Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 65


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


Ya, dia adalah Aisyah Tirani, sahabat Kintani dan Siska sewaktu masih duduk di bangku SMA dulu. sejak kejadian Kintani meninggal, Aisya menghilang dan hanya dikurung di dalam kamar oleh ayahnya agar tak ada yang mengetahui keberadaannya. Dan tentu semua ini atas bantuan seseorang yang juga sangat berpengaruh dengan segala kekuasaanya.


"Bantu caca untuk bertanggung jawab, bi," ucap aisyah lagi dengan pandangan iba menatap Bi Noa.


Bi Noa menggeleng. Saat Bi Noa akan membuka bibirnya untuk menjawab perkataan Caca, pintu kamar terbuka dengan kasar dari arah luar.


Caca menunduk takut begitu juga dengan Bi Noa. Tapi Bi Noa masih berusaha untuk mengangkat kepalanya menatap seseorang yang kini sudah berdiri di dekat mereka. "Jangan marah lagi, Tuan. Kasian Nona," ucap Bi Noa mencoba untuk membela Caca.


"Sudah berapa kali saya katakan, jangan pernah berdiri di jendela!" ucap lelaki paruh baya itu penuh amarah.


"Lelaki itu masih menantau rumah ini, jika bukan karena kecerobohanmu yang selalu berdiri di jendela, maka dia tidak akan curiga dengan rumah ini," lanjutnya marah membentak Caca.


"lembutlah dengan anakmu, tuan," ucap Bi Noa berani.


"Jangan ikut campur, bi. Anak itu sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan, padahal aku melakukan semua ini untuk kebaikannya," jawab lelaki itu dengan suara keras.


Dengan perlahan, Caca memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "Dulu Papa baik sama Caca," ucap Anak itu lembut menatap sang ayah.


"Dulu sebelum kamu menjadi pembunuh," jawab Lelaki itu tegas.


"Bukan karena itu, tapi Papa berubah karena sekarang Papa dapat uang banyak karena menyembunyikan caca, kan? caca ini buronan polisi, pa," ucap gadis itu dengan pelan.


"Kamu bukan lagi buronan, sudah ada wanita lain yang menggantikan posisimu di penjara," jawab lelaki itu yang membuat caca menatapnya tak percaya.

__ADS_1


Caca berdiri dari duduknya. Rambut ikal nan panjang itu nampak sangat indah saat bergerai bebas. "Kenapa Papa jahat?" tanya Caca lagi dengan sendu menatap sang Papa.


"Papa melakukan semua ini untuk kebaikan mu," jawab lelaki itu pelan mengalihkan tatapannya dari sang anak.


"Papa harusnya bawa caca ke penjara, bukan menyembunyikan caca dan menerima uang dari lelaki tua yang jahat itu, pak. Papa harus berpikir, tidak ada lelaki baik yang menyembunyikan pembunuh cucunya sendiri, Pa," ucap caca mencoba memberikan penjelasan kepada Papanya.


"Ayo bantu caca bertanggung jawab atas semuanya, Pa. Jangan buat gadis lain yang tak berdosa menerima kesalahan, caca. Jadilah papa Caca yang dulu. Papa caca yang selalu mengutamakan kebenaran," ucap Caca sendu memohon menatap sang Papa.


"Papa melekukan semua ini demi caca. Papa rela jahat demi caca, jangan buat pengorbanan papa ini sia-sia, ca," ucap Lelaki itu pelan dan langsung berjalan keluar dari kamar anaknya.


Caca menunduk. sungguh, dia tidak ingin disayangi dengan cara salah seperti ini. "Perasaan caca gak tenang, Bi. Kintani terus datang dalam pandangan Caca," ucap wanita itu setelah kembali berbalik menatap Bi Noa.


"Tenang, Nona. Tuan Hengki melakukan semua ini pasti ada alasannya, yaitu demi kebaikan nona," ucap Bi Noa mencoba memberi sedikit alasan yang membuat nonanya senang.


"Bibi keluarlah, Caca mau sendiri," ucap gadis itu yang dianggukki oleh Bi Noa.


