
Aku menunduk malu karena ucapanku. Rasanya ingin turun ditengah jalan.
"kamu tadi bilang apa? aku nggak salah dengar kan? " tanya Sir Rino serius
"hehe bukan apa -apa kok Sir." jawabku
"okee siapp, aku akan S2 seperti yang kamu sarankan. Tapi kamu harus janji untuk membantuku dan membuatku semangat. Bila perlu setelah lulus kamu juga menyusulku. " jawab Sir Rino
Aku hanya tersenyum malu dan menundukkan kepalaku.
"jawab dong rin." pintanya
"Iya mas siap, nanti kubantu." jawabku
"nahh gitu dong. " sambil mengelus rambutku
"OMG, hatikuu toloong tolongg berdegub degub kencang ini." ucapku dalam hati
"menurutmu lebih bagus ambil beasiswa dimana?" tanya sir Rino
"Harvard University, Standford university, or Melbourne university, tergantung mas mau ambil jurusan apa". jawabku
__ADS_1
"ternyata kamu lebih tau banyak dariku." ucapnya kagum
Aku tersipu malu akan pujiannya. Setelah lama kita mengobrol, aku tertidur pulas, karena perjalanan masih ditempuh 1 Jam, kurang 1 setengah Jam lagi. Sir Rino hanya menyetir dengan tenang dan memutar musik jaman old yang sangat enak didengar.
1 setengah jam telah berlalu, Sir Rino membangunkanku karena kita sudah sampai di jalan kenanga, desa anggrek. Dia menanyakan dimana rumah kedua orangtuaku. Aku lalu mulai menuntun arahnya dan tiba didepan rumah, Aku sempat melihat wajah Sir Rino tampak kaget melihat rumah kedua orang tuaku, mungkin karena belum sebagus rumah mereka. Ibu langsung keluar karena mendengar suara mobil masuk pelataran, mungkin dikira siapa. Aku seperti ingin menangis melihat ibuku yang masih muda dan terlihat kuat, berbeda dengan dimasa depan. Aku turun dan langsung memeluk ibuku, diikuti oleh Sir Rino.
"masih ingat denganku bi." sapa Sir Rino sambil mencium tangan
Aku hanya mengerutkan dahi, sedangkan Ibu berpikir keras.
"Rino?maafkan bibi nak, kamu sudah begitu dewasa gagah tinggi, sampe tidak mengelimu." jawab Ibuku
Aku semakin bingung tidak percaya, kenapa ibuku bisa kenal dengan Sir Rino
"alhamdulillah baik. Tapi kok ini bisa bareng Rin gimana?" tanya Ibu
"ehh masukk.. masukk dulu, sampe lupa disuruh masuk." ucap Ibu
Aku masih saja bingung, sedangkan Sir Rino tersenyum gembira seperti sudah lama tidak bertemu ibuku. Lalu kami masuk dan duduk diruang tamu, melanjutkan perbincangan. Ketika aku ingin bertanya.
"buatkan teh buat Rino rin." ucap Ibu
__ADS_1
Aku meninggalkan mereka yang seperti sedang temu kangen, padahal aku juga ingin temu kangen. Setelah selesai membuat teh aku kembali keruang tamu, terlihat mereka sedang mengobrol seperti sudah kenal Lama, "siapa sih ini Sir Rino?" gumamku sambil meletakkan teh diatas meja dan langsung ikut duduk disamping Ibu dan menyendernya.
"owalah jadi kamu muridnya Rino nak." ucap Ibu padaku sambil mengelus rambutku
"iya bu, sepertinya Sir Rino sudah cerita banyak." ucapku
"tapi buu, kok bisa Ibu kenal dengan Sir Rino?" tanyaku penasaran
"Rino ini anaknya majikan Ibu dulu nak, Ibu yang mengasuhnya hingga mau masuk SMA, masak kamu lupa." jawab ibu
Aku mulai memikir keras, kenapa tidak ada ingatan tentang Sir Rino.
"jadi ini toh anak mungil lucu yang sering dibawa bibi kerumah dulu." ucap Sir Rino
"hah? sering? kok aku lupa sih, pikir keras, pikir Rin, pikir." ucapku sendiri dalam hati
"sepertinya kamu tidak ingat nak, dulu masih umur 4-5 tahun ibu membawamu dan kamu juga sangat akrab sama Rino, bahkan manja." ucap Ibu
"iyakah bu?" jawabku yang semakin tidak mengerti
"iyaa bi manja banget, minta digendong terus sama Rino. ohiya aku ingat bi pas bibi mau berpamitan kepada keluarga karena tidak bisa lanjut bekerja, Rin bilang padaku 'mas, pokoknya jangan lupain Rin, mas harus janji nikahin Rin kalau sudah besar'. " ucap Sir Rino sambil tertawa kecil
__ADS_1
"ihh iyakah, masak sih aku ada pikiran gitu." gumamku dalam hati
-BERSAMBUNG-