilan ke ponsel Bintang untuk menanyakan kembali mengenai pesan itu.


Tanpa menunggu lama, dering pertama panggilan langsung terhubung.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Iskandar langsung tanpa bertanya macam-macam atau basa-basi. Terlalu lama jika mereka harus basa-basi terlebih dahulu.


"Terlalu lama jika harus menunggu besok. Bintang takut jika nanti Hutama bergerak lebih cepat, dia bisa melakukan apa saja," jawab Bintang yakin dari balik telepon.


Iskandar menghela nafas pelan. "Baiklah! Om dan Angkasa akan ikut, kamu kirim titik kumpul kita," ucap Iskandar menyetujui.


"Kita bertemu langsung di tempat, Om. Angkasa tahu lokasinya," jawab Bintang.


"Baiklah," jawab Iskandar dan langsung memutus sambungan teleponnya.


"Kenapa, Pa?" tanya Angkasa.


"Kita bergerak sekarang," jawab Iskandar yang dianggukki oleh Angkasa.


Binar yang melihat suami dan anaknya hanya menghela nafas pelan. Tugas mendadak seperti ini sudah sangat biasa baginya. "Kalian berhati-hati, ya. Mama menunggu di rumah," ucap Binar lembut yang dianggukki keduanya.


.....


"Bintang keluar sebentar, Nek," jawab Bintang lembut.


"Dengan keadaan seperti ini?" tanya Tyas khawatir.


Bintang tersenyum kecil. "Nenek jangan khawatir, justru harus dikeadaan seperti ini semuanya harus dilakukan," jawab Bintang.


"Apapun yang kamu lakukan, tetaplah hati-hati ya, Nak. Jangan berpikiran pendek dan merugikan diri kamu sendiri," ucap Tyas mengingatkan Bintang dengan lembut.

__ADS_1


Bintang mengangguk. "Jika nanti Mami nyari, bilang Bintang keluar," ucap Bintang lagi dan segera berjalan keluar rumah.


"Oiya, Nek," panggil Bintang berbalik dan menatap Tyas yang kini menatapnya kembali.


"Iya," jawab Tyas singkat.


"Apapun yang terjadi nanti, semoga keluarga kita tetap bahagia, ya," ucap lelaki itu yang segera berlalu pergi meninggalkan Tyas dengan kondisi heran mendengar perkataan cucunya.


Tyas menghela nafas pelan. "Jika itu demi kebaikan, maka semuanya pasti baik juga, nak."


.....


Arumi turun dari bus setelah beberapa jam perjalanan. Ya, Arumi memang menaiki bus yang biasa mengantarnya ke desa atau ke kota. Kini, Arumi berdiri tepat di gerbang desa yang dulu dia tinggali bersama Ayah dan Ibunya. Ya, arumi tidak pergi ke alamat yang ditunjukan oleh Rendi dan Tasya, dia kembali ke desanya karena ada sesuatu yang harus dia ambil disana.


Beruntung hari sudah malam dan pastinya gelap, tidak ada warga desa yang berlalu lalang hingga Arumi bisa dengan cepat berjalan menuju rumahnya.


Langkah Arumi terhenti ketika dia melewati sebuah penginapan. "Disini dulu aku selalu melakukan kebodohan bersama Bintang," ucap Arumi dan terkekeh miris. "Sekarang lihatlah, tetap wanita yang menanggung akibatnya," lanjut Arumi dan segera melanjutkan perjalanannya.


Beberapa menit jalan kaki, langkah Arumi kembali terhenti di depan rumah sederhana yang memberikan banyak kenangan bersama kedua orang tuanya. Mata Arumi berkaca-kaca melihat rumah itu. "Maaf jika Arumi tidak menjadi Arumi yang dulu Ibu dan Ayah sayangi. Semoga di atas sana, Ayah dan Ibu tetap bangga dengan Arumi," gumam Arumi pelan.


Membuag nafas berkali-kali, Arumi mencoba untuk menangkan dirinya. "Maaf jika Arumi hanya singgah sebentar, tidak aman juga bagi Arumi jika tetap disini, Ayah, Ibu," ucap Arumi dan segera melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.


"ARUMI!"


...----------------...

__ADS_1


Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**


Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih


__ADS_2