
Saat pelajaran sedang berlangsung, Aku hanya terdiam tidak terlalu fokus dengan pelajaran. Yuli selalu memandangiku dan mananyakan apakah aku baik-baik saja. Mataku masih terlihat bengkak, merah, walaupun sudah tidak menangis lagi.
Bel berbunyi tanda sekolah hari ini telah berakhir. Tak lama kemudian ponselku juga berbunyi, aku mendapat SMS dari mas Rino.
from: mas Rino
"aku tunggu diparkiran ya sayang."
Aku hanya membacanya dan tidak membalas. Aku mengemasi buku-bukuku dan bersiap untuk pulang. Saat ingin berdiri, ada yang menekan pundakku begitu kuat hingga aku tak bisa berdiri. Kalian bisa menebaknya siapa kan, iyaa Tita. Tita memandangku sinis, dengan meremas pundakku begitu kuat. Aku hanya diam menahan sakit, aku lagi nggak ingin berurusan atau meladeninya, pikiranku lagi kacau dan malas menanggapi siapapun, aku takut jika emosiku terluapkan.
Tita masih meremas pundakku kuat dan kita saling menatap. Seperti kita berbicara dari mata batin. Mataku mencoba menatap marah, tetapi tertutup sayupnya dan bengkak. Terlihat beberapa teman-teman memandangi kita, termasuk Iyan. Iyan melangkah menuju kearah kita, tetapi tiba-tiba ada seseorang masuk dan menepis tangan Tita dengan kuat, hingga membuat Tita berteriak kesakitan.
"awww sakiiittt. gila lu yaa." teriak Tita marah dengan memegang tangannya sebelum melihat orang yang menampisnya
"ohhh sakitt, pengen gue bikin sakit lagi." jawab seseorang itu dengan lantang
Seseorang itu adalah kak Rega, aku merasa dia bagaikan pahlawanku kali ini, datang disaat aku membutuhkan. Wajah kak Rega terlihat sangat marah melihat Tita. Sedangkan Tita terlihat ketakutan, diam mematung dan menunduk.
"siapapun yang berani gangguin pacar gue Rin, kalian akan berhadapan dengan gue." teriak marah kak Rega lugas dan langsung menarik tanganku keluar
Aku hanya mengikutinya dan masih kaget dengan penuturannya. Bagaimana bisa kak Rega menyebutku pacarnya.
"wahhh.. bisa jadi malapetaka ini, atau malah heboh. kalau sampai mas Rino dengar gimana. aku harus gimana?". Pikiranku tambah kacau, masalah akan datang sebentar lagi dihadapanku, dan aku belum tau bagaimana cara menanggapinya.
Setelah merasa cukup jauh dari kelasku, aku berhenti dan menarik tanganku agar lepas dari genggamannya.
__ADS_1
"kenapa berhenti? " ucap kak Rega membalik badan melihatku
"kamu gila ya kak?" ucapku begitu saja
"apa maksudmu gila?" tanya kak Rega
"kenapa kakak bisa bilang kesemua temanku, kalau aku ini pacarmu. Itu jelasjelas kamu sudah gila dan nggak wajar. kakak nggak boleh seenaknya begitu dong." jawabku tegas
"seenaknya gimana. aku nggak tahan liat kamu lemah begitu didepan orang lain. Mana Rin yang pemberontak dan pemberani." jawab kak Rega
"aku cuman males meladeninya kak." jawabku dengan nada tinggi
"sudahlah jangan dibahas, ayok kuantar pulang." ucap kak Rega ingin menarik tanganku tapi aku begitu cepat menangkisnya
"kamu ini Rin, sudah dibantu malah marah-marah." Jawab kak Rega mulai emosi
"gimana nggak marah. kalau sampai pacarku tau, kakak mengaku jadi pacarku dan dia percaya, itu namanya kak Rega perusak hubungan orang."
"siapa pacarmu?" tanya kak Rega agak lantang
Aku hanya diam tidak menjawab, aku nggk bisa bilang kalau pacarku ternyata guruku.
"kenapa nggak jawab? ouhhh jangan-jangan kamu sudah jadian dengan guru sok ganteng itu." jawab kak Rega lagi
"maksud kakak apa? " jawabku pura pura tidak tau
__ADS_1
"jangan sok pura-pura nggak tau. aku juga tau kalian waktu itu pelukan ditaman atas." jawab kak Rega pelan lugas sambil menatap mataku seperti penuh ancaman
Aku tidak bisa menjawab apapun, hanya diam tak berkutik didepan nya, ada rasa takut terselimuti lagi.
"kamu tau kan, siapa ayahku disekolah ini. Kalau sampai Ayahku tau, apa yang kalian disekolah ini, bisa jadi guru tersayangmu itu bakal dipecat. dan mungkin kamu juga akan dikeluarkan." jawab kak Rega dengan penuh ancaman
"apa maksud mu? kamu mengancamku? " ucapku
"aku tidak mengancam, hanya mengingatkan kalau kamu tidak ingin hal itu terjadi, menurutlah padaku, ikut denganku, dan kamu hanya perlu pura-pura didepan teman-temanmu kalau kamu itu pacarku. Bereskan?" jawab kak Rega
"dasar monster. " gumamku dalam hati
Aku sungguh tidak tau harus berbuat apa. Bisa saja itu terjadi, aku nggak ingin mas Rino dipecat karena ku. Perjalanannya masih panjang, apalagi dia anak Bupati, jangan sampai namanya tercoreng gegara aku. Kurasa aku hanya cukup menuruti kak Rega dan mas Rino bisa bebas tanpa ada beban.
Setelah itu kak Rega memegang tanganku lagi dan menariknya menuju parkiran dimana mobilnya berada. Aku melihat dari kejauhan mas Rino sedang menungguku, dan dia juga melihatku dengan rasa kawatir, cemburu karena aku bersama laki-laki lain.
"Rin... kok kamu sama Rega?" tanya mas Rino ketika kami sudah dekat
"aku akan mengantarkan Rin pulang sir." cletuk kak Rega dan menuntunku untuk masuk kedalam mobilnya yang sudah dibuka pintunya oleh kak Rega.
Aku hanya menunduk tidak berani menatap mas Rino. Ponselku mulai berdering, telfon dari mas Rino.
-BERSAMBUNG-
jangan lupa like dan comment ya guys☺ maaf baru bisa Up lagi 🙏
__ADS_1