Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 48


__ADS_3

HAPPY READING


“angka apa?” tanya tasya.


“kematian mama.”


“kalau begitu ayo.”


Tangan agnes bergerak pelan menekan tombol angka disana. Setelah beberapa angka di tekan keluar kata yang membuat mereka memekik tertahan.


SUCCESS


“YEAY ALHAMDULILLAH YA ALLAH,” Ucap agnes dan tasya bersamaan saat pintu brangkas itu berhasil mereka buka.


Agnes tidak melihat uang atau harta berharga lainnya disana. “berkas apa itu?” tanya tasya yang dijawab gelengan oleh agnes.


Tangan agnes terulur mengambil berkas itu dan membukanya. Tangan Wanita itu tiba-tiba bergetar dengan mata berkaca-kaca. Dia tersenyum dan hampir menangis menatap tasya.


Tasya yang melihat reaksi sahabatnya mengeryit bingung. “kamu kenapa?” tanya tasya lembut.


“i-ini. Kamu baca tasya,” ucap agnes memberikannya pada tasya.


Tasya menerima dengan sedikit ragu. Setelah berkas itu ditangannya tasya langsung melihat. Mata Wanita itu membola sempurna dengan senyum mengembang. “kita dapat tujuan kita, nes,” ucap tasya terpekik senang.


Agnes mengangguk semangat. “kita dapat, sya,” ucap agnes semangat.


Mereka melihat-lihat berkas itu lagi. Ternyata benar, ijazah dan semua berkas lain yang berkaitan dengan Pendidikan arumi sudah disabotase oleh hutama dan harun. Mulai dari ijazah sekolah dasar hingga sekolah menengah atas arumi ada disana. Dan disana jelas tertulis bahwa arumi bersekolah ditempat yang berbeda dengan kintani.


“ini masih ada kertas, nes,” ucap tasya mengambil sebuah kertas tipis di dalam brangkas.


“bukti transfer?” gumam agnes bingung.


Agnes membacanya. Ini jelas nama seseorang yang sangat dia kenal ada disini. “harun yang melakukan transfer. Tapi kepada siapa?” tanya agnes bingung. Karena nama rekening penerima disana di tutup pakai kertas kecil yang di lem. Sepertinya sengaja untuk menutup nama penerima rekening. Jika agnes membuka kertas kecil itu, maka kertasnya akan rusak.


Agnes membolak-balik kertas itu. Barang kali dia bisa melihat nama penerima transfer itu dari belakang. Namun salah, bagian belakang kertas itu juga di tutupi kertas yang sudah di lem. “harun dan hutama benar-benar orang yang licik,” ucap agnes kesal.


“ini saja sudah cukup, nes,” ucap tasya mengangkat berkas sekolah arumi ditangannya.

__ADS_1


Agnes mengangguk. “arumi kita akan bebas, sya,” ucap agnes terharu menatap tasya.


Tasya mengangguk. Kedua Wanita itu berpelukan untuk menyalurkan rasa haru, Bahagia dan tidak menyangka atas apa yang mereka dapatkan hari ini. Tidak sia-sia rasanya agnes meminta bantuan pada sasmita. Sasmita adalah orang yang tepat dalam hal ini.


“kita keluar sekarang?” tanya tasya yang dibalas anggukkan oleh agnes.


Setelah merapikan kembali dan meletakkan brangkas itu di tempat semula, barulah keduanya berjalan keluar kamar dengan perasaan teramat Bahagia.


Sampainya di pos satpam, agnes memberikan kunci itu kepada satpam dan mengucapkan terimakasih.


Tanpa ada rasa curiga, satpam itu tersenyum dan mengangguk. Jalan mereka kali ini sangat mulus. Ternyata seberapapun disembunyikan, kebenaran akan tetap terungkap.


“bagaimana?” tanya rendi saat kedua temannya itu masuk mobil.


Agnes menunjukkan apa yang mereka dapat. Rendi menatap dengan mata bulat sempurna dan senyum merekah. “kita dapat?” tanya rendi tak menyangka.


Tasya dan agnes mengangguk. “semua ternyata ada di rumah ini. Tidak sia-sia usaha kita bicara dengan tante sasmita,” jawab agnes.


“sudah takdir arumi untuk tidak hidup di penjara,” jawab rendi lembut menatap kedua temannya bergantian.


…..


