Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 42


__ADS_3

HAPPY READING


Sasmita menggeleng. “mami mau beli susu dan vitamin ibu hamil.”


“mami hamil?!” tanya bintang sedikit terpekik kaget.


“sembarangan kamu,” ucap sasmita tegas.


“terus buat apa beli susu ibu hamil?” tanya bintang heran. Setahunya, susu ibu hamil itu hanya untuk orang yang sedang mengandung. Dan di rumah atau keluarga besarnya tidak ada yang sedang mengandung.


“Lusa mami ada acara ngasih penyuluhan di lapas. Dan temanya tentang kehamilan. Jadi, nanti susunya akan dikasih pada tahanan yang beruntung,” jawab sasmita jujur.


“dan mami mau nanti kamu ikut Bantu mami. Nanti ada angkasa juga disana. Mami sudah koordinasi ini sama Iskandar juga. Dia akan mengutus beberapa polisi termasuk kamu juga nanti,” ucap sasmita memberitahu.


“kok bintang gak tahu? Om Iskandar gak ngomong apa-apa sama bintang lho mi,” ucap bintang heran.


“ini rencana sudah lama. Mungkin om Iskandar lupa. Tapi angkasa udah tahu kok sama yang lain juga. Coba aja kamu tanya,” ucap sasmita meyakinkan bintang.


“yaudah. Nanti bintang temani ke supermarket. Bintang mau ke kamar dulu,” ucap bintang berdiri.


“bintang,” panggil sasmita menghentikan Langkah kaki bintang.


“iya, mi?” jawab bintang berbalik.


“kamu seorang polisi. Abdi negara yang memiliki tanggung jawab besar. Mami harap, selain negara kamu juga bisa bertanggung jawab sama sikap kamu,” ucap sasmita menatap bintang.


Bintang terdiam. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia sering sekali mendapat nasehat dengan banyak maksud dari tyas ataupun sasmita.


Bintang hanya mengangguk. Jika dia bertanya, maka hanya jawaban yang sama yang akan dia dapatkan. Setelahnya bintang berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sasmita menghela nafas pelan. Semoga dengan cara ini dia bisa memberi perhatian pada cucunya. Cara yang tasya dan agnes berikan memang sangat berguna. Meskipun mereka harus membuka sedikit rahasia pada angkasa dan Iskandar.


*Flashback On*


Setelah sasmita menyetujui permintaan agnes untuk membantu mencari bukti di rumah hitama, kini giriliran sasmita yang meminta bantuan.


“tante mau imbalan untuk bantun tante dari kalian,” ucap sasmita yang membuat agnes dan tasya saling pandang.


“imbalan?” tanya agnes memperjelas maksud sasmita.


Sasmita mengangguk. “tante ingin arumi mendapat perlengkapan ibu hamil yang lengkap. Tapi gak ada yang boleh curiga kalau arumi hamil,” ucap sasmita serius.

__ADS_1


“tante serius? Ini sulit tante. Gimana caranya?” tanya tasya bingung.


Agnes terdiam. Dia sedikit berpikir. Kira-kira cara apa yang akan mereka lakukan untuk itu. “tante ingin ngasih sendiri ke arumi?” tanya agnes.


Sasmita mengangguk.


“kita adain penyuluhan. Tantekan seorang psikolog. Kita angkat tema penyuluhan kesehatan jiwa bagi Wanita hamil,” ucap agnes memberi ide.


“ide bagus. Nanti kita bisa atur semuanya. Kita harus koordinasi sama pihak lapas,” ucap tasya mendukung ide agnes.


“apa itu tidak membuat tahanan lain curiga?” tanya sasmita.


Agnes menggeleng. “kita adakan pesertanya adalah tahanan perempuan tante. Kan di lapas ada beberapa ibu hamil. Nanti, kita adain dorprise. Yang menang nanti dapat perlengkapan ibu hamil. Kita berikan dorprise pada satu ibu yang benar hamil, dan satu kita pastikan arumi yang menerima. Tante tinggal tambahkan nanti jika susu hamil atau vitamin tidak harus untuk ibu hamil. Bisa juga untuk Wanita yang tidak mengandung demi menambah berat badan dan ketahanan tubuhnya. Kan susu ibu hamil juga buat nambah berat badan,” ucap agnes sangat masuk akal.


“benar, tante. Tapi kita harus hubungi pihak lapas dulu,” ucap tasya.


“kalau itu mudah. Tante bisa hubungan teman tante dan anaknya. Bisa kalian temani tante?” tanya sasmita yang dianggukki oleh tasya dan agnes.


Ketiga perempuan berbeda generasi itu pergi menuju kantor polisi untuk menemui orang yang dimaksud sasmita. Mereka pergi dengan mobil agnes karena tadi sasmita datang dengan taksi online.


Beberapa menit berkendara, mobil agnes sampai di kantor polisi. Mereka bertiga turun dan langsung berjalan masuk ke kantro polisi menuju ruangan Iskandar.