Mata caca memandang keluar mencari lelaki yang biasa berdiri memantau rumahnya. "Kenapa dia sudah pergi?" tanya caca yang tak melihat lelaki itu lagi.


"Tapi mobilnya masih ada," gumam Caca yang melihat mobil BMW hitam masih berdiri disana.


Caca mengedarkan pandangannya, setelah beberapa menit dia memfokuskan tatapannya pada seorang pedagang dengan gerobaknya. Pedagang itu terus melihat ke arah rumahnya yang membuat caca bingung. "mungkinkah dia menyamar?" tanya caca pada dirinya sendiri.


Tidak tahu jika tebakannya ini benar atau tidak, caca tetap harus melakukan tindakannya. Baru kali ini dia sendiri di kamar, biasanya dia akan di temani Bi Noa atau Papanya secara bergantian. Dan sekarang, Caca bisa melakukan hal yang mungkin akan membuatnya keluar dari semua ini.


.....


Sedangkan di tempatnya, bintang mendengus kesal karena tak ada tanda-tanda apapun. bintang duduk di pembatas jalan dengan pandangan yang terus menatap jendela kamar yang ada di rumah itu.

__ADS_1


Mata bintang menyipit saat tirai jendela terbuka. Dapat bintang lihat seorang wanita berdiri disana. "Dia menatapku?" tanya bintang bingung.


Bintang segera berdiri, saat akan mendekat, langkah bintang terhenti kala dia melihat sebuah kertas yang ditempelkan di jendela agar bintang bisa melihatnya. Bintang menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya pada gadis yang kini berdiri di jendela. bintang lihat gadis itu tidak mengangguk dan tidak menggeleng sama sekali, dia hanya mengangkat sebuah kertas yang bintang yakin ada tulisan di kertas itu, tapi apa? bintang tidak bisa melihat dengan jelas karena jaraknya yang cukup jauh.


Melihat kiri dan kanan sekitar rumah, bintang segera berjalan memasuki pekarangan rumah yang pagarnya rendah hingga bintang bisa melompat masuk. Dengan perlahan bintang melangkahkan kakinya. Saat beberapa langkah akan mendekati jendela, bintang sudah bisa membaca tulisan kertas yang dibuat dengan spidol itu.


mata bintang menyipit, dadanya bergemuruh membaca tulisan yang sangat jelas dengan matanya. "KURUNGAN HUTAMA!" eja bintang dengan suara tercekat.


Tidak ingin penasaran, bintang semakin mendekat ke jendela itu. tiga langkah akan sampai, wanita yang tadinya berdiri di jendela kini sudah menutup tirainya dan menghilang dari pandangan bintang.


"Sangat tidak beres!" ucao bintang dengan tangan mengepal menahan sesak, emosi dan rasa penasaran yang begitu mendalam.


"Arumi?" tanya bintang menerka dalam pikirannya. entah mengapa nama arumi terlintas dalam ingatannya saat melihat tulisan tadi. "Mungkinkah semua ini ada hubungan dengan arumi?" tanya Bintang lagi.


"Aku tidak boleh gegabah. aku harus temui komandan dan angkasa," ucap Bintang dan segera berbalik menuju mobilnya untuk meninggalkan rumah tersebut.


Setelah berterimakasih kepada rudi dan mengembalikan pakaiannya, bintang segera melajukan mobilnya menuju kantor untuk menemui Iskandar dan Angkasa. "Jika sampai semua dugaanku benar, jangan harap aku akan diam, Kakek!"


...****************...


Bagi yang lupa kalian boleh baca bab sebelumnya dulu biar rasanya nyampe ke hati menusuk jiwa yaaa, hehe.


BTW, cuma mau kasih info kalau mulai sekarang, tanggal ini, bulan ini dan tahun ini, aku akan aktif nulis lagi, ya. kita akan berkomunikasi intens lewat karya-karya aku.


**dan yang paling penting, aku minta maaf karena baru bisa update lagi. Dan semoga, setelah ini aku bisa update rajin biar kalian gak rindu lagi 🤭


Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**

__ADS_1


__ADS_2