Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 37


__ADS_3

HAPPY READING


Sedangkan di tempat lain yang jauh lebih tenang, Bintang melihat ke arah langit malam. Lelaki itu duduk dengan nyaman namun dengan pikiran yang berantakan. Satu nama saat ini benar – benar memenuhi isi kepalanya. “Bagaimana keadaan Arumiku?”


Mengapa begini keadaan isi hatiku? Apakah ini adalah bentuk penyesalan terbesar selama aku hidup? Aku harus bagaimana? Bintang mengacak kasar rambut nya mencoba melupakan masalah dalam hatinya saat ini.


Kenangan manis yang baru saja Bintang dan Arumi jalani beberapa bulan belakangan ini merupakan kenangan yang begitu membekas di hati Bintang. memang sebentar, namun memberikan efek yang sangat besar dalam hidup Bintang.


.


“bintangnya sangat indah ya, nak?” ucap seseorang yang datang dan duduk di sebelah bintang.


Bintang menoleh. Dia tersenyum dan mengangguk pelan. “indah sekali, nek,” jawab bintang lirih dengan tatapan kembali pada keindahan langit malam.


“nenek perhatikan sudah satu jam kamu duduk disini, nak,” ucap tyas menyampaikan kebenaran. Ya, tyas memang memperhatikan bintang sejak tadi. Sejak cucunya keluar lebih dulu sebelum makan malam selesai.

__ADS_1


“bintang merasa tenang disini, nek,” jawab bintang jujur. Malam ini hutama dan tyas memang menginap di rumah ali dan sasmita. Ini adalah malam terakhir mereka berada di Jakarta. Besok sore tyas dan hutama akan kembali ke desa. Tentu saja itu karena apa yang hutama inginkan sudah terpenuhi. Memasukkan arumi ke penjara dengan status terpidana pembunuh cucu kesayangannya.


“setidaknya masih ada tempat nyaman untuk kamu meski di luar rumah, nak,” ucap tyas yang membuat bintang menoleh.


“di luar sana banyak orang yang mencari tempat untuk ketenangan dan kenyamanan mereka. ada diantara mereka yang memang sudah bernasib malang, dan ada diantara mereka yang dipaksakan bernasib seperti itu,” lanjut tyas penuh makna dengan pandangan ke langit tanpa menoleh pada bintang.


“maksud nenek?” tanya bintang bingung.


Tyas menggeleng. “bukan apa-apa, nak,” jawab tyas.


“Saat kita salah menaiki kapal, kita tidak bisa meminta nahkodanya untuk berbalik mengantar kita menaiki kapal yang sebenarnya sesuai dengan tujuan kita, nak,” ucap tyas lirih.


“mengapa?”


“karena kita sudah berada di tengah laut. Jika saja masih di tepian, maka meloncat keluar kapal itu adalah pilihan yang benar meski harus melawan ombak,” ucap tyas menoleh pada bintang.

__ADS_1


Tyas tersenyum. Dia menoleh pada bintang sambil mengusap lembut sebelah pipi bintang dengan tangannya. “nenek tidak apa-apa, nak. Apa yang nenek sampaikan barangkali bisa kamu jadikan nasehat,” ucap tyas dan berdiri untuk segera berjalan pergi meninggalkan bintang yang termenung.


…..


Matahari muncul menunjukkan Malam pertama sudah dilewati. Bukan malam pertama yang sangat indah, namun malam pertama yang sangat berat dan mendebarkan bagi arumi.


Penjara, tempat yang kini merupakan rumah bagi arumi. Untuk teman sekamar Arumi, tidur di dalam jeruji besi adalah hal yang sudah sangat biasa. Lain halnya dengan Arumi, baru satu malam rasanya sudah seperti setahun lamanya. Untuk memejamkan mata dengan tenang rasanya sungguh berat, hasilnya Arumi hanya tidur selama satu jam karena memang sudah sangat kelelahan karena mencoba beradaptasi di tempat yang dingin itu.


Arumi terbangun dan menatap teman selnya yang lain. “mungkin mereka memang salah, tapi mereka masih memiliki sikap sebagai manusia,” gumam arumi pelan.


Tangan arumi terulur mengusap perutnya. “kamu sudah sedikit muncul ke permukaan ya, nak,” gumam arumi lagi merasakan perutnya yang sudah sedikit terasa menonjol jika di pegang.


“ini adalah keluarga kita, nak. Mereka semua saudara bunda. Maaf jika bunda hanya bisa memberikanmu keluarga seperti ini,” ucap arumi sendu.


“kau mengandung?!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2