Tyas yang melihat interaksi hutama dengan para karyawannya hanya tersenyum. Namun dalam hatinya terselip kesedihan yang mendalam. Karena nama baik, pamor, harta dan kekuasaan, hutama membuat seorang Wanita yang tidak bersalah menjadi seorang tahanan.


Sampai di desa, hutama juga berhasil membuat warga desa berpikir bahwa arumi memang yang telah membunuh cucu perempuannya.


“semoga sasmita berhasil dan agnes berhasil,” gumam tyas sendu. Ya, yang membantu sasmita untuk mendapat kartu pengacara pribadi keluarga nagara adalah tyas.


Sebelum tyas benar-benar kembali ke desa, dia menceritakan segala kegundahannya mengenai keputusan pengadilan mengenai arumi. tyas tidak menyebutkan pada sasmita jika hutama yang telah mensabotase semuanya, tapi tyas hanya memberi sebuah petunjuk untuk sasmita mempergunakan kartu identitas pengacara pribadi keluarga nagara.


Pucuk dicinta, setelah beberapa hari tyas dan hutama kembali ke desa, agnes datang menghubungi sasmita. Sasmita yang awalnya bingung akan bagaimana dengan kartu itu, akhirnya mendapat jalan. Tyas benar-benar memberikan jalan keluar untuk arumi. setelah mendapat persetujuan tyas untuk memberikan kartu itu pada tim pengacara arumi, sasmita langsung memeberikanya pada agnes.


Hanya sasmita dan tyas yang tahu mengenai ini. “entah kemarahan seperti apa yang aku dapat nanti setelah ketahuan oleh suamiku, yang pasti hatiku telah lega karena bisa membantu arumi,” gumam tyas lagi dengan sendu.


“ibuk,” panggil sebuah suara yang mengagetkan tyas dari belakang.


Tyas berbalik dan tersenyum menatap ida. “iya ida?” jawba tyas bertanya.

__ADS_1


“ibuk melamun sejak tadi. Ada apa, buk?” tanya ida menatap iba pada tyas. Sejak tyas kembali, dia jarang melihat tyas tersenyum. Dia hanya tersenyum kecil jika disapa dan tidak lagi banyak bicara dengan karyawan.


“tidak apa-apa. Saya hanya Lelah, ida,” jawab tyas sekenanya.


“karena kasus arumi ya, buk?” tanya ida penasaran.


Tyas mengangguk. “sangat ribet. Saat mulut saya ingin bicara, tapi dibungkam oleh sebuah hubungan,” jawab tyas dan berlalu pergi meninggalkan ida yang menatapnya dengan bingung.


“ibu tyas seperti tertekan,” gumam ida dan kembali melanjutkan pekerjaanya.


…..


“kita kesini lagi?” tanya bintang pada angkasa. Kini tim mereka sudah berada di gang lokasi penangkapan buronan narkoba beberapa hari lalu.


Angkasa mengangguk. “ada info kalau pelaku pembunuhan itu bersembunyi disekitar sini,” jawab angkasa.


Kini empat polisi yang masih berada di mobil itu tidak menggunakan seragam polisi melainkan pakaian santai layaknya orang biasa.


Bintang hanya mengangguk. Kasus yang harusnya dia tangani satu minggu lagi harus dipercepat karena info terbaru yang mereka dapatkan.


Bintang menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Wajah lelaki nampak sekali Lelah.


“kalian berpencar sekarang?” tanya angkasa berbalik melihat rekan tim mereka yang duduk di kursi belakang.


Salah satunya mengangguk. “jika ada kemajuan, maka kami akan langsung mengabari,” jawabnya dan mereka berdua langsung keluar dari mobil. Dapat dilihat bahwa kedua rekan mereka singgah di sebuah warung kecil untuk membeli sesuatu. Padahal niatnya adalah untuk memantau.


“kau kenapa?” tanya angkasa setelah kini hanya mereka berdua di mobil.


Bintang hanya menggeleng. Matanya fokus menatap sebuah rumah yang beberapa hari lalu menjadi tempat yang mencurigakan untuknya. Entah apa yang ada di rumah itu, yang pasti bintang harus bisa memasukinya.


“ada sesuatu yang harus aku katakana padamu,” ucap angkasa yang membuat bintang menoleh.


“apa?” jawab bintang sekilas dan kembali fokus pada rumah itu.


Baru angkasa akan membuka mulutnya untuk bicara, bintang lansgung menyela. Dengan tergesa-gesa bintang melepas seatbeltnya. “aku ke rumah itu sebentar!”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2