Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 55


__ADS_3

HAPPY READING


“apa ada lagi yang ingin tuan sampaikan? Jika tidak ada saya ingin kembali ke sel,” ucap agnes sambil menghapus air matanya.


“akua da satu penawaran,” ucap harun yang dibalas dengan tatapan oleh arumi.


“aku akan membebaskanmu tapi pergilah jauh dari kehidupan anakku dan calon suaminya.”


Arumi menggeleng. “aku hanya akan menerima kemana takdir membawaku, tuan. Tapi tuan tenang saja, tanpa sebuah kebebasanpun, aku sangat sadar diri untuk tidak mengganggu hubungan agnes dan bintang,” ucap arumi berdiri dari duduknya.


“tanpa kebebasan, aku akan tetap menjauhi calon menantumu,” ucap arumi yakit menatap harun dengan tegas.


“dan satu lagi, tuan. Anda pasti sangat tahu, keberadaan saya di penjara ini bukan karena kejahatan saya membunuh anak dari keluarga nagara, tapi karena hubungan saya menghalangi jalan anda untuk menjadi keluarga nagara!” tambah arumi menatap penuh berani pada harun yang kini menatap kesal pada arumi. setelahnya arumi pergi begitu saja meninggalkan harun dengan kejengkelannya.


“setidaknya aku sudah melakukan satu langkah yang akan pasti membuatmu mundur dan menolak bintang,” gumam harun dan ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut.


…..


Arumi duduk di pojok selnya. Malam telah menyambut dan keheningan kini menemaninya. Teman tahanannya sudah memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi. Arumi sudah mencoba untuk memejamkan matanya namun tidak bisa. Rasa kantuknya kalah dengan pikiran yang kini memenuhi kepalanya.


Duduk dengan punggung bersandar ke dinding sel dan kepala mendongak. Air mata arumi mengalir tanpa bisa dia cegah. Agnes adalah anak dari harun? Dan dia sudah dijodohkan dengan bintang? Bahkan agnes sudah mengetahui sejauh mana hubungan arumi dan bintang. Lebih jauhnya lagi, bahkan agnes sudah tahu mengenai keberadaan anaknya. Tangan arumi terulur mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Wanita itu dengan mati-matian menahan suara tangis dan isakannya agar tak membangunkan teman selnya yang lain.


Setelah semua ini, apalagi yang akan kau berikan padaku, tuhan? Kenapa rasanya hidup ini sulit sekali? Batin arumi ingin sekali berteriak menyuarakan semua sakit, kecewa dan luka yang bercampur sehingga memporak-porandakan hatinya saat ini.

__ADS_1


Entah siapa yang harus aku percaya saat ini. Aku tidak punya lagi sandaran. Lanjut arumi membantin sedih dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Saat ini hanya anaknya yang dia punya. Saat ini hanya calon bayi yang masih diperutnya yang menjadi kekuatan untuk arumi. jika saja arumi tidak mengandung, mungkin dia akan gila dengan membunuh dirinya sendiri. Tapi tuhan masih baik padanya. Tuhan titipkan nyawa di rahimnya agar Wanita itu tidak melakukan dosa besar.


Bahu arumi bergetar hebat. Baru dia akan percaya dengan manusia lain, tapi kembali dipatahkan dengan sebuah kebohongan.


Seseorang yang sedang tidur tepat disebelah arumi mengeliat. Dia membuka mata karena merasa sedikit kebisingan dalam sunyi malam ini. Veni, Wanita itu merubah posisinya menjadi duduk. Dia membuka mata lebar menatap arumi yang kini masih menyembunyikan wajahnya. Veni tahu, arumi sedang menangis. Tapi Wanita itu tidak mau mengganggu dan memilih untuk membiarkan arumi sampai Wanita itu puas dengan tangis hingga bisa melepas sedikit gundahnya.


Beberapa menit, arumi mengangkat kepalanya. mata Wanita itu pertama kali bertubrukan dengan pandangan veni. “ka-kakak terbangun?” ucap arumi gugup menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Veni mengangguk. Tanpa suara Wanita itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan arumi. “ada apa?” tanya veni lembut. Mereka bertiga dalam sel ini sudah menganggap arumi sebagai adik karena memang arumi yang paling kecil disana. Sikap arumi yang kadang tegas namun juga bisa lembut membuat mereka nyaman dengan arumi.


