
Tidak ingin menggunakan waktu sia-sia, sambil menunggu Ayah Ibu pulang aku mencoba berlatih speech didepan Mas Rino lagi. Setelah dirasa cukup baik, aku kedapur untuk memasak, biar ada tambahan sayur kalau Ayah Ibu pulang. Mas Rino inisiatif untuk pergi kepasar untuk membeli ayam dan sayuran, sedangkan aku mempersiapkan bumbu dan membuat lontong. Tak lama kemudian mas Rino udah kembali ke rumah, kami masak bersama. Ketika aku sedang memasak Mas Rino usil mengangguku. Disaat aku lagi sibuk, dia memelukku dari belakang. Jantungku mulai berdegub kencang karena kelakuan Mas Rino.
"wahh kamu pinter masak juga yaa yang. Ini enak banget opornya." puji Mas Rino
Aku menjawab dengan meringis malu. Jelas aku pinter aku masak, pengalamanku sebenarnya udah banyak hehe. Apalagi cuma masak opor, masak rendang pun aku bisa hehe.
Setelah selesai masak, kami menunggu kedua orangtuaku diteras.
"Mas selfie yuk." ajakku
"siapa itu selfie? " tanya mas Rino
"ohiyaya tahun ini kan belum muncul kata selfie, apalagi belum banyak ponsel yang memiliki kamera depan." pikirku dalam hati
"maksudku poto mas. hehe." jawabku
Aku mengeluarkan ponselku yang terbawa dari masa depan. Mas Rino melihat ponselku dengan teliti.
"Merk apa ini yang? aku kok baru liat, bagus lagi." tanyanya
__ADS_1
"mampus aku, lupa kalau ponselku yang ini belum keluar pada jaman ini. " pikirku lagi
"emmm... emm.. ini merk VVV mas. Ini keluaran jaman old mas, mungkin mas Rino lupa. hehe." jawabku sambil mengangkat alis kawatir
"kok manggil aku mas sih, panggil sayang dong." protesnya
"hemm Iya iyaa sayang." jawabku
Belum sempat kita berselfie, Ayah Ibu sudah datang. Jadi kami langsung menyambutnya. Ayah dan Ibu bergegas untuk membersihkan diri, sedangkan aku mempersiapkan meja makan untuk makan bersama.
"wahh wangi banget, kamu masak apa nak?" tanya ibu
"ini masak opor bu. Udah selesai mandinya, ayok makan dulu, sepertinya aku sama Mas Rino pulang habis dzuhur, nanti mau belanja buat kantin bu." jawabku
"InsyaAllah minggu depan Rin pulang lagi bu." ucapku sambil memeluk Ibu
"iyaa nak." mengelus rambutku "yaudah panggil Ayah mu dulu, kita segera makan." tambah Ibu
Aku bergegas memanggil ayah untuk makan bersama, Kami sudah berkumpul dimeja makan dan memulai untuk makan.
__ADS_1
Aku senang Ayah Ibu memuji masakanku, padahal Ibu tau aku belum terlalu bisa masak diumur segini. Setelah siap makan aku mencuci piring, sedangkan mas Rino mengobrol dengan Ayah Ibu. Tak selang lama, aku ikut nimbrung mengobrol. Adzan dzuhur telah berkumandang, kami bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Setelah itu aku menyiapkan pakaian untuk dibawa balik ke asrama lagi. Ayah memberiku uang untuk pegangan ketika di asrama. Sebenarnya aku masih ada uang hasil jualanku, tapi aku tetap menerimanya takut Ayah marah. Aku dan mas Rino ijin untuk pulang dengan memeluk Ayah dan Ibu.
Mas Rino melajukan mobilnya pelan. Aku hanya memandang sekitar dari kaca mobil, merasa nostalgia dengan hal yang kurasakan dulu, dan sekarang aku bisa merasakan yang kedua kalinya.
"nanti mau berhenti dipasar apa ditoko yang? " tanya mas Rino
"ditoko aja, harganya sama aja kok." jawabku
Kami berhenti di toko klontong yang sudah tak jauh dari asrama. Bahan-bahan untuk berjualan aku persiapkan dari sekarang.
#sampai di Asrama
"makasih ya yang." ucapku
Mas Rino tidak menjawab hanya menunjuk pipinya terus menerus.
"pipinya sakit?" tanyaku
"Iya sakit." jawabnya sok marah
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, aku langsung mencium pipinya. Terlihat wajahnya senyum berseri, senang apa yang dia dapat barusan. Kemudian Mas Rino membantuku menurunkan barang-barang dan dia pamit untuk pulang. Aku masih menunggunya didekat gerbang hingga mobilnya sudah tidak terlihat.
-BERSAMBUNG-