Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 47


__ADS_3

HAPPY READING


“tunggu arumi,” ucap bintang mencegah arumi.


Arumi menghentikan langkahnya. “tidak ada yang bisa kamu perjuangkan. Diri saya hanya milik saya. Cinta saya hanya untuk saya sendiri. Dan kamu? Kamu adalah orang yang saat ini saya lupakan dalam setiap doa saya!” ucap arumi tegas menatap bintang tanpa ragu.


“kamu adalah milikku arumi,” ucap bintang sendu.


“setelah semua yang kamu lakukan kamu masih bisa mengatakan bahwa saya adalah milikmu? Apa kamu tidak tahu diri atau lupa diri? Perlu saya ingatkan apa yang sudah kamu lakukan hingga saya berada disini sekarang?” tanya arumi lagi dengan pandagan tajam menahan emosi menatap bintang.


“tapi kamu juga tidak bisa membuktikan bahwa kamu benar dan tidak bersalahkan? Aku bahkan masih mencintaimu saat kamu adalah pembunuh adikku, arumi,” jawab bintang lembut.


Arumi terkekeh pelan. Wanita itu tak habis pikir denga napa yang baru saja bintang katakana. “kamu ini buta atau pura-pura tidak melihat situasi yang sebenarnya? Dari pihak keluargamu juga tidak ada bukti kuat yang mengatakan bahwa aku adalah pelaku pembunuh Kintani. Kamu hanya percaya atas dasar kertas yang bertuliskan namaku saja. Dan itu adalah bukti dari gadis yang sudah setengah gila. Apa kamu waras saat melakukan penangkapan terhadapku? Harusnya kamu berpikir, disaat tidak adanya bukti nyata bahwa aku adalah pembunuh, kenapa aku bisa tetap di penjara? Bukankah itu karena uang dan kekuasaan keluargamu? Harusnya kamu berpikir tentang hubungan kita dan kasus ini. Aku ditetapkan sebagai tersangka bukan karena membunuh anakmu. Tapi aku jadi tersangka karena mencintaimu!” ucap arumi tegas tanpa ragu dan langsung berbalik meninggalkan bintang yang masih terdiam mencerna apa yang baru saja arumi sampaikan.


Bintang semakin bimbang. Apa yang baru saja arumi sampaikan padanya benar-benar menimbulkan pertanyaan besar dalam benak bintang. Apa yang arumi sampaikan benar-benar menimbulkan keraguan mendalam dalam hatinya. Lamunan bintang buyar saat suara ponsel berdering menandakan telepon masuk.


“ya komandan?” jawab bintang mengangkat panggilan dari Iskandar.


“bisa kamu kembali ke kantor sekarang? Ada tugas penting,” ucap ikandar dari seberang sana.


“tugas apa?” tanya bintang heran. Pasalnya semua kasus yang menjadi tanggung jawabnya sudah selesai dan menunggu keputusan pegadilan untuk tersangka.


“ada kasus baru. Cepat kemari karena tim sudah menunggumu,” ucap Iskandar dan langsung memutus sambungan teleponnya.


Bintang berdecak kesal. Kakinya menendang pintu ruangan melampiaskan emosi yang tertahan. “aku akan mencaritahu setelah ini,” gumam bintang pelan dan langsung keluar dari ruangan tersebut.


…..


Sedangkan di tempat lain, agnes dan tasya kini sudah sampai di depan rumah hutama yang ada di Jakarta. Sedangkan rendi masih menjaga di mobil untuk berjaga-jaga. Takut nanti saat mereka sedang fokus mencari bukti dan pengganggu datang menghancurkan semuanya.


“permisi, pak,” ucap agnes menyapa satpam.


“iya. Ada yang bisa saya bantu?” jawab satpam muda itu lembut.


“begini, pak. Saya dari tim kuasa hukum pak hutama ingin mengambil sesuatu dirumah bapak,” ucap agnes sambil memperlihatkan kartu yang diberikan sasmita padanya.


“tapi bapak dan nyonya sedang tidak ada di dalam, bu,” jawab satpam itu sedikit khawatir.


“kami sudah tahu. Maka dari itu kamu yang diminta oleh pak hutama. Ini kartu identitas kami, pak,” jawab agnes sekali lagi mengingatkan satpam atas kartu yang sudah dia berikan.

__ADS_1


Satpam itu menatap kartu dan setelahnya mengangguk. “kalau begitu silahkan, bu,” ucap satpam memberikan kunci rumah dan membuka pagar membiarkan agnes masuk bersama tasya.


“orang kaya rumahnya emang beda, ya,” gumam tasya melihat rumah mewah milik hutama.


“jelas. duit bisa mewujudkan semuanya,” jawab agnes yang mengundang gelak tawa tasya.


