Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 44


__ADS_3

HAPPY READING


“jangan menunduk. Itu yang memberi penyuluhan sudah datang. Kita harus hormat,” ucap veni yang mau tak mau memaksa arumi untuk mengangkat kepalanya.


Dengan perlahan, kepala arumi terangkat.


DEG.


Jantung arumi berdetak lebih cepat ketika matanya tak sengaja bersitatap dengan mata seorang Wanita paruh baya. “Nyonya Sasmita,” gumam arumi dengan sangat pelan.


Nyonya sasmita pasti sudah tahu mengenai kehamilanku. Batin arumi yang kembali teringat waktu agnes meminta izin padanya untuk membritahu sasmita.


“kamu kenapa?” tanya veni heran melihat arumi yang seperti tidak tenang.


Arumi langsung beralih manatap veni dan menggeleng. “bukan apa-apa, kak,” jawab arumi dan kembali menormalkan detak jantung dan keterkejutannya.


Sedangkan sasmita menatap arumi dari depan dengan sangat lekat. Matanya menatap perut arumi yang tertutup oleh baju tahanan itu. Pasti cucuku kedinginan karena duduk di lantai. Batin sasmita sendu.


Semua persiapan telah selesai. Laptop sasmita juga sudah tersambung dengan proyektor hingga kini semua tahanan dapat melihat layar besar di dinding aula yang menampilkan materi penyuluhan kali ini.


Sasmita duduk di kursi yang sudah disediakan. Di seberangnya ada seorang polisi Wanita yang akan menjadi moderator. Polisi Wanita itu mulai membuka acara. Setelahnya dia mempersilahkan sasmita untuk menyampaikan materinya.


“assalammualaikum warohmatullahi wabarakatu,” ucap sasmita dengan suara lembut tapi dapat di dengar oleh semua tahanan karena bantuan mikrofon.


“waalaiakumsalam warahmatullahi wabarakatu,” jawab semua orang yang ada disana serentak. Ada yang menjawab dengan suara lantang, dan ada yang menjawab dengan biasa saja.


Sasmita mulai dengan memeprkenalkan dirinya. Setelahnya dia masuk ke dalam penjelasan mengenai materi yang sudah ditampilkan di layer besar.


Bintang menyaksikan maminya memberikan materi dari belakang tempat duduk tahanan. Disebelahnya ada angkasa yang juga ikut dalam acara ini. “tante sasmita bener-bener mirip dengan kintani,” ucap angkas yang membuat bintang menoleh.


“Namanya juga ibunya. Kalau gak mirip itu baru aneh,” jawab bintang.

__ADS_1


“tang,” panggil angkasa. Kedua polisi itu bicara dengan suara pelan. Kedua polisi tampan itu tak jarang menjadi bahan curi pandang dari tahanan yang menjadi peserta dalam acara ini.


“kenapa?” jawab bintang sedikit ketus karena panggilan angkasa.


“kasus pembunuhan arumi udah ditutup. Dan pelakunya juga sudah tertangkap. Tapi kenapa rasanya aku gak lega, ya? apa benar kintani udah senang diatas sana karena usaha kita menangkap pembunuhnya atau sebaliknya?” tanya angkasa menatap sahabatnya itu.


Aku juga merasakan itu. Batin bintang menjawab.


“perasaanmu saja,” jawab bintang yang lagi-lagi membohongi kata hatinya.


Angkasa terkekeh pelan. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk memancing bagaimana ekspresi dari bintang. Tapi ternyata lelaki itu sangat pandai mengelak. Entah gimana dalamnya penyesalan yang bakal kamu terima bintang. Batin angkasa yang memang sudah mengetahui semuanya.


Angkasa memaksa sang ayah untuk memberitahunya. Karena acara seperti ini akan sangat sulit untuk disesuaikan di lapas. Tapi atas kewenangan ayahnya semua bisa dilaksanakan dengan cepat. Ditambah lagi yang menjadi pemberi materi kali ini adalah maminya bintang. Ada yang tidak beres pikir angkasa hingga dia memaksa sang ayah untuk menyebutkan alasannya.


Bintang mengedarkan pandangannya pada semua tahanan Wanita yang kini fokus menatap ke depan. Menatap maminya. Matanya seolah mencari seseorang yang dia harapkan bisa dia lihat disini barang sebentar saja.


