
HAPPY READING
Sampai di ruang kunjungan, arumi melihat seorang Wanita yang sudah duduk disana. Wanita itu juga tengah menapnya sambil tersenyum. “arumi.”
“Nenek Tyas,” gumam arumi sedikit terkejut melihat tyas yang datang mengunjunginya.
Arumi duduk di depan tyas. Dia melihat ke belakang, kiri dan kanan tyas untuk memastikan Bersama siapa Wanita itu datang.
Tyas yang menyadari itu tersenyum. “nenek datang sendiri, arumi,” ucap tyas menjawab penasaran arumi.
“maaf. Ada apa, ya nek?” tanya arumi heran. Pasalnya, saat dia di tahan tyas sangat marah dan selalu memasang wajah penuh emosi menatapnya. Tapi sekarang? Wanita tua itu menatapnya penuh kelembutan.
“nenek hanya ingin mengunjungimu,” ucap tyas lembut.
Arumi hanya mengangguk. Sungguh, dia merasa canggung saat ini. Berdua dengan tyas di dalam ruangan ini membuat arumi bingung. Apa yang harus mereka bicarakan.
“arumi,” ucap tyas memanggil lembut arumi. dia harus berusaha mencairkan suasana agar arumi tidak merasa canggung.
“iya nek,” jawab arumi lembut.
“apa kamu betah disini?” tanya tyas pelan.
“harus betah, nek. Arumi tidak bisa mengatakan tidak betah karena disinilah rumah arumi sekarang,” jawab arumi tersenyum.
Rasanya pedih sekali bagi tyas mendengar apa yang disampaikan arumi. semua nasib dan takdir ini diciptakan oleh suaminya sendiri. Tapi Wanita yang menjadi korban kekuasaan di depannya ini masih bisa tersenyum dan memperlihatkan keikhlasannya.
“arumi,” panggil tyas lagi.
“iya, nek,” jawab arumi lembut.
“seandai kamu bebas dari sini, kemana kamu akan pergi?” tanya tyas menatap lekat Wanita muda di depannya.
__ADS_1
Arumi tersenyum kecil. “jauh, nek. Jauh ke tempat dimana arumi bisa di terima. Jauh ketempat dimana tidak ada sama sekali orang yang berkaitan dengan masa lalu arumi. terutama keluarga nagara,” jawab arumi yakin tanpa takut menatap tyas.
Tyas tersenyum. Meskipun dia tidak ikhlas mendengar jawaban arumi, tapi dia senang melihat keyakinan arumi. “iya, nak. Pergilah ke tempat dimana kamu dihargai. Pergilah ke tempat dimana kamu dianggap ada,” ucap tyas menyemangati arumi.
“pasti nek. Tidak ada guna kembali pada masa lalu. Apalagi masa lalu yang sangat menyakitkan,” jawab arumi sedikit menyindir.
“tapi bagaimana jika nanti semua orang dimasa lalumu menyesal, nak?” tanya tyas.
Arumi terkekeh pelan. “untuk apa menyesal? Untuk dikasihani dan dimaafkan?” jawab arumi bertanya balik.
“itu gunanya kita membuka mata dan hati, nek. Kesempatan kemarin untuk membela tidak akan kembali pada masa depan nanti,” lanjut arumi yang melihat tyas hanya diam.
“apa kamu masih mencintai cucu nenek, arumi?” tanya tyas sendu.
Arumi terdiam. Jujur saja, sampai kapanpun dalam hatinya masih ada nama seorang bintang. Apalagi bintang meninggalkan kehidupan lain dalam Rahim arumi. tapi untuk mengatakan dia mssih mencintai bintang? Rasanya lidah arumi tidak terima untuk itu.
“setelah semua ini, tidak nenek,” jawab arumi membalas tatapan sendu tyas dengan tatapan tenang.
Setelah mengatakan itu, arumi sedikit kaget merasakan perutnya yang tiba-tiba terasa keram. Arumi memejamkan matanya sejenak untuk menteralkan raut wajahnya dan meredam sebentar rasa sakitnya. Kamu tahu saja kalau ayahmu sedang bunda tolak, nak. Batin arumi. entah bagaimana nanti, arumi hanya berharap anaknya selalu berpihak kepadanya.
“jika sanggup, maka arumi akan penuhi,” jawab arumi seadanya.