Sasmita mengetuk pintu ruangan Iskandar yang terbuka. Iskandar yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh. “sasmita,” ucap Iskandar sambil berdiri. raut bingung tercetak jelas di wajahnya melihat kedatangan istri dari sahabatnya itu.


Iskandar menggeleng. Setelahnya dia mempersilahkan sasmita, tasya dan agnes untuk masuk dan duduk kursi tamu yang ada disana.


“kalian pengacara tahanan yang Bernama arumi, bukan?” tanya Iskandar yang dianggukki oleh agnes dan tasya.


“ada apa?” tanya Iskandar lagi.


“aku butuh bantuanmu,” ucap sasmita tanpa basa-basi.


“bantuanku? Bantuan apa?” tanya Iskandar heran.


“aku ingin mengadakan penyuluhan mengenai kesehatan mental Wanita di lapas,” ucap sasmita tanpa ragu.


“tiba-tiba?” tanya Iskandar sedikit terkejut.


“apa ini adalah program dari yayasanmu?” tanya Iskandar. Selain seorang psikiater, sasmita memang memiliki Yayasan yang berkaitan dengan kesehatan mental, termasuk juga kesehatan bagi anak-anak penyandang disabilitas.


Sasmita menggeleng. “tapi bisa kau anggap begitu,” jawab sasmita.

__ADS_1


“maksudnya bagaimana?” tanya Iskandar semakin bingung.


Sasmita, agnes dan tasya saling pandang. Mungkin memberitahu Iskandar akan lebih mudah. Karena jika ini program Yayasan harus melalui banyak proses dan surat menyurat.


“ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Tapi ini hanya rahasia kita, Iskandar. Jangan sampai keluarga besar suamiku, termasuk suami dan anakku, jangan tahu dulu tentang ini,” ucap sasmita setelah mendapat anggukkan dari agnes dan tasya.


“ada apa?” tanya Iskandar kagi.


Kali ini agnes yang bersuara menceritakan semuanya. Sasmita hanya diam. Sebenernya sasmita tak mau menceritakan ini. Menceritakan ini sama saja dengan meceritakan aib anaknya sendiri. Tapi apa daya, Iskandar adalah orang yang bisa dia percaya untuk membentunya memberi perhatian pada arumi selama arumi masih berada di dalam penjara.


Iskandar menghela nafas pelan setelah mendengar cerita dari agnes. Lelaki paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke sofa. “aku sudah curiga ini dari awal. Tapi aku tidak menyangka jika arumi sampai mengandung,” ucap Iskandar memeberi respon.


“aku sering mendapati bintang diam-diam memperhatikan arumi saat dia masih di tahan disini. Tepatnya sebelum keputusan sidang. Dia sering memperhatikan tahanan itu dari jauh. Pernah sekali aku mengagetkannya, saat aku tanya dia selalu mengelak,” ucap Iskandar pelan.


“anakku sedang tidak percaya dengan apa yang ada di hatinya, Iskandar,” ucap sasmita sendu.


“tapi maaf, tante. Bukan bintang tidak percaya, tapi dia yang tidak mau percaya,” ucap agnes tegas.


Sasmita mengangguk. “ya, kamu benar. Ada banyak alasan untuk bintang bisa percaya, tapi dia memilih untuk tidak percaya,” jawab sasmita.


“aku harap berita ini tidak tersebar. Karena jika sampai tersebar, maka karir bintang sebagai abdi negara bisa terancam,” ucap Iskandar menatap sasmita, tasya dan agnes bergantian.


“berhenti jadi polisi tidak akan membuat bintang miskin, komandan Iskandar. Tapi klien saya? Dia harus merelakan masa mudanya. Jika saja bukan karena permintaan arumi untuk menyembunyikan semua ini, sudah saya buka habis-habisan waktu persidangan,” ucap agnes sedikit sensitive. Dia paling sensitif jika masih saja ada orang yang membela bintang, karena sudah jelas-jelas lekaki itu salah.


Iskandar hanya diam. Benar apa yang disampaikan agnes, tapi sebagai seorang abdi negara tentu dia membela karir bintang. Karena itu bisa mencoreng nama baik kepolisian.


“jadi kapan kamu ingin melakukannya?” tanya Iskandar beralih pada sasmita.


“lusa. Apakah bisa?” tanya sasmita.


Iskandar sedikit berpikir. Setelahnya dia mengangguk.


“nanti aku akan koordinasi dengan pihak lapas. Persiapkan saja apa yang harus kalian persiapkan,” jawab Iskandar menyetujui.


Sasmita tersenyum. “terimakasih banyak, Iskandar,” ucap sasmita tulus.


“anggap ini hadiah dariku untuk cucumu,” jawab Iskandar.


Sungguh, kesenangan tak hingga kini di dapat oleh sasmita karena rencananya bisa berjalan dengan baik. Agnes dan tasya ikut senang. Secara tidak langsung, mereka bisa memberikan perhatian keluarga kepada arumi dan anaknya.


*Flashback Of*

__ADS_1


...****************...


__ADS_2