
Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!
Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!
"Pasti ada orang di kamar itu. Jangan-jangan dari tadi aku kecolongan," gumam Bintang menerka.
Bintang menghela nafas sebentar. "Apapun yang ada dibalik rumah itu, aku yakin pasti berhubungan dengan kehidupanku," gumam bintang. lelaki itu semakin yakin jika ada hal yang sangat aneh dengan rumah itu, dan ini semakin membulatkan tekad bintang untuk melakukan penyamarannya.
Bintang segera turun dari mobil. lelaki itu berdiri sebentar untuk menunggu penjual bakso bakar keliling itu sepi. Setelah beberapa menit, bintang melangkahkan kakinya dan tanpa aba-aba menarik paksa si penjual bakso untuk memasuki mobilnya
"Apa-apaan ini, pak?" tanya tukang bakso saat bintang juga sudah duduk di kursi kemudi mobilnya. Penjual. bakso yang diketahui bernama Rudi itu menatap tak Terima atas apa yang bintang lakukan.
"Saya ingin mengajak kamu kerja sama," ucap bintang tanpa basa-basi.
Rudi menatap curiga pada bintang. "bapak mau maling dagangan saya kan?" tanya Rudi memicing menuduh bintang.
Bintang berdecih. "saya pakai mobil, sedangkan kamu hanya gerobak itu, mana mungkin saya akan mencuri dagangan kamu," jawab bintang tak Terima dituduh maling.
"Lalu bapak ini siapa? itu nanti dagangan saya ada yang beli," ucap Rudi mencoba membuka pintu.
"Siap namamu?" tanya bintang yang membuat Rudi menghentikan kegiatannya membuka pintu sejak tadi.
"Rudi," jawab Rudi singkat.
"Begini, Rudi. kamu lihat ini," ucap bintang menunjukkan identitasnya sebagai seorang polisi kepada Rudi.
Rudi membulatkan matanya melihat itu. sungguh, dia merasa tidak pernah berbuat kesalahan, kenapa dia harus berurusan dengan polisi? "saya gak pernah buat salah, pak," ucap Rudi menjelaskan.
Bintang mengangguk. Dapat bintang lihat bahwa usia Rudi lebih muda darinya. "Kamu memang tak bersalah, makanya dari awal aku menawarkan kerja sama," ucap bintang mengulangi tujuannya kepada Rudi.
"kerja sama?" tanya Rudi yang dianggukki oleh bintang.
"Kau sering nongkrong dengan jualanmu disini?" tanya bintang.
"iya, pak. saya setiap hati disini karena ramai. kenapa Pak?" tanya Rudi penasaran.
"Apa kau pernah lihat rumah itu terbuka?" tanya Bintang menunjukan rumah yang menjadi incaranbya kepada Rudi.
__ADS_1
Rudi mengikuti arah tunjuk bintang. "Em, sepertinya pernah," jawab Rudi sedikit berpikir dan dia juga tak yakin dengan jawaban yang dia berikan kepada bintang.
"Maksudmu apa?" tanya bintang bingung.
"Begini, pak. selama saya jualan, hanya sekali saya pernah melihat rumah itu kebuka, dan itu tidak lama. Kalau gak salah baru dua hari yang lalu. penghuninya kakek-kakek, dia keluar untuk buang sampah waktu itu," jawab Rudi menjelaskan kepada bintang.
"Selain kakek-kakek itu tidak ada yang lain?" tanya bintang lagi.
Rudi menggeleng yakin. "Gak ada, pak. Tapi gak tahu kalau di dalam rumahnya. warga sini bilang mereka juga tertutup, pak. gak bersosialisasi," jawab Rudi lagi.
Bintang mengangguk. "Aku pinjam dagangan mu," ucap Bintang yang membuat Rudi melotot.
"tidak, nanti saya cari uangnya dengan apa lagi. tidak! saya gak mau, pak," ucap Rudi yang sama sekali tidak. merasa takut kepada Bintang.
Bintang berdecak. "nanti akan aku kembalikan. Ayo buka bajumu, biar aku yang memakainya dan kau memakai bajuku," ucap bintang yang membuat Rudi semakin tak percaya dengan lelaki di depannya ini.
"ini," ucap bintang setelah mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikan kepada Rudi.