“jangan pernah membohongi hati kamu sendiri ya, nak,” ucap tyas dengan senyumnya.
Arumi terdiam. Begitu juga dengan tyas. Mereka berdua hanya saling tatap dengan pikiran masing-masing.
“ah iya, waktu berkunjung nenek sudah hampir selesai. Nenek pamit, ya nak,” ucap tyas memecah keheningan mereka.
Arumi mengangguk. “terimakasih sudah mau berkunjung, nek,” jawab arumi tulus.
“sudah seharusnya nenek datang kesini, nak.”
__ADS_1
Arumi hanya tersenyum. Entah apa maksud tyas, yang pasti arumi tidak terlalu ambil pusing dengan obrolan mereka tadi.
“sebelum nenek keluar, satu hal yang harus kamu tahu, nak. Nenek minta maaf,” ucap tyas sambil berdiri.
“maksud nenek?”
Tyas menggeleng. Suatu saat nanti kamu akan tahu sendiri, nak. Dan saat itu, penyesalan akan ada pada seluruh diri keluarga nagara. Batin tyas.
“satu penyesalan nenek sama kamu. Nenek menyesal meminta kamu untuk menjauhi bintang,” ucap tyas dan langsung berbalik berjalan menuju pintu keluar ruang kunjungan.
Arumi terdiam. Sebenarnya apa semua maksud dari perkataan tyas? Apa pesan tersirat yang tyas sampaikan? Tidak ingin bingung sendiri, arumi berjalan kembali menuju selnya sebelum dijemput oleh polisi penjaga.
…..
Tyas memasuki mobil di parkiran penjara. Dia menoleh ke samping. “kamu dengar bagaimana hatinya untukmu, kan?” tanya tyas pada seseorang yang duduk di kursi kemudi.
Orang itu mengangguk. “bintang pantas mendapatkannya, nek,” jawab orang itu.
Ya, dia adalah bintang. Tyas tidak datang sendiri menjenguk arumi. dia datang Bersama bintang yang memilih untuk bersembunyi di balik tembok ruang kunjungan. Dia tidak mau nanti arumi melihat keberadaanya. Dari tempat dia bersembunyi, bintang dapat mendengar semua pembicaraan tyas dan arumi.
“nenek juga minta maaf sama kamu, bintang. Nenek dan kakek kamu pernah meminta arumi untuk menjauh. Itu tepat sehari setelah kamu pergi dari desa,” ucap tyas mengakui perbuatannya Bersama hutama.
Bintang terkekeh pelan. Harusnya kedatangannya bisa menjadi obat untuk memberi solusi apa yang akan arumi ambil. Tapi dia malah datang untuk melakukan penangkapan. Tentu itu membuat arumi membulatkan tekad untuk melupakannya. “memang dari awal kita yang salah, nek. Kenapa keluarga nagara harus selalu mementingkan harta dan kekuasaan?” tanya bintang lirih.
“jika saja sedikit ada toleransi mengenai itu dalam keluarga kita, maka sudah lama bintang meresmikan hubungan bintang dengan arumi,” lanjut bintang lirih.
“kalian menikah dan semua kasus ini kamu ketahui setelah pernikahan, hingga ada kabar menantu keluarga nagara membunuh cucu perempuan keluarga nagara. Apa yang kamu lakukan? Bukankah itu lebih sakit untuk arumi? saat hubungan kalian adalah suami istri, dan kamu tidak mempercayainya, bukan? Bukankah lukanya akan semakin dalam bagi arumi?” tanya tyas menatap bintang.
Bintang diam. Apa yang tyas katakan memang benar. Apapun keadaanya, semua akan sangat salah.
“yang benar adalah kalian tidak pernah bertemu, nak. Setidaknya arumi tidak akan menjadi korban begini,” ucap tyas membatin di kalimat akhirnya. Tyas mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. Dia harus menyembunyikan tangis yang siap pecah dari matanya.
__ADS_1
Bintang menghela nafas pelan. Lelaki itu menyandarkan punggungnya dengan kepala menengadah. “bukan hubungan bintang dan arumi yang salah. Hubungan kamu adalah suci meski tidak ada tujuan,” ucap bintang pelan. Setelahnya bintang menolehkan kepalanya menatap tyas. “harusnya keluarga nagara tidak pernah ada, nek.”
...****************...