Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 43


__ADS_3

HAPPY READING


Bintang dengan sabar menemani maminya memilih-milih di super market. Saat ini bintang sedang memenuhi janjinya untuk menemani sasmita membeli keperluan untuk kegiatannya di lapas nanti. Bintang juga sudah menanyakan kepada Iskandar, dan kegiatan ini memang benar akan dilakukan besok. Mau tidak mau bintang hanya bisa menurut.


Bintang berjalan dengan satu tangan memegang troli dan satu tangannya lagi memainkan ponsel. Lelaki itu nampak sangat tampan dengan seragam polisi yang masih melekat di tubuh indahnya.


Sasmita yang menyaksikan mata genit menatap anaknya menghentikan Langkah. “kamu kenapa masih pake baju ini sih? Mau pamer?” tanya sasmita kesal berbalik menatap bintang.


“lho? Kan tadi bintang habis dinas, mi? mami desak bintang jadi gak sempat ganti baju,” jawab lelaki itu membela diri.


Sasmita menghela nafas pelan. Dia menatap satu persatu gadis yang menatap anaknya. Sasmita menunjukkan senyumnya pada salah satu gadis yang berdiri dekat dengan mereka. “ada apa, ya liatin anak saya?” tanya sasmita tanpa basa-basi.


“anak ibu tampan. Abdi negara lagi,” jawab gadis itu tanpa malu.


Sasmita tersenyum. “memang. Mungkin bawaan bayi yang dikandung menantu saya membuat aura ayahnya keluar. Aslinya dia biasa aja. Iyakan, nak?” tanya sasmita menatap bintang dengan membesarkan matanya memberi kode agar bintang mengiyakan apa yang dia katakana.


Bintang hanya mengangguk kaku. Dia ikut memperhatikan sekitar. Ternyata itu yang membuat maminya kesal.


Gadis itu tersenyum malu dan segera pergi dari hadapan sasmita juga bintang. Sasmita berdecak kesal melihat itu. “udah jelas perutnya besar masih ada lirik laki-laki lain,” ucap sasmita tak habis pikir.


“terbuktikan mi? bukan hanya lelaki yang mata keranjang, tapi Wanita juga,” ucap bintang percaya diri.


“iya. Tapi kebanyakan laki-laki gak tahu diri,” jawab sasmita menatap bintang ketus dan kembali melanjutkan langkahnya untuk memilih beberapa susu ibu hamil.


“salah terus,” gerutu bintang dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Setelahnya lelaki itu dengan patuh mengikuti Langkah kaki sasmita sambil mendorong troli belanjan.


…..


“ini mami beli pake uang sendiri?” tanya bintang setelah mereka memasukkan semua belanjaan ke bagasi mobil.


“iyalah,” jawab sasmita tegas.


“kok gak pake uang Yayasan aja?” tanya bintang seraya memakai sabuk pengaman.


“mami sesekali mau pake uang sendiri juga. Sedekah juga,” jawab sasmita tulus.


Bintang terdiam. Setelahnya dia mengangguk dan mengambil dompet di saku celana coklatnya. “bintang juga mau sedekah. Biar bintang yang bayar setengahnya. Ini ganti uang mami,” ucap bintang mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan memberikannya pada sasmita.


“tumben?” tanya sasmita heran.

__ADS_1


Bintang berdecak. “jangan ngomong seakan bintang pelit ya, mi,” ucap bintang yang dibalas kekehan oleh sasmita. Wanita itu menerima uang pemberian anaknya dan memasukkan ke dalam tas.


“mami gak suka banget kamu diliatin kayak tadi. Nanti-nanti kalau mau kemana jangan pake seragam. Kayak orang pamer aja tahu gak,” ucap sasmita mengeluarkan pendapatnya.


“kalau gak mami desak bintang juga gak bakal pake baju ini mi,” jawab bintang seraya mulai menjalankan mobilnya menuju keluar basemant.


“lagian alasan mami juga ada-ada aja. Pake segala bilangin cucu,” ucap bintang terkekeh.


“memang udah waktunya punya cucu,” jawab sasmita singkat.


“nanti kalau ada rezeki pasti dapet mi. lagian bintang belum nikah juha,” jawab bintang santai.


“antara belum ada rezeki sama nolak rezeki itu beda tipis,” jawab sasmita cuek sambil menoleh ke luar jendela.


