
"dasar anak kurang ajar. " teriak pak Kepsek sambil mendobrak meja yang sudah berubah peran menjadi ayahnya
"hah? anak kurang ajar? seharusnya Ayah berkaca pada diri sendiri, kenapa aku bisa begini. Ini semua karena aku punya Ayah yang tidak punya etika didalam keluarga tapi sok beretika didepan umum." jawab kak Rega
Ayah kak Rega langsung berdiri menghampiri kak Rega dan menamparnya dengan keras. Kak Rega masih bermuka datar tanpa terlihat kesakitan sedikitpun, seperti sudah terbiasa mendapat tamparan seperti ini. Tapi aku tetap bisa melihat kalau kak Rega merasa terpukul dan sakit hati dengan kelakuan ayahnya. Aku jadi merasa kasian padanya, pantas saja dia berbuat sesukanya seperti mencari perhatian semua orang. Ternyata dia tidak pernah merasa dicintai oleh keluarganya.
"apa Ayah sudah puas?" tanya kak Rega ketus
"keluar dari ruangan ini sekarang." teriak pak Kepsek
Kak Rega hanya menganggukan kepala dengan berwajah datar dan langsung keluar dari ruangan.
"kamu, tolong juga keluar." ucap pak kepsek kepadaku sambil memegang kepalanya seperti frustasi dan menyesal akan perbuatannya
__ADS_1
"baik pak, saya undur diri." ucapku dan langsung keluar mencari kak Rega
Pasti kak Rega sedang sangat butuh teman untuk memahaminya, karena dia sudah Lama tidak mendapat kasih sayang. Aku merasa iba padanya, jiwa kedewasaanku muncul, karena emang sebenarnya aku sudah dewasa hanya terjebak di fisik mudaku.
Aku akhirnya menemukannya, dia berjalan kearah taman atap gedung. Aku mengikutinya dan masih memandangnya dari jauh. Kak Rega duduk terdiam melihat Air mancur buatan ditaman kami. Aku tidak pernah melihatnya sefrustasi dan selemah ini. Biasanya dia orang yang penuh keberanian dan kesombongan dengan orang lain, tapi ternyata dia punya sisi gelap.
Aku mendekatinya dan duduk disampingnya, hanya diam tanpa memberikan pertanyaan ataupun sepatah kata.
"kenapa kamu disini? kamu senang kan melihat aku sefrustasi ini. Kalau kamu ingin menghinaku, tunggu aku menenangkan diriku terlebih dahulu, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, aku takut menyakitimu orang yang kucintai dan aku tidak ingin lebih tak kekontrol daripada tadi." ucapnya
"terimakasih. " ucapnya lesu dan langsung menyandarkan kepalanya dipundakku, aku hanya diam menyediakan pundakku padanya.
Kami hanya diam tanpa kata, pundakku terasa basah ketika aku melihat kak Rega, dia meneteskan air matanya hingga membasahi pundakku. Aku makin kasihan padanya, aku sangat tahu bagaimana rasanya di perilakukan dengan kasar walaupun aku mendapatkan kekasaran dari bosku, mungkin kesakitanku tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan kak Rega, karena ini sudah masalah keluarganya.
__ADS_1
Tak tau berapa lama dia menyender dipundakku, kini aku merasa kalau kak Rega bertambah berat, ternyata dia tertidur. Lonceng telah berbunyi tanda istirahat, aku tidak bisa seperti ini terus, aku menganhkat kepalanya pelan, kupindahkan dikursi tanpa alas bantal hanya alas kayu kursi dan aku pergi berdiri untuk meninggalkannya.
"terimakasih sudah menemaniku dan mengerti situasiku." ucap kak Rega ketika aku hendak pergi
Aku menoleh lagi kepadanya
"tak perlu berterima kasih, aku senang menemanimu, sekarang tenangkanlah dirimu disini, aku mau kekelas." jawabku
"bolehkah aku menghubungimu lagi?" ucapnya
"tentu, asalkan kamu tidak mengancamku, kurasa itu cukup, kita bisa berteman dengan baik." ucapku dan langsung pergi
Kak Rega hanya memandangiku pergi meninggalkannya.
__ADS_1
-BERSAMBUNG-