
Perasaanku terasa campur aduk, yang awalnya senang tiba-tiba dirusak sama Tita. Aku duduk terdiam di bangkuku, bahkan Yuli enggan menyapaku karena kejadian tadi, dia tidak ingin mengganggu ku dan membiarkan ku memikirkan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Aku masih sangat bingung, kenapa alur ceritaku berbeda dari yang udah kujalani dulu. Kali ini semakin rumit, tidak seperti yang kubayangkan, aku pergi kemasa lalu untuk merubah keadaanku. Entahlah, kuharap kejadian yang berbeda ini membuatku menjadi lebih baik kedepannya. Guru pelajaran selanjutnya sudah memasuki kelas, aku mengikuti kelas seperti biasanya walau ada rasa yang begitu menjanggal dan jengkel ketika melihat Tita.
#
Jam sekolah telah usai, aku segera pulang ke asrama dan menyempatkan pergi kepasar untuk membeli stock barang untuk warung kejujuranku dan bahan-bahan pisang krispiku karena aku kebanjiran orderan. Setelah belanja, aku segera pulang dan beristirahat. Aku mencoba menelfon orangtuaku, aku begitu rindu dengan orang tua ku ketika aku masih remaja. Masih kuat, semangat dan pantang menyerah untuk aku anaknya.
Terhubung Ayah.
"halo ayahh, apa kabar?" tanyaku
"halo anakku, Ayah sehat nak, ibu juga sehat." Jawab ayahku
"ibu dimana yah?" tanyaku
"ibu lagi masak, kamu mau bicara?" tanya Ayah
"nggakusah yah, Rin hanya tanya kabar, salam buat ibu aja. Yaudah ya yah, Rin mau tidur, Rin tutup telfonnya." jawabku
"Iya nanti Ayah sampaikan. Jangan lupa makan ya nak, kalau mau pulang kerumah kabarin ayah, nanti ayah jemput." jawab ayah lagi
"iya yah." aku langsung menutup telfonku dan segera istirahat. Air mata tidak terbendung lagi, jatuh membasahi pipiku.
"Ini mungkin aku begitu kangen orangtuaku." ucapku sambil menghapus air mataku.
__ADS_1
#keesokan harinya
Aku sudah selesai menyiapkan semua jualanku dan orderan dari guru dan teman-teman. Seperti biasanya aku berangkat lebih awal untuk manawarkan jualanku dan mengantarkan orderan. Aku melihat seorang lelaki didepan gerbang asrama sambil melambaikan tangan kepadaku. Aku masih belum bisa melihatnya dengan jelas, aku segera mendekat dan membuatku kaget, seneng, campur aduk rasanya.
"Sir Rino, ngapain disini?". Tanyaku langsung
"good morning Rin." sapanya sambil tersenyum
Aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
"ayok bareng saya Berangkatnya." ajak Sir Rino langsung
"nggak papa Sir, saya biasa jalan kaki." jawabku
"tidak baik menolak, apalagi saya sudah disini," ucapnya
Sir Rino membukakan pintu mobilnya untukku, dan aku segera masuk diminta duduk dibangku depan.
"ini jualan kamu Rin?" tanyanya sambil menghidupkan mobilnya dan melaju lambat
Aku hanya menganggukan kepala.
"wahh banyak juga ya, kamu gak capek mempersiapkan ini sebelum sekolah?". tanya Sir Rino
__ADS_1
"tidak Sir, saya malah senang bisa mendapatkan uang sendiri, bisa buat jajan, dan nggak terlalu minta banyak dengan orangtua." jawabku
Sir Rino hanya tersenyum, seperti mengatakan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak Lama kemudian, kita sampai sekolah lebih cepat dari biasanya. Aku mengucapkan terimakasih dan keluar lebih dulu untuk menawarkan jualanku dan mengantar orderan. Syukurlah hari ini jualanku juga terjual habis. Aku bergegas kembali ke kelas dan sempat bertemu dengan Sir Rino.
"jangan lupa nanti latihan lagi Rin, ditaman sekolah saja ya, kata sensei mita kalian diperbolehkan latihan pada Jam kedua karena itu pas jam pelajaran saya, nanti sampaikan kepada teman-temanmu, semuanya boleh ikut latihan karena ini hari terakhir kalian latihan dan membantu pengibar bendera untuk bernyanyi lagu Indonesia Raya." ucap Sir Rino
"Siap 86 Sir. " jawabku
Dia hanya tertawa mendengar jawabanku. Aku kembali kekelas dan memberitahukan teman-temanku, seperti yang diduga mereka teriak dengan gembira karena tidak ada jam pelajaran. Bel berbunyi tanda pelajaran pertama dimulai, kami mengikuti pelajaran seperti biasanya sebagaimana mestinya. Jam pertama telah usai, kami istirahat terlebih dahulu. Aku dan Yuli pergi kekantin, seperti biasa aku memesan model. Disaat kami sedang makan, Tita menghampiri kami dengan gaya sombongnya.
"hey cewek kampung." ucap Tita sambil duduk dikursi depanku
"kamu nggak ada bosennya ya ngangguin aku, segitu bencinya kamu samaku." tanyaku
"yapss gue ben...ciiii... ba,,,,nget,, sama lu, semua yang gue pengen selalu lu ambil. Gue sudah yakin kalau lu itu menggunakan segala cara, bahkan ilmu hitam. Nggak mungkin kan cewek miskin kayak lu ini bisa nandingin gue." ucapnya ketus
"maksudnya apasih? emang kamu pernah bilang ke aku kalo kamu suka sama Iyan dulu, enggak kan? kamu adanya cuman marah-marah dan ngehina aku tanpa alasan yang jelas." ucapku
"nggak cuman Iyan yang lu ambil, semua yang ada didepan mata gue lu ambil." ucap nada Tita dengan nada teriak
"kamu kenapa sih Tit, kalau ngomong yang jelas. Biar semua itu clear, kamu ga perlu teriak-teriak begini." sahut Yuli
"udah lah yul, kita pergi aja. nggak akan selesai urusan kalo ngeladeni dia." ucapku kesal
__ADS_1
Aku dan Yuli berdiri dan segera pergi meninggalkan Tita. Tiba-tiba Tita menjambak rambutku dengan keras, aku meringis kesakitan. Emosiku sudah tersulut, aku begitu kesal karena dia berani menjambak rambutku. Dengan penuh emosi, aku membalikkan badan ku dan meremas dadanya hingga kuat dan mendorongnya, seketika dia mundur dan melepaskan tarikannya. Kupikir dia akan menyerah, ternyata dia lari kearahku dan menendang kakiku. Dengan sigap aku membalas tedangannya kearah daerah V nya, dan meremas dadanya lagi dengan kuat dan mendorongnya hingga jatuh. Karena keributan ini gurus datang memisahkan kita, dan kami dibawa keruang BK.
-BERSAMBUNG-