Mata Rudi berbinar, lelaki dengan cepat mengangguk dan segera melepas bajunya untuk diberikan kepada bintang. "Ini, pak," ucap Rudi dan segera mengambil uang itu.
Bintang ikut membuka bajunya dan berganti memakai kaos lusuh milik Rudi lengkap dengan topi dan handuk. kecil yang dilikitkan di leher untuk membersihkan keringatnya.
"Polisi ganteng tapi serem juga," ucap Rudi setelah bintang keluar dari mobil.
Bintang berjalan dengan santai. lelaki itu mengambil peran sebagai seorang penjual bakso keliling. Dalam. hati bintang berharap tidak ada yang membeli karena itu bisa membuat rencananya buyar.
Ekor maya bintang terus melihat ke rumah yang menjadi incarannya. masih sama seperti tidak ada kehidupan diluar rumah itu.
Sedangkan di dalam rumah, seorang gadis duduk dengan tenang dan pandangan kosong di atas kasur. Sedangkan dibelakang gadis itu ada seorang wanita paruh baya yang menyisir rambutnya.
"Nona makin cantik," ucap wanita paruh baya itu yang biasa dipanggil Bibi Noa.
Gadis itu hanya mengangguk. Bi Noa yang melihat reaksi nona mudanya hanya menghela nafas pelan. entah sampai kapan gadis cantik ini akan terkurung di kamar yang sangat bersih ini.
"Bibi," panggil gadis itu lembut.
"Iya, nona," jawab Bi Noa pelan.
__ADS_1
"Kenapa rambutku di sisir? Nanti Kintan marah," ucap gadis itu tanpa ekspresi dan pandangan yang lurus ke depan.
"Kintan tidak akan marah, Nona," jawab Bi Noa yang mulai paham jika pikiran halu Nona mudanya sedang bereaksi.
"Bibi," panggil Gadis itu lagi dengan lembut.
"Iya Nona," jawab Bi Noa penuh sabar.
"Ayo antar Caca ke penjara," ucap Gadis itu yang membuat Bi Noa menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Disaat nona nya ingin mengakui kesalahan untuk. menebus dosa, tapi seseorang malah mengurungnya dan menyuruh untuk menutup mulut selama beberapa tahun ini.
"Nanti Nona Caca di pukul lagi," ucap Bi Noa sedih.
"Lebih sakit di datangi Kintan dari pada di pukul Ayah, Bibi," jawab gadis itu dengan pandangan yang mulai buram karena tumpukan air matanya.
Ya, kakek-kakek yang tadi dibilang oleh Rudi adalah ayah dari Gadis malang yang selalu di kurung si kamarnya.
"Jangan, nona. Bibi gak kuat liat nona jika harus di pukul terus. Ikut saja, nona. semua mereka lakukan agar nona bisa hidup bebas," ucap Bi Noa lembut menjelaskan kepada Nona mudanya itu.
"Tidak, Bibi. Caca tidak akan pernah bebas dan tenang. Tangan Caca udah jahat dorong Kintan," ucap gadis itu berbalik menatap penuh penyesalan pada Bibi Noa.
"Jangan seperti ini, Nona," ucap Bi Noa sedih.
"Aisyah Tirani sudah jahat pada Kintan, Bi," ucap gadis itu menyebutkan namanya dengan sendu.
Ya, dia adalah Aisyah Tirani, sahabat Kintani dan Siska sewaktu masih duduk di bangku SMA dulu. sejak kejadian Kintani meninggal, Aisya menghilang dan hanya dikurung di dalam kamar oleh ayahnya agar tak ada yang mengetahui keberadaannya. Dan tentu semua ini atas bantuan seseorang yang juga sangat berpengaruh dengan segala kekuasaanya.
"Bantu caca untuk bertanggung jawab, bi."
...****************...
Bagi yang lupa kalian boleh baca bab sebelumnya dulu biar rasanya nyampe ke hati menusuk jiwa yaaa, hehe.
BTW, cuma mau kasih info kalau mulai sekarang, tanggal ini, bulan ini dan tahun ini, aku akan aktif nulis lagi, ya. kita akan berkomunikasi intens lewat karya-karya aku.
**dan yang paling penting, aku minta maaf karena baru bisa update lagi. Dan semoga, setelah ini aku bisa update rajin biar kalian gak rindu lagi ðŸ¤
__ADS_1
Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**