Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 82


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


"Kita langsung bergerak?" tanya Iskandar menatap Bintang.


"Apa kita gak butuh tim?" tanya Angkasa menjawab. Lelaki itu sedikit ragu karena mereka hanya bertiga sekarang ini.


"Gak perlu tim, kita bertiga cukup mengeluarkan isi rumah itu," jawab Bintang dengan yakin dan pandangannya yang terus menatap ke rumah yang kini menjadi fokus mereka.


"Kamu yakin tidak salah kan, Bintang? Om gak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama," ucap Iskandar menatap Bintang.


Bintang terdiam, setelahnya dia mengangguk menjawab pertanyaan Iskandar. "Bintang yakin, Om, tapi setelah ini, mungkin ada ada yang sedikit berubah," jawab Bintang menatap Iskandar dengan senyum miring di bibirnya.


"Apa maksudmu?" tanya Iskandar heran.


Bintang terkekeh. Lelaki itu hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara menjawab pertanyaan Iskandar. Angkasa yang melihat sahabatnya itu menggeleng heran. "Gue kira lo bakal gila," jawab Aska santai.


"Bentar lagi," ucap Bintang meladeni perkataan Angkasa.


Setelah sedikit berbincang, ketiganya sepakat untuk segera turun dari mobil dan berjalan mengendap untuk bisa memasuki halaman rumah itu.

__ADS_1


"Apa kita langsung masuk?" tanya Angkasa menatap Iskandar dan Bintang bergantian.


Bintang mengangguk. "Langsung dobrak aja. Rumah iini memiliki tiga pintu, depan, samping dan belakang," jawab Bintang memberitahu keadaan rumah yang akan mereka masuki itu.


"Aku jaga pintu belakang," ucap Angkasa tegas.


"Biar Om yang di pintu samping, Bintang. jika nanti kamu sudah mendobrak, pasti penghuninya bangun, dan om bersama Angkasa bisa berjaga-jaga jika nanti mereka kabur, dan dengan begitu kita bisa mengepung mereka di rumah itu agar tak kemana-mana," ucap Iskandar memberi usul yang dianggukki oleh Angkasa dan Bintang.


"Ayo berpencar!" Iskandar dan semuanya berjalan dengan mengendap menuju penjagaan mereka masing-masing.


Bintang memantapkan langkahnya menuju pintu depan. Lelaki sangat yakin dengan apa yang kini dia lakukan, kali ini, alasan dia melakukannya hanya untuk Arumi. Tidak peduli dengan apa yang nanti terjadi dalam keluarganya, yang pasti Bintang harus segera mengambil tindakan atas kecurigaannya ini.


Sedangkan di tempat lain, Hutama saat ini berada di dalam kamarnya yang ada di rumah Ali. Lelaki tua itu akan menginap disini karena harus memastikan jika Bintang tidak akan berbuat macam-macam. Hutama duduk dengan pandangan lurus ke depan dengan pikiran yang tak menentu. Perkataan Bintang tadi sangat mengganggu Hutama.


"Kenapa Bintang bisa bicara seperti itu? Apa anak itu tahu sesuatu?" gumam Hutama bertanya-tanya dengan segala dugaannya.


Hutama menggeleng menghalau pikirannya. Tiba-tiba ketakutan bersarang di otak Hutama saat teringat sesuatu.


Dengan cepat Hutama merogoh ponselnya dan melakukan panggilan dengan seseorang.


"Kau dimana?" tanya Hutama langsung begitu telepon tersambung saat dering pertama.

__ADS_1


"Apa yang Tuan tanyakan, tentu aku dirumah malam begini," jawab seorang lelaki dari seberang telepon.


"Apa ada yang datang ke rumahmu akhir-akhir ini?" tanya Hutama dengan mendesak.


Orang diseberang sana menggeleng. "Tidak Tuan," jawabnya dengan nada yakin.


"Bagus! terus lakukan tugasmu!" ucap Hutama dan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mengucapkan apapun lagi.


Hutama menghela nafas pelan. "Semua akan sesuai dengan apa yang aku rencanakan."


Sedangkan di tempat lain, lelaki yang tadi menerima panggilan Hutama menatap ponselnya. "Jika aku mengatakan kecurigaan cucumu, maka nyawa keluargaku pasti terancam. Maaf, Bapak Tua!" gumam lelaki yang cukup berumur itu dengan pikiran yang masih bisa dia kendalikan. Dia terpaksa harus menuruti apa yang selama ini diminta Hutama untuk terus bersembunyi, tapi jika mereka ketahuan, maka nyawa mereka juga akan menjadi tumbal untuk dihilangkan oleh Hutama.


Posisi yang tadinya berdiri menatap jendela, kini berbalik saat mendengar langkah kaki mendekat. "Ada apa?" tanyanya saat melihat seorang wanita muda yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.


"Berhenti, Ayah. Aku ini bersalah."


...****************...


Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**


Jangan lupa masukan cerita ini ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya ya teman-teman, dan follow juga akun penulis aku untuk dapatin notifikasi karya baru, terimakasih!!!

__ADS_1


__ADS_2