“kau cari siapa?” tanya angkasa yang dibalas gelengan oleh bintang.


Bintang hanya diam tak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi dalam hati informasi yang baru saja disampaikan bintang sangat berharga untuknya.


Mata bintang tak hentinya menatap satu persatu tahanan Wanita dari belakang. Tepat pada barisan ke lima paling sudut dinding, mata bintang langsung menangkap sosok yang bahkan saat ini masih membuat jantungnya berdetak kencang.


“biasanya, hati tidak pernah salah,” ucap angkasa


tiba-tiba yang membuat bintang menatapnya bingung.


“kau kenapa?” tanya bintang mengalihkan pandanganya sebentar.


“tidak apa-apa,” jawab angkasa lalu pergi dari sana sambil berjalan-jalan memantau keamanan disana.


“aneh,” gumam bintang menggeleng menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. Setelahnya lelaki itu kembali menatap punggung seorang Wanita yang kini nampak fokus mendengarka materi yang disampaikan oleh maminya.

__ADS_1


Senyum bintang terbit kala dia melihat wajah arumi dari samping. Nampak sangat indah. Hidung mancung, bibir yang nampak lentik dari samping dan bulu mata yang panjang dan juga lentik. Kau sempurna, tapi kenapa harus jadi tahanan? Batin bintang sendu saat tersadar bahwa status arumi yang saat ini merupakan seorang narapidana.


Sedangkan di depan sana, sasmita saat ini memegang kertas yang berisi nomor sejumlah dengan banyak narapidana. “ditangan saya sudah ada kertas yang berisi nomor sesuai jumlah kalian semua. Nanti akan di undi secara acak, dan nomor yang tersebut akan mendapat hadiah dari Yayasan kami. Ini akan diperuntukan untuk lima orang, ya. jadi hoki kalian akan sangat dibutuhkan saat ini,” ucap sasmita dengan semangat dan mendapat sorak Bahagia dari para tahanan.


“semoga kita dapat, ya,” ucap veni semangat.


“kita kan gak hamil,” ucap airi menjawab.


“setidaknya itu bisa kita kirim ke keluarga di rumah kan. Lagian susu hamil juga bis akita makan untuk menambah berat badan,” jawab veni tanpa ragu.


Arumi yang medengar itu tersenyum senang. Dalam hatinya tersimpan banyak harap agar dia yang akan beruntung kali ini. Setidaknya, dengan begini maka susu dan vitamin untuk anaknya akan terpenuhi secara tak langsung. Semoga rezeki kamu ya, nak. Batin arumi berharap.


“tolong bagikan bu, polwan,” ucap sasmita meminta bantuan pada polisi Wanita yang berdiri di bagian samping tepat lurus arumi duduk.


Kertas itu dibagikan. Barisan arumi telah mendapat kertasnya masing-masing. “kau dapat nomor berapa?” tanya veni mencondongkan tubuhnya. Airi dan nora ikut melihat.


“ini,” jawab arumi melihatkan angka tiga puluh lima di kertas itu. Airi, veni dan nora mengangguk. Mereka mendapat nomor yang tak urut karena memang dibagikan secara acak.


“baiklah. Sekarang saya akan memilih kertas di dalam sini,”ucap sasmita memulai mengambil kertas dari dalam botol yang hanya dilubangi sedikit agar tak terlihat dan memberi jalan keluar untuk kertas-kertas yang sudah digulung kecil.


Mereka semua dengan suka cita menerima hadiah dari undian. Sudah empat tahanan yang menerima hadiah. Sekarang hanya sisa satu undian lagi. Sasmita yang sejak tadi menampilkan senyum dan tawa bahagianya harap cemas dalam hati. Ini memang tidak bisa dia atur. Sasmita menghela nafas pelan. Dia memejamkan mata dan mulai membuka satu kertas terakhir yang kini berada di tangannya.


Entah nomor berapa yang kamu terima, saya berharap kali ini adalah rezeki kamu dan cucu saya, arumi. batin sasmita berharap.


Sasmita menatap angka di kertas itu. “TIGA PULUH LIMA.”


“YEAY ARUMIII!”


Deg.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2