Arumi menggeleng, namun matanya malah semakin berair dan membasahi pipinya. Veni yang melihat itu sontak langsung memeluk tubuh arumi dari samping. Badan arumi semakin bergetar karena menangis.


Tangis tanpa suara itu terdengar lebih pilu di telinga veni dan terasa lebih sesak di dada arumi. sungguh, tidak ada yang lebih sakit dari semua ini. Arumi merasa sangat bodoh dan dipermainkan. arumi merasa manusia yang paling tidak berguna saat ini.


“Mengapa harus aku, kak? Mengapa harus aku yang menanggung beban seberat ini? Apa tuhan tidak tahu jika aku tidak sekuat itu untuk menanggung semuanya, hiks,” ucap arumi dengan tangisnya yang tertahan.


“justru karena kamu kuat, arumi. tuhan memilihmu karena kamu kuat,” jawab veni lembut.


“kamu tidak sendiri, arumi. kami yang ada di sel ini adalah keluargamu. Kami memang tahanan, tapi kami manusia yang masih memiliki hati, arumi. kami masih bisa memilih antara yang jahat dan yang baik. Dan satu hal yang harus kamu ingat, orang-orang yang hidup di dalam penjara tidak semuanya karena sebuah kejahatan,” ucap veni mencoba memberi sedikit ketenangan pada arumi dengan kata-katanya.


Arumi mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dari veni dan menatap Wanita itu. “terimakasih karena sudah menjadi orang baik, kak,” ucap arumi tulus.


“itu karena kamu baik, arumi. boleh aku bertanya?” jawab veni bertanya.

__ADS_1


Arumi mengangguk sambil menghapus air matanya.


“aku tidak sekali ini melihatmu menangis tengah malam.”


Pernyataan veni sukses membuat arumi menatap gugup pada Wanita itu.


“aku sering melihatmu seperti ini. Tapi malam ini kau terlihat lebih sakit dari sebelumnya. Ada apa?” tanya veni lembut menatap lekat arumi.


Arumi terdiam. Dia membalas tatapan veni dengan mata berkaca-kaca. Lidahnya terasa kelu untuk menceritakan semuanya. Bukannya tak ingin bercerita, tapi arumi bingung luka mana yang harus dia beritahu kepada veni.


Veni yang melihat itu tersenyum. “tidak apa-apa jika kamu tidak ingin cerita. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, arumi. seberat apapun masalahnya hari ini, pasti akan selesai juga. Sepedih apapun lukanya, suatu saat pasti akan kering meski butuh waktu yang lama. Dan sedalam apapun sakitnya, pasti akan dangkal karena waktu yang terus berjalan. Jangan pernah berhenti pada satu kesedihan sehingga kau melupakan sisi kehidupanmu yang lain, arumi,” ucap veni bijak dengan tatapan lembutnya pada arumi.


Arumi tersenyum dalam tangisnya. “aku sedih berada di dalam penjara, tapi aku tidak menyesal mengenal kalian,” ucap arumi menatap veni.


Veni tersenyum. “sudah lebih tenang?” tanya veni yang dibalas anggukkan kepala oleh arumi. “apa aku sudah bisa melanjutkan tidurku?” tanya veni yang membuat arumi terkekeh. Temannya itu terkadang memasang wajah jutek tapi kadang bisa juga membuat arumi tertawa dan tersenyum.


“tidurlah, kak. Aku juga akan tidur sebentar lagi,” jawab arumi tersenyum.


Veni mengangguk. “jika perasaan kita tidak sehat, usahakan badan kita untuk tetap utuh, arumi,” ucap veni dan merebahkan kembali tubuhnya untuk kembali ke alam mimpi.


Arumi menghela nafas. Dia terlalu fokus pada orang yang membuatnya menangis sehingga lupa keberadaan orang yang bisa membuatnya tersenyum. “ternyata kaya hati lebih indah daripada kaya harta, ya.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2