
Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!
Saat Arumi hendak menyebrang, langkahnya terhenti katika pendengarannya menangkap seseorang memanggil namanya. Arumi berbalik, dengan seribu langkah Arumi berjalan cepat setelah melihat siapa yang memanggil. Arumi hanya berusaha lari dari orang yang berkaitan dengan masa lalunya.
"Berhenti, Arumi."
"Ya Allah, jangan lagi," ucap Arumi dengan kakinya yang terus melangkah menghindar dari orang yang saat ini mengejarnya.
"Arumi! Berhenti Arumi!" teriak orang itu masih terus mengejar Arumi.
Langkah kaki Arumi semakin pelan, perut wanita itu terasa sakit karena terus-terusan berlari hingga akhirnya memilih untuk berhenti.
"Jangan berlari seperti tadi, Arumi. Tidak baik untuk. bayimu," ucap orang yang tadi mengejar Arumi.
"Kalian mau apa? Biarkan aku pergi," ucap Arumi lesu.
"Kamu akan kemana?"
"Kemanapun. Yang pasti jauh dari masalalu," jawab Arumi yakin.
"Termasuk kami? Kami sudah menganggapmu keluarga."
"Maaf Tasya, Rendi, tapi aku harus pergi. Aku hanya tidak ingin berhubungan dengan masa lalu lagi," jawab Arumi pelan.
Ya, yang mengejar Arumi tadi adalah Tasya dan Rendi. Mereka tadi dihubungi oleh Agnes secara diam-diam untuk mencari Arumi agar tak kehilangan petunjuk. Mungkin saat ini Agnes tak bisa bersama mereka, tapi Tasya dan Rendi bisa melakukannya.
"Kamu boleh pergi nyang jauh, tapi izinkan kami mengantarmu, biar kami tahu bagaimana kehidupan mu selanjutnya, Arumi, aku, Rendi dan Agnes khawatir," ucap Tasya lembut membujuk Arumi.
Arumi menggeleng. "Aku mohon," jawab Arumi menangatupkan kedua tangannya di depan dada menatap dengan penuh permohonan pada Tasya dan Rendi.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Rendi buka suara.
Arumi terdiam. Dia juga bingung kemana akan pergi, kembali ke kampungnya sama saja menyerahkan diri kepada keluarga Nagara. Akan sangat mudah bagi Bintang dan yang lainnya menemukan Arumi. Arumi sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Bintang dan siapapun itu yang berkaitan dengan keluarga Nagara.
"Yang pasti jauh sampai masa lalu tidak bisa menemuiku," jawab Arumi.
Rendi dan Tasya menghela nafas. "Kamu mau pergi dan hidup tenang kan?" tanya Rendi yang dijawab anggukkan kepala oleh Arumi.
Rendi tidak bersuara lagi. Lelaki itu mengeluarkan kertas kecil dari tas salempangnya dan juga sebuah pulpen, lalu menuliskan sesuatu disana.
Tasya dan Arumi hanya menatap tanpa bertanya.
__ADS_1
"Ini," ucap Rendi memberikan kertas tadi pada Arumi.
"Ini apa?" tanya Arumi bingung.
"Pergilah kesana, Arumi. Aku yakin tidak akan ada yang mengenalimu disana," ucap Rendi menjawab.
"Tapi ini alamat siapa?" tanya Arumi bingung.
"Itu rumah Nenek kita, Arumi," jawab Tasya mewakili.
"Kita?"
"Aku dan Rendi adik kakak kandung. Aku adiknya, dan Rendi kakanya, kami kembar beda lima menit," jawab Tasya yang membuat Arumi terkejut bukan main. Sangat tak disangka bahwa tim pengacaranya itu adalah saudara kembar.
"Astaga! aku baru tahu," jawab Arumi kaget.
Rendi tertawa. "Kalau begitu pergilah kesana, setidaknya, kau punya tempat yang akan kau tuju, Arumi," ucap Rendi lembut.
"Kami antar?" tanya Rendi lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Arumi.
"Ambil ini," ucap Tasya tanpa aba-aba memberikan beberapa lembar uang kepada Arumi.
"Tapi-"
Arumi menatap penuh hari dia orang di depannya ini. Mereka tidak kenal dekat, tapi arumi sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Sungguh, arumi bersyukur bertemu dengan orang-orang baik ini walau dengan cara yang sangat arumi benci. "Terimakasih banyak," ucap Arumi dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
Tasya tersenyum dan wanita itu memeluk tubuh Arumi. "Jadilah wanita kuat, setidaknya bertahanlah untuk anakmu," ucap Tasya lembut.