Agnes membuka rumah dengan kunci yang diberikan satpam. Pembantu dirumah hanya datang tiga minggu sekali untuk membersihkan rumah. Selebihnya tugas satpam yang akan berjaga setiap hari.


“kita akan kemana?” tanya tasya setelah mereka berada di dalam rumah.


“kamar utama. Kamar hutama dan istrinya yang ada di lantai dua. Ayo,” ajak agnes yang dianggukki tasaya.


Dengan Langkah yakin dan penuh harap kedua Wanita itu menaiki tangga menuju kamar utama. Sampai di tangga paling atas, mereka melihat ada tiga pintu kamar. “kita cek satu-satu,” ucap agnes.


“iya. Nanti kita mencar,” jawab tasya yang dianggukki agnes.


Tasya pergi ke kamar paling dekat dengan tangga. Sedangkan agnes berjalan menuju kamar yang ada di sebelah kamar yang dimasukki tasya.


Agnes mulai mencari di naka yang ada di kedua sisi sebelah Kasur. Membuka satu persatu dan tidak ada bukti apapun. Setelahnya pandangan agnes tertuju pada lemari pakaian. Agnes dapat melihat bahwa ini adalah kamar utama. Karena disetiap dinding terdapat banyak foto hutama dan tyas. Tanpa pikir panjang agnes langsung membuka lemari. Tangan agnes mulai bergerak melihat diantara lipatan kain. Tetap tidak menemukan apapun, agnes berlalih ke pintu satunya tempat gantungan baju.


Agnes melihat sebuah laci yang terkunci. Agnes melihat sekitar lemari dan kuncinya tergantung di bagian paling ujung gantungan baju. “dapat,” gumam agnes dan tanpa lama langsung membuka laci itu.


“dimana lagi?” tanya agnes bergumam.


“agnes?” panggil tasya yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar.


Agnes menoleh. Tasya melambaikan tangannya meminta agnes untuk mengikutinya. Dengan cepat agnes bergerak berjalan mengikuti tasya.


“lihat ini,” ucap tasya menunjukan sebuah brangkar yang tertutup rapat.


“kamu ketemu dimana?” tanya agnes bingung. Harusnya ini ada di kamar utama, tapi hutama menyimpannya di kamar yang sepertinya jarang ditempati.


“di dalam lemari itu. Tapi aku gak bisa buka,” jawab tasya.


Agnes mendekatkan tubuhnya ke brangkas itu dan melihat-lihat. Dia seperti tidak asing dengan brangkas itu. “aku seperti penah melihat ini. Tapi dimana?’ tanya agnes bingung.


“coba ingat-ingat lagi, agnes,” ucap tasya sedikit senang. Dengan begini bisa jadi mereka dapat membuka kunci brangkas.


Agnes nampak berpikir. Memejamkan mata untuk mengingat kembali dimana dia melihat brangkas ini. “ini seperti brangkas yang pernah aku lihat di ruang kerja harun,” ucap agnes setelah menduga melalui ingatannya yang tak pasti.

__ADS_1


“benarkah? Kalau iya kau pasti tahu kuncinya,” jawab tasya senang.


“akan aku coba,” ucap agnes. Wanita itu mendekat dan menekan angka-angka yang dia rasa menjadi kunci dari brangkas ini.


“salah,” ucap agnes setelah mencoba membuka dengan tanggal lahir ayahnya.


“coba ingat lagi. Brangkas ini hanya bisa salah kunci tiga kali,” ucap tasya yang dapat melihat peringatan pada layer kecil yang ada di brangkas itu.


“apa?” tanya agnes ikut bingung.


Kedua Wanita itu nampak berpikir. “tanggal lahirmu,” jawab tasya yakin.


“kau yakin? Aku tak sepenting itu untuk bapak harun,” jawab agnes ragu.


“coba saja dulu,” ucap tasya lagi.


Agnes mengangguk meski ragu dalam hatinya. Tangan agnes terulur menekan angka tanggal, bulan dan tahun lahirnya.


“masih salah,” ucap agnes lesu.


“ternyata kamu tak penting untuk bapak harun,” ucap tasya sedikit meledek temannya itu.


“ayo berpikir. Jangan meledekku,” jawab agnes kesal.


“tinggal satu kali,” ucap tasya pelan.


Agnes nampak berpikir. Setelah beberapa saat dia terdiam dan memandang tasya. "Aku sepertinya tahu. ayo kita coba. Tapi kalau masih salah, brangkas ini gak bakal bisa dibuka dalam beberapa waktu,” ucap agnes yang dianggukki tasya.


“angka apa?” tanya tasya.


“kematian mama.”


“kalau begitu ayo.”


Tangan agnes bergerak pelan menekan tombol angka disana. Setelah beberapa angka di tekan keluar kata yang membuat mereka memekik tertahan.


SUCCESS


...****************...

__ADS_1


__ADS_2