Bintang diam. Apa yang dikatakan maminya membuat dia sedikit tersindir. Tapi apa yang bisa dia marahkan? Apa yang sasmita katakana memang ada dalam dirinya. Dia yang menolak rezeki.


…..


Hari yang paling sasmita nantikan datang. Sekarang dia sudah bersiap untuk pergi ke lapas demi memberikan penyuluhan. Tapi sebelumnya, dia ada jadwal bertemu dengan agnes, tasya dan rendi. Kini mereka berempat sudah berada di parkiran lapas. Memang disini tempat yang sasmita janjikan agar dia tidak kesana kemari nantinya.


“kapan kalian ingin masuk ke rumah ayah mertua saya?” tanya sasmita. Sekarang mereka berempat berada dalam mobil sasmita agar taka da yang melihat.


“baiklah. Agnes kamu tahu rumah mertua saya yang di Jakarta ini, kan?” tanya sasmita menatap agnes.


“tahu tante. Dekat rumah tante itu kan?” jawab agnes sambil memastikan kembali.


Sasmita mengangguk. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan sebuah kartu kepada agnes. “kalian pakai ini,” ucap sasmita.


Agnes menerimanya.


“ini adalah kartu pengacara pribadi keluarga hutama. Pengacara yang memiliki kartu ini berarti mereka adalah tim dari pengacara pribadi kami. Dan kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, bukan?” ucap sasmita menatap ketiganya.


“tahu tante. Kami hanya perlu sedikit berbohong untuk menyamar,” jawba rendi.


“bagus. Semoga kalian mendapatkan bukti dan cepat membebaskan ibu dari cucu saya,” ucap sasmita penuh harap.


“kami akan berusaha, tante,” jawab agnes.


Setelahnya mereka keluar dari mobil sasmita.

__ADS_1


Sasmita Manahan tangan agnes sebelum Wanita itu benar-benar keluar. “kenapa tante?” tanya agnes bingung.


“tante sangat berharap pada kamu untuk kebebasan arumi, agnes,” ucap sasmita tulus.


Agnes tersenyum dan mengangguk. “percayakan pada kami, ya tante. Kami akan usahakan yang terbaik. Terimakasih juga karena bersedia membantu,” jawab agnes lembut.


“sudah seharusnya tante malakukan ini. Maaf jika memang terlambat,” ucap sasmita sendu.


Agnes lagi-lagi mengangguk. “semoga kegiatan tante hari ini berjalan lancer,” ucap agnes.


“Aamiin. Terimakasih, agnes,” jawab sasmita tulus. Setelahnya agnes benar-benar keluar dari mobil sasmita dan menyusul tasya juga rendi yang sudah berpindah ke mobil tasya.


…..


“di penjara memang ada kegiatan kayak gini ya, kak?” tanya arumi pada veni yang kini berjalan di sampingnya. Sedangkan di depannya ada nora dan airi yang jalan duluan.


Veni mengangguk. “penyuluhan seperti ini akan baik untuk bekal para tahanan setelah keluar penjara nanti,” jawab veni jujur.


“bagus juga, ya. Apalagi tadi temanya kesehatan mental untuk Wanita,” ucap arumi senang.


Veni mengangguk. “iya. Dan ini memang di khususkan untuk tahanan Wanita katanya,” tambah veni.


Mereka sampai di aula lapas. Mata arumi bergerak membaca spanduk besar yang manampilkan judul dari kegiatan hari ini. Ini rezeki kamu, nak. Ada penyuluhan untuk ibu hamil. Semoga nanti bunda bisa menerapkan apa yang bunda dapat dari kegiatan ini, ya nak. Batin arumi senang sambil mengusap samar perutnya dengan lembut.


Kini semua tahanan Wanita sudah duduk di lantai aula. Arumi duduk di deretan ke lima dari depan. Di ujung tembok yang bersebelahan dengan veni, airi dan nora.


Semoga tidak ada di-


Monolog arumi terhenti kala matanya tak sengaja menangkap sosok lelaki berpakaian polisi lengkap yang sedang sibuk di belakang sana. Entah apa yang dilakukannya arumi tidak tahu. Arumi segera menundukan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh lelaki itu.


“kamu kenapa?” tanya veni heran melihat arumi.


Arumi menggeleng.


“jangan menunduk. Itu yang memberi penyuluhan sudah datang. Kita harus hormat,” ucap veni yang mau tak mau memaksa arumi untuk mengangkat kepalanya.


Dengan perlahan, kepala arumi terangkat.


DEG.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2