"Pasti, aku tidak akan melupakan kalian semua," jawab Arumi membalas pelukan Tasya.
Rendi yang melihat itu tersenyum haru. Kamu wanita hebat, Arumi. Semoga nanti laki-laki yang mendapatkanmu bisa menjadikanmu ratu di kerajaannya. Batin Rendi tulus menatap Arumi.
Setelah berpelukan, Arumi segera pamit untuk pergi. Tasya dan Rendi memandangi kepergian Arumi dengan sedikit kelegaan. "Setidaknya, kita tahu kemana wanita malang itu akan pergi."
.....
Agnes merutuki Harun yang kini mengurungnya di kamar. Percuma dia berteriak karena Harun tidak akan mendengar dari luar. Harun benar-benar defenisi Ayah durhaka di dunia ini. "Dasar tua bangka sialan!" umpat Agnes kasar. Wanita itu tidak takut berdosa karena telah mengumpati Ayahnya sendiri. "Ck! Bukan Ayah seperti dia yang harus aku sayang-sayang, menjijikkan!" gerutu Agnes kesal setengah mati.
Saat bibir Agnes terus menggeruru, suara ponsel mengalihkan perhatiannya. Itu adalah bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Seketika senyum Agnes terbit setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Tasya.
Arumi sudah naik bus. Dia akan ke rumah nenekku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, setidaknya kami tahu keberadaanmu, Arumi," ucap Agnes lega.
.....
Hutama masuk ke kamar Bintang yang tidak terkunci. Dia berdecih melihat Bintang yang kini duduk di kasur dengan sebuah foto ditangannya. Hutama yakin itu pasti foto wanita kampung itu.
"Ada apa?" tanya Bintang menyadari kedatangan Hutama tanpa manatap lekaki itu sedikitpun.
"Berhenti bersedih karena orang yang tak mau lagi denganmu, karena kakek akan segera mengatur pernikahanmu dengan Agnes," ucap Hutama tanpa memikirkan perasaan Bintang.
Bintang terkekeh pelan. "Aku tidak akan menikah, kecuali dengan Arumi," jawab Bintang menatap Hutama.
"Wanita itu sudah kabur, jangan mengharapkan orang yang tidak ada," jawab Hutama.
"Kabur? Kakek bilang kabur? Lebih tepatnya dia hanya ingin hidup tenang dan jauh dari kelicikan yang Kakek buat," jawab Bintang Tajam.
"Kelicikan ku? Apa kamu tidak berpikir siapa yang duluan membawa Arumi ke dalam takdir seperti ini? Jangan lupa jika kamu sendiri yang menangkap Arumi, Bintang," jawab Hutama tak Terima.
"Lebih baik Kakek keluar!" ucap Bintang tegas mengusir Hutama tanpa takut.
"Kamu mengusir Kakek mu?" tanya Hutama.
"Iya! Jangankan mengusir, memukul Kakek saja sudah aku lakukan kalau Kakek lupa," jawab Bintang.
"Persiapkan dirimu karena pernikahanmu dengan Agnes sudah Kakek atur," ucap Hutama dan berbalik hendak meninggalkan Bintang.
"Berani Kakek mengatur pernikahan itu, maka penjara yang akan menunggu Kakek," jawab Bintang yang membuat langkah Hutama terhenti.
"Bintang!"
"Kenapa? Kakek takut? Kakek takut semuanya akan terbongkar? Sudah terlambat, Kakek. Karena wanita tangguh yang Kakek perangi kini sudah mendapat kebebasannya," jawab Bintang berani. Kini kaki lelaki itu selangkah demi selangkah mendekati Hutama yang berdiri di pintu.
"Jika pernikahan itu sampai terjadi, maka aku akan membawa gadis KURUNGAN HUTAMA NAGARA untuk bebas dari rumahnya."
DEG
Jantung Hutama berdetak tak karuan mendengar apa yang baru saja Bintang katakan. Dengan segera lekaki tua itu pergi dari sana karena tak ingin membuat Bintang bicara lebih banyak lagi.
Bintang tersenyum miring. "Ternyata benar, gadis itu ada hubungan denganmu, Kakek!"
...----------------...
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**
__ADS_1
Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih.