Keluarga Untuk Anakku

Keluarga Untuk Anakku
BAB 71


__ADS_3

Selamat datang kembali teman-teman. kisah arumi dan bintang balik lagi nih, yeaaayyy!!!!


Selamat membaca dan semoga kalian selalu menikmati walau sudah lama kita tak bersatu hati. HAPPY READING!!


Agnes mengangkat tangannya untuk menekan bel, namun belum sempat bel itu ditekan, sebuah suara mengejutkan keduanya.


Agnes dan Arumi berbalik, tubuh arumi bergetar hebat melihat siapa kini berdiri disana.


"Bi-Bintang."


sedangkan Bintang, lelaki itu terpaku melihat wanita di depannya. sungguh tak disangka mereka akan bertemu di rumah kedua orang tuanya.


satu persatu kaki bintag melangkah mendekati Arumi, "Arumi," gumam bintang lembut dengan pandangan yang lurus menatap arumi.


Arumi menggeleng. dia menoleh menatap Agnes seolah meminta pertolongan untuk membawanya pergi.


"Kita gak bisa kemana-mana lagi," jawab Agnes pelan dengan wajah khawatir.


Arumi memejamkan mata sejenak mendengar jawaban agnes, dia sudah disini dan tak bisa kemana-mana, itu artinya tidak ada jalan lain selain menghadapi semua ini dan mengakhiri tanpa menunggu kata nanti.


Perlahan langkah bintang sampai di depan arumi dan Agnes. Bintang tersenyum, sedangkan arumi menatap datar ke arah lain tanpa menatap wajah Bintang sedikitpun.


"Arumi," panggil Bintang lembut.


arumi hanya diam, perlahan tangannya Bintang terangkat hendak menyentuh pipi Arumi.


"HENTIKAN BINTANG!" teriakan nyaring itu terdengar tepat dibelakang badan Bintang.


Mereka semua terpaku, tubuh arumi terasa kamu mendengar suara orang yang sangat ingin dia hindari. Sungguh kesialan bagi Arumi datang kesini, niat hati ingin berpamitan dengan Sasmita malah jadi boomerang untuk dirinya sendiri.


Hutama dan Harun berdiri disana dengan tatapan marahnya. Agnes yang melihat kedatangan Harun mengumpat kasar. Sial sekali! Batin Agnes menatap malas kepada ayahnya itu. Sungguh, Agnes tidak takut, dia hanya malas dan muak melihat wajah seorang Harun yang merupakan Ayahnya sendiri.


"Jauhkan tanganmu dari wanita itu, Bintang," ucap Hutama berjalan mendekati Bintang.


"Jangan ikut campur urusanku, Kakek," jawab Bintang tegas.

__ADS_1


"Dan kau! Untuk apa kau datang kesini, untuk merayu cucuku lagi? Iya? Jangan harap kau bisa bersama lagi dengan cucuku," ucap Hutama menatap tajam Arumi tanpa mengindahkan perkataan Bintang.


Arumi menunduk, tubuhnya masih sedikit bergetar karena kaget bertemu dengan Hutama dan Harun, dua lelaki yang sangat Arumi takuti. Arumi tidak takut dengan hinaan Hutama maupun Harun, dia hanya takut jika nanti Hutama tahu mengenai kehamilannya.


"Arumi sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga kakek, dia sudah terbukti tidak bersalah dalam hal ini. Tuduhan yang kalian berikan kepada arumi sama sekali gak benar," ucap Agnes berani menatap Hutama.


"Diam Agnes! Tidak ada yang meminta suaramu disini," ucap Harun menjawab. Dia takut nanti Hutama akan terpancing emosi karena omongan pedas Agnes yang tidak pandang siapapun.


Arumi memejamkan matanya. Dengan meneguhkan hatinya, Arumi memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Hutama.


Arumi memberikan senyum lembutnya. "Hai Kakek," ucap Arumi menyapa dengan lembut seolah Hutama tidak pernah marah kepadanya.


"Jangan memakai topeng sok polosmu itu!" jawab Hutama tajam.


Arumi tersenyum dan menggeleng. "Aku tidak sok polos, kakek, aku hanya bungung bagaimana caranya membalas cacianmu yang berapi-api itu. Aku memang orang tak punya, tapi orang tuaku selalu mengajarkan adab dengan orang yang lebih tua. Karena meskipun kaya, kalau tak punya adab tetap saja orang miskin!" ucap Arumi pelan namun dengan intonasi yang sangat jelas sekali dipendengaran mereka semua.


Agnes tersenyum. Dia suka dengan Arumi yang seperti ini, tenang namun sangat pedas.


"Kau sudah sok rupanya, ya. Mentang-mentang kau sudah bebas, bukan berarti kau adalah orang baik, dan satu hal yang pasti, kau tetaplah mantan narapidana, wanita murahan yang dengan mudahnya memberikan tubuhmu kepada lelaki yang bukan suamimu sendiri!" ucap Hutama pedas.


