
Aku masih memikirkan kak Rega, yang seperti tidak apa-apa tetapi banyak apa-apa. Aku berjalan sambil melamun dan tidak melihat sekitarku.
Bugg
Aku menabrak seseorang, hingga berteriak karena kaget. Kini aku tidak bisa melihat apapun mataku terasa tertutup gelap, kenapa ini, pikirku linglung. Kemudian aku mendengakkan kepalaku dan ternyata aku menabrak mas Rino, kini wajahku berada di Dada bidangnya, pantas saja terasa gelap.
"kamu dari mana sajaa?" ucap mas Rino gemas sambil mengelus kepalaku
"hehhe pergi keatas, menenangkan diri." ucapku sambil mundur karena malu
"kenapa mundur gitu, disini tidak ada orang. nggak mau dekat samaku yaa." ucap mas Rino yang sok pura-pura sedih
"ihhh baperan deh." ucapku mengejek
"sinii makanya peluk aku sayang. pelukkk... peluk.. pelukk.." ucap Mas Rino manja padaku
"ini kenapa sayangku jadi manja yaa?" ucapku
"kangenn loo sayangg." jawab mas Rino
__ADS_1
"nanti ada yang liat, udah ah aku mau makan, entar istirahatnya keburu abiss." ucapku sambil meninggalkan mas Rino
Mas Rino mengejarku dengan sok ala ala manja merengek. Aku tertawa melihat tingkahnya yang kekanakan padaku, padahal dia sudah dewasa. Disatu sisi ternyata kak Rega melihat kita dari tadi, dengan perasaan cemburu, tapi dia tak bisa apa-apa.
Mas Rino tidak mengikutiku hingga kantin, takut terlihat mencolok dimata yang lain. Jadi aku kekantin sendirian. ketika aku berada dikantin, seluruh sorot mata menjadi tertuju padaku, mereka mulai membicarakanku tentang hal tadi. Kebanyakan mereka kasihan padaku, tetapi tak banyak juga yang menggunjingku. Aku tidak menggubrisnya seperti tidak mendengar apapun. Aku memilih bangku yang kosong setelah memesan makanan, tak lama dari itu Iyan datang menghampiriku.
"boleh aku duduk disini?" tanya Iyan
"tentu saja, itu kosong." jawabku
Kemudian pak kantin mengantarkan pesananku dan aku segera memakannya, serta tak lupa menawari Iyan yang didepanku.
"kamu tidak apa-apa kan? aku kawatir sama kamu." ucap Iyan
"aku baik-baik saja. terimakasih sudah mengkhawatirkanku." jawabku sambil menghentikan makanku sebentar
Iyan hanya diam sambil menatapku.
"kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya ku
__ADS_1
"tidak apa apa, aku hanya bernostalgia tentang kebersamaan kita dulu." jawabnya
"bernostalgia apanya, kita aja nggak ada kenangan." gumamku
"apa kamu ingat, kita dulu sering makan bersama dikantin, jalan bareng ditaman, tertawa bercanda." ucapnya sambil tersenyum-senyum
"iyakah kita punya kenangan seperti itu? " tanyaku
"apa kamu lupa? apa kamu begitu membenciku, hingga melupakan kenangan kita semua." ucap Iyan sedih
"kenapa aku bisa lupa yaa, apa karena perubahanku, kejadian yang awalnya tidak ada jadi ada." pikirku dalam hati
"tidak apa apa Rin, aku tidak bisa memaksamu untuk mengingatmu, toh itu hanya masalalu, aku saja yang terlalu bodoh." ucapnya
"heyy kenapa kamu bicara seperti itu. " jawabku
"yaudah, aku duluan ke kelas ya Rin." ucap Iyan sedih dan pergi
Aku masih memikirkan perkataan Iyan, dan mengingat-ingat, apakah hubungan kita dulu sedekat itu. Seingatku kita hanya berpacaran satu bulan, dan itupun tidak pernah keluar bareng, bagaimana mungkin. Aku semakin bingung, alurnya makin hari makin beda, aku tak tahu harus gimana, aku tak tahu ini baik atau tidak. Tapi aku sudah terjebak disini, dan harus menjalaninya secara natural.
__ADS_1
-BERSAMBUNG@