Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 76


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


Arumi menghela nafas lega. Wanita itu keluar dari persembunyiannya di bawah meja Pos Satpam. "Makasi banyak ya, Pak," ucap Arumi tersenyum.


"Kasian Pak Bintangnya, Mbak," ucap Pak Satpam itu tak enak karena telah berbohong pada Bintang.


Ya, Arumi memang meminta bantuan kepada Pak Satpam itu untuk menyembunyikan keberadaanya. Arumi tidak terlalu cepat hingga bisa keluar dari komplek perumahan elit itu.


Arumi tersenyum mendengar apa yang Pak Satpam itu sampaikan. Jika saja Pak Satpam itu tahu apa yang terjadi, mungkin dia akan mengutuk Bintang saat ini. "Kasiannya Bapak, adalah kesialan bagi saya," jawab Arumi terkekeh pelan.


Pak Satpam itu terdiam mendengar apa yang Arumi sampaikan. Apakah dia salah bicara? "Maaf jika saya salah ngomong, Mbak," ucap Pak Satpam tak enak.


"Tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya pamit, ya Pak," ucap Arumi sopan berpamitan.


"Tunggu, Mbak," ucap Pak Satpam menghentikan langkah Arumi.


Satpam itu membuka laci mejanya dan mengambil sebuah obat merah dan perban. "Ini, Mbak. Obati lukanya," ucap Pak Satpam itu yang melihat bibir Arumi sedikit robek.

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa, Pak?" tanya Arumi tak enak.


Satpam itu mengangguk. "Bawa saja, Mbak," jawab Satpam itu baik.


"Sekali lagi terimakasi banyak, Pak. Saya permisi," ucap Arumi mengambil perban serta obat merahnya dan berlalu pergi dari sana sebelum Bintang kembali mengejarnya.


Pak Satpam menatap kepergian Arumi. "Entah siapa yang harus dikasihani," gumam Satpam itu menggeleng bingung. Melihat kedatangan Bintang dengan mata sembab seperti habis menangis, dan wajah Arumi yang luka dan juga sembab. Apapaun yang terjadi, yang lebih kasian adalah hidup Pak Satpam.


.....


Tyas mengobati luka sobek di sudut bibir Hutama. Luka yang dia dapat dari pukulan Bintang sama persis dengan luka yang diterima Arumi akibat tamparannya.


"Jika Bintang masih menolak menikahi Agnes, maka Arumi tidak akan aman," jawab Hutama keras kepala.


"Akkkhh!" teriak Hutama karena Tyas menekan lukanya dengan cukup keras.


"Jangan bertindak berlebihan jika tak ingin Bintang membencimu," ucap Tyas tegas.


"Aku hanya melakukan yang terbaik untuk cucuku. Aku hanya memberikannya pendamping yang baik, dan kau tak usah ikut menasehati. Tugasmu adalah menjadi istriku, bukan seorang hakim yang menentukan baik dan benar pilihanku," jawab Hutama tegas menatap Tyas.

__ADS_1


Tyas diam. Jika sudah begini akan sangat sulit bicara dengan Hutama. Lelaki tua yang keras kepala yang sangat tak tahu akan kesalahannya.


Kaki Bingang mengayun memasuki rumahnya. Suara langkah kaki Bintang membuat Hutama dan Tyas menoleh. "Bintang," panggil Tyas lirih yang sudah selesai mengobati Hutama.


Tanpa menjawab, Bintang tak berhenti dan terus berjalan menaiki tangga untuk segera menuju kamarnya.


Tyas menatap sendu punggung cucunya itu. "Kasian Bintang," ucap Tyas yang membuat Hutama menoleh padanya.


Tyas membalas tatapan Hutama. "Kasian Bintang karena harus menjadi cucumu," ucap Tyas dan segera pergi dari sana sebelum mendengar omelan dan segala kemarahan yang Hutama tujukan kepadanya.


Sampai di ujung tangga paling atas, langkah Bintang tertenti melihat Maminya yang berdiri dengan jarak tiga meter darinya.


Dengan segera Bintang berlari memeluk Sang Mami. Seperti anak kecil, Bintang menumpahkan dipelukan Sasmita. "Hiks, kenapa harus Bintang dan Arumi, Mi?"


...----------------...


Pengen cambuk Hutama Deh!!!!


Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**

__ADS_1


Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih.


__ADS_2