Kembali Muda

Kembali Muda
Ruang BK


__ADS_3

#Kembali ke Rin


Aku dan Tita dibawa keruang BK sama guru ku, Tita masih melihatku dengan sinis. Kami berdua memasuki ruang BK.


"kenapa kalian bertengkar?" ucap guru BK


"dia pak yang dorong saya duluan." jawab Tita sambil memelas


Aku hanya diam, belum menjawab jawaban guru BK


"apa benar begitu Rin?" tanya guruku


"mana dia mau ngaku bu, jelas-jelas dia yang salah." saut Tita lagi


"ibu pasti sudah tau, siapa yang duluan cari masalah." jawabku lugas


Terdengar suara ketukan pintu, ternyata guru BK lainnya membawa beberapa saksi yang ada di kantin tadi. Beberapa saksi langsung menyatakan pendapatnya, kalau emang Tita yang mencari masalah terlebih dahulu. Guru BK memberikan keputusan sanksi yang akan diberikan kami berdua. Tita dihukum untuk membersihkan kamar mandi putri selama seminggu, sedangkan aku hanya 3 hari.


"bu, saya tidak terima, kenapa hukuman saya lebih berat daripada Rin. Badan saya sakit semua bu, karena serangan Rin." protes Tita


"apa hukumannya ingin saya tambah?" ucap guru BK


"tapii buuu.. ini tidak adill, masak saya harus membersihkan kamar mandi yang sangat bau itu. " jawab Tita lagi

__ADS_1


"kalian boleh pergi." ucap guru BK tanpa menggubris ucapan Tita


"terimakasih bu." ucapku


Kami berdua segera meninggalkan ruang BK. Setelah dirasa cukup jauh dari ruang BK, Tita mulai lagi.


"ini semua gara-gara lu, awas aja lu. hidup lu nggak akan tenang." ucap Tita


Aku hanya diam mendengarkan ucapannya, bukan berarti aku tidak berani. Aku hanya malas melayaninya.


"kenapa lu diem, lu takut ya sama guee? hahahah." ejek Tita


"lu nggak ada habisnya ya ngangguin Rin, siapa nama lu?." sahut kak Rega


"sekarang lu pergi dari sini, sampe gue tau lu gangguin Rin lagi, lu akan berurusan lagi sama gue." ucap kak Rega


"hahaha, bener kan kata gue, kalau Rin itu pake pelet, liat aja kak Rega sampe mau ngebelain cewek kampung ini." jawab Tita sok berani


"jaga mulut lu ta." tiba-tiba Iyan datang menyaut


"nahh ini datang satu lagi cowo yang dipelet Rin. hhhaha. Omongan gue terbukti. " Tita menjawab lagi


"udah sih ta, jangan nyari kesalahan Rin lagi, udah jelas yang salah kamu kok. Daripada kamu malu diakhir." cletuk salah satu teman-teman yang melihat kami

__ADS_1


"sekarang lu pergi dari sini, berani berurusan sama Rin, liat aja gue nggak Main-main." bentak kak Rega


"gue juga tambah jijik ngeliat lu ta." tambah Iyan


"sudah..sudah cukupp. ini urusan ku sama Tita, kalian nggak perlu ikut campur." ucapku


"halah nggak usah sok baik deh lu." ucap Tita sambil melangkah pergi


Tita pergi meninggalkan kami dengan perasaan kesal dan wajah yang memerah menahan amarah dan air matanya. Sebenarnya aku kasihan padanya, tapi dia juga nggak pernah melihatku sama sekali. Malah selalu memojokkanku setiap saat. Aku juga bingung, kenapa Iyan dan kak Rega bisa segitunya membelaku. Aku hanya merasa bersyukur ternyata masih banyak yang peduli denganku.


"kamu nggak apa-apa kan?" tanya kak Rega sambil memegang pundakku


"aku nggak papa kok kak, makasih ya." jawabku lesu


Bel berbunyi, tanda istirahat telah usai. Tanda juga untuk kelasku segera gladi resik untuk upacara. Sebelum gladi, aku menemui Sir Rino dulu untuk latihan, aku tidak jadi kembali kekelasku dan langsung menuju taman atap gedung seperti yang sudah dijanjikan tadi. Aku berjalan lesu, serasa pengen nangis sekeras mungkin, pikiranku terasa lelah. Walaupun aku terlihat berani terhadap mereka, tetapi aku merasa lelah. Ditaman atap terlihat Sir Rino sudah menungguku, sebenarnya aku ingin sendiri dan tidak ingin melakukan apapun, tapi aku harus memenuhi tanggungjawabku.


"Sir Rino sudah lama menungguku ya?" tanya ku dengan senyum seperti tidak ada yang terjadi. Sir Rino menatapku pekat, seperti mengerti perasaanku saat ini.


"belum kok. datanglah kemari, duduk disini." jawab Sir Rino


Aku hanya mengikuti permintaan Sir Rino dan duduk disampingnya, tetapi aku menatap kedepan kosong tidak melihat Sir Rino. Aku hanya melamun dengan tatapan kosongku, memikirkan hal-hal yang tak perlu ku pikirkan. Saat itu juga, Sir Rino menggerakkan tangannya memegang kepalaku dituntun supaya bersandar dibahunya. Aku hanya diam karena pikiran ku kalut entah kemana.


"menangislah jika kamu ingin menangis." ucap Sir Rino sambil membelai kepalaku lembut

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2