"Lelaki yang kakek bilang itu adalah cucu kakek sendiri," jawab Bintang menatap tajam Hutama.


Hutama terkekeh pelan. "Aku kasian padamu karena termakan rayuan gadis kampung ini. Apa kau yakin dia tidak mengangkang di depan lelaki selain dirimu?" ucap Hutama kasar yang membuat kedua tangan Arumi mengepal.


Sedangkan Bintang, lelaki itu maju mendekati Hutama dan berdiri di depannya dengan pandangan tajam menatap lelaki tua itu. "Aku lebih tahu Arumi daripada Kakek, jadi jangan bicara sembarangan!" ucap Bintang tegas.


Hutama terkekeh pelan. Sungguh, muak sekali dia mendengar pembelaan yang dilakukan Bintang kepada Arumi. "Jangan melawan Kakekmu hanya karena perempuan murahan itu, Bintang!" ucap Hutama membalas tatapan cucunya.


Sedangkan di dalam rumah, Sasmita yang sedang duduk di ruang keluarga mengernyit bingung ketika telinganya mendengar sayup-sayup suara orang berbicara di depan rumahnya. "Kayak kenal suaranya," ucap Sasmita pelan.


Takut karena nanti ada apa-apa di luar rumahnya, Sasmita memanggil Ali yang sedang berada di ruang kerjanya. "Temenin aku keluar, Mas. Kayaknya ada orang di luar," ucap Sasmita setelah memasuki ruang kerja suaminya.


"Siapa, Sayang?" tanya Ali.


Sasmita menggeleng. "Ayo ikut," ucap Sasmita dan langsung menyeret tubuh Ali untuk berdiri dan ikut melihat ke luar rumah.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu terbuka dari dalam, semua yang ada di luar menatap ke pintu dan melihat Sasmita yang berdiri menatap mereka terkejut bersama Ali.


Pandangan Sasmita beralih menatap Arumi yang kini tersenyum menatap wanita itu. Alhamdulillah kamu sudah bebas, nak. Tapi kenapa semua orang ada disini? Batin Sasmita heran melihat semua keluarganya ada disini.


"Ada apa ini?" tanya Ali bingung.


"Begini, Om, tapi Agnes kesini bersama Arumi niatnya ingin bertemu dengan Tante Sasmita, tapi malah ketemu Bintanh, jadi belum sempat masuk," jawab Agnes mewakili.


"Untuk apa kamu bertemu menantu saya?" tanya Hutama menatap Arumi tajam.


Harun yang berdiri disebelah Hutama tersenyum miring, benar dugaannya bahwa Sasmita terlibat dalam kebebasan Arumi.


Sasmita menengang di tempatnya, sedangkan Agnes yang sadar dengan perkatannya kini merutuki dirinya sendiri. Dasar bodoh-bodoh! Batin Agnes msngumpati mulutnya yang tak bisa kerjasama.


Arumi yang tahu dengan keadaannya membalas tatapan Hutama. "Aku hanya ingin berterimakasih kepada Tante Sasmita, Kakek. Karena diantara keluarga Nagara yang terhormat, hanya Tante Sasmita yang memiliki hati Nurani. Aku berterimakasih karena Tante Sasmita pernah memberikan aku obat saat sakit di sel tahanan," ucap Arumi menjawab dengan tenang.


"Jangan marahi tante Sasmita, Kakek. Setidaknya, karena Tante Sasmita, keluarga Nagara tidak dipandang buruk oleh orang lain. Dan setidaknya, Tante Sasmita bisa menutupi kelicikan keluarga Nagara," jawab Arumi berani menatap Hutama dan Bintang bergantian.


Setelah mengatakan itu Arumi terdiam. Dia terkejut dengan omongannya sendiri. Ya Allah, Nak, apa itu kamu barusan? ucap Arumi membatin. Rasanya Arumi tidak akan seberani itu menjawab perkataan Hutama.


Jika itu benar, semoga nanti anaknya menjadi orang yang berani dan kuat.


Kamu selalu membantu Bunda mu, nak. Batin Agnes yang ikut senang melihat Arumi yang bisa mengatasi perkataan dan pertanyaan Hutama dengan baik.


"Beraninya kau menjelekkan nama keluargaku?" tanya Hutama marah dengan tangan terkepal.


"Kenapa? Apa Kakek marah? Kakek merasa tersinggung? Aku bisa saja memenjarakan Kakek sekeluarga sekarang juga!"


...----------------...


Duuuuh, author deg-degan, semoga jantung kalian aman, ya, hehe ✌


Peluk jauh dari Nona Marwa dan enjoy your reading 🤗🥰**

__ADS_1


__ADS_2