
HAPPY READING
“ini adalah keluarga kita, nak. Mereka semua saudara bunda. Maaf jika bunda hanya bisa memberikanmu keluarga seperti ini,” ucap arumi sendu.
“kau mengandung?!”
Arumi berjengkit kaget mendengar sebuah suara yang tiba-tiba menjawab ucapan pelannya pada sang anak yang masih di dalam perut. Arumi mencoba menormalkan ekspresinya menatap veni yang sudah terbangun. Arumi menggeleng. “tidak. Emang apa yang kamu dengar?” tanya arumi pura-pura tidak tahu. Arumi berusaha memanfaatkan kewarasan veni yang masih belum sadar sepenuhnya.
“ah, mungkin aku salah dengar,” jawab veni sambil menguap.
“kau tidak tidur?” tanya veni dengan mengucek matanya.
“aku tidak bisa tidur,” jawab arumi jujur.
“kau harus terbiasa tidur disini mulai sekarang. Lupakan rasa Kasur empukmu itu. Kau harus bersahabat dengan dinginnya lantai,” ucap veni menatap arumi.
“aku sudah terbiasa kok,” jawab arumi dengan senyumnya.
Veni hanya mengangguk. Setelahnya Wanita itu kembali melanjutkan tidur untuk melanjutkan mimpi yang tertunda.
Arumi menghela nafas lega melihat itu. Dia bersyukur masih bisa berkilah saat ini. Tapi bagaimana jika nanti perutnya sudah mulai besar? Entah berita apa yang akan tersebar, yang jelas arumi hanya bisa pasrah. Satu hal yang harus dia pastikan jika anaknya harus baik-baik saja. Dan arumi sangat berharap jika kebebasan masih bisa menghampirinya menjelang perutnya membesar.
…..
“saudari arumi, ada yang mengunjungumu,” ucap polisi penjaga sambil membuka kunci sel tahanan.
“baru sehari sudah ada yang melihatmu,” ucap salah satu tahanan yang kini duduk di pojok kanan belakang sel.
Arumi hanya tersenyum. Dia mengikuti Langkah polisi penjaga untuk segera ke ruang kunjungan.
Sampai di ruang kunjungan, arumi tersenyum lebar melihat Wanita yang datang mengunjunginya. “agnes,” panggil arumi riang.
__ADS_1
Agnes yang tadinya menunduk kini mengangkat kepala. Dia membalas senyum arumi. “aku merindukanmu,” ucap agnes berdiri dan memeluk arumi.
“padahal baru beberapa hari yang lalu kita bertemu,” jawab arumi membalas pelukan agnes.
“sekarang untuk kunjungan harus sesuai jadwa, arumi. aku tidak bisa seenaknya mengunjungimu lagi,” ucap agnes duduk di kursi, begitu juga arumi yang duduk di kursi berhadapan dengan agnes.
“tidak apa-apa, agnes. Kamu datang saja aku sudah senang,” jawab arumi lembut.
“bagaimana kabarmu? Apa kamu betah disini?” tanya agnes dengan wajah khawatir.
“aku bukan orang kaya dulunya. Jadi tinggal disini dengan segela keterbatasan bukan hal yang sulit, agnes,” jawab arumi jujur.
“apa teman satu sel mu baik?”
Arumi mengangguk. “mereka baik. Awalnya memang mereka ketus dan sedikit kasar, tapi sekarang aku sudah terbiasa. Mereka begitu untuk melatih mentalku sebagai tahanan,” jawab arumi sambil terkekeh pelan.
Kamu masih bisa tertawan dan tersenyum, arumi. padahal bukan ujian kecil yang kamu lalui. Batin agnes kagum melihat keiklhasan arumi dalam menjalani semuanya.
“iya,” jawab arumi lembut.
“boleh aku minta izin padamu?” tanya agnes sedikit ragu.
Arumi mengangguk yakin. “bertanyalah, agnes. Tidak ada larangan untuk berbicara disini,” jawab arumi tersenyum.
“izinkan aku memberitahu mengenai kehamilanmu pada nyonya sasmita, arumi,” ucap agnes menatap arumi penuh harap.
Arumi spontan menggeleng dan melepaskan genggaman tangan agnes pada tangannya. “jangan, agnes,” ucap arumi lirih.
“percayalah, arumi. Nyonya sasmita adalah orang baik. Dia bukan orang sembarangan yang akan menuduh orang lain bersalah. Aku percaya, jika dia tahu mengenai ini, maka dia bisa membantumu, arumi,” ucap agnes mencoba meyakinkan arumi.
“tapi dia ibunya bintang,” jawab arumi sendu.
__ADS_1
“justru karena itu. Dia harus tahu bagaimana kelakukan anaknya. Jika nyonya sasmita tahu, maka kita bisa meminta bantuannya untuk mencari bukti bahwa kamu tidak bersalah, arumi. kamu pasti ingat saat dia memelukmu waktu sidang, bukan? Itu tandanya dia percaya padamu, arumi. hanya saja keluarganya tidak membiarkan dia untuk berpendapat,” ucap agnes lagi mencoba menjelaskan pada arumi.
“tapi-”
“aku mohon, arumi. aku tidak mau jika nanti keponakanku harus lahir di tempat ini,” ucap agnes sendu.
“tapi boleh kamu janji satu hal?” tanya arumi yang dijawab anggukkan kepala oleh agnes.
“hanya nyonya sasmita,” ucap arumi yang membuat agnes tersenyum.
“kita perjuangkan kebebasanmu, arumi,” ucap agnes semangat.
“terimakasih banyak, agnes,” jawab arumi tulus.
Agnes mengangguk. Setelahnya mereka sedikit berbincang hingga waktu kunjungan berakhir yang membuat mereka harus segera berpisah.
.....
Arumi kembali ke dalam sel. Setengah jam berada di sel, polisi penjaga kembali memanggilnya dan mengatakan ada yang ingin bertemu dengan arumi.
Apa agnes kembali lagi? batin arumi bertanya.
“siapa, bu polisi?” tanya arumi heran saat mereka berjalan menuju ruang kunjungan.
“kau lihat saja nanti. Aku juga kurang tahu,” jawab polisi penjaga itu.
Sampai di ruang kunjungan, arumi melihat seorang Wanita yang sudah duduk disana. Wanita itu juga tengah menapnya sambil tersenyum. “arumi.”
“Nenek Tyas.”
...****************...
__ADS_1