
Sir Rino sempat melihatku sebentar dan seperti tersenyum licik sebelum menjawab pertanyaan Ibu.
"kalau dibolehkan Rino pengen nginap bi. Lagian sudah lama tidak berjumpa dan aku belum bertemu dengan paman." ucap Sir Rino
"sumpahh yaa ini guru, greget ihh greget. Bikin aku nggak nyaman aja." pikirku lagi
"wahh syukurlah bibi jadi seneng." ucap Ibuku
"nak, nanti biar nak Rino tidur dikamar mu ya?" tambah Ibuku kepadaku
"terus aku gimana bu?" jawabku kesal
"nanti tidur bareng ibu, lagian kamu kan udah lama nggak pulang." ucap Ibu
"baiklah bu." aku hanya menurut, setelah kupikir emang benar aku udah lama nggak ketemu ibu
__ADS_1
"sekarang siapkan kamarmu, biar nak Rino bisa Istirahat. Ibu mau masak buat makan malam." ucap Ibu
Sir Rino tersenyum puas.
"biarkan aku membantu membereskan kamar ya?" ucap Sir Rino
"tidak usah, aku bisa sendiri." jawabku
"ehh nggak boleh bicara kasar seperti itu." tambah Ibu
"silahkan nak kalau mau bantu, soalnya kamar Rin lama nggk dipake, udah 2 hari ini belum bibi sapu." ucap Ibu ke Sir Rino
"ohh ini kamarmu." ucap Sir Rino
"btw kita hanya berdua loh dikamar." ejek Sir Rino
__ADS_1
Awalnya hanya wajah masam ku yang terlihat, kini aku terdiam kaku tanpa ekspresi dan sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
"ohiyaya kita kan cuma berdua, kalau Sir Rino macam-macam gimana?, tenang aku bisa berteriak. " pikirku dalam hati
"kenapa diam begitu, nggakusah takut." Sir Rino menghampiriku hingga aku terdorong ke tembok, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku terasa berdebar-debar, badanku terasa mati rasa, dan nggak bisa digerakkan. Aku terlaly gugup dengan kejadian ini, kejadian yang belum pernah kualami. Tiba-tiba tangan Sir Rino menyentuh pipiku lembut, berjalan turun menyentuh leher ku, kepundak, terus menurun sambil meraba tanganku secara lembut, lalu menarik sapu yang ada ditanganku.
"kenapa diam aja, ayok beres beres. hahaha." ucap Sir Rino sambil memundurkan badannya
"haisshhh kurang ajar, mau main-main denganku dia, liat aja kubalas kalau ada celah yang pas." gumamku kesal
Wajahku dibuat merah olehnya dan membuatku malu, terus dia ketawa ngakak seperti itu. Aku harus memikirkan sesuatu cara untuk membalasnya biar dia malu juga.
Kita mulai membersihkan kamar, dia menyapu dan aku mengganti seprei yang baru, membersihkan debu. Kamarku terlihat sudah lama tidak dihuni. Setelah selesai aku duduk di kasur dan melihat Sir Rino masih menyelesaikan menyapunya dan meletakkan kopernya didekat meja. Kemudian dia duduk dikursi belajarku yang berada didepan ku, hanya berjarak 100cm. Sir Rino mengajakku mengobrol dan bercanda. Tapi aku memikirkan hal lain, ketika melihat ada bulu kemoceng di rambutnya. Aku berdiri mendekatinya pelan meletakkan tanganku lembut dikepalanya, lalu menurunkan kepalaku hingga berada didepan wajahnya. "Mass.. ada bulu dikepalamu." ucapku pelan, padahal dalam hati tertawa. Hal itu membuatnya diam kaku kaget tersentak, telinganya terlihat merah karena ku. Aku hanya berpikir, akhirnya bisa membuatnya malu didepanku. Akan tetapi aku berasa menyesal, ketika Sir Rino memegang pipiku dengan kedua tangannya, membuatku sulit menggerakkan kepalaku, dan bibirnya menempel di bibirku. Aku kaget bukan main, mataku melotot kaget, diam sejenak. Ketika sadar dia mulai melumat bibirku lembut, aku langsung memberontak walaupun tenagaku kurang mempengaruhi. Dia masih melumat bibirku terus, aku mencoba untuk memundurkan kepalaku, tetapi dia menarikku kembali, lalu seperti mengarahkan kami untuk berdiri dan mendorongku hingga terjatuh di atas kasur. Tubuhnya yang kekar menindihku, dan terus melumat bibirku lembut penuh nafsu. Akupun menjadi merasa ketarik oleh ciumannya dan mulai membalasnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Kemudian Sir Rino melepaskan bibirnya dari bibirku dan menatapku lembut.
"I LOVE YOU Rin." ucapnya dengan penuh kasih sayang
__ADS_1
Aku hanya bisa menatapnya tanpa membalas ucapannya, dan dia menciumku lagi. Ciuman kedua ini aku merasa tidak terpaksa malah meresponnya dengan penuh kasih sayang. Sir rino memelukku dan memelukku. Itu akhir dari ciuman pertama kita. Sebenarnya aku malu banget, hanya berfikir kok bisa, kok bisa. Ya walaupun ini bukan ciuman pertamaku karena aku sudah pernah dimasa depan, tapi sekarang masih SMK berarti badanku ini baru pertama kali disentuh pria seperti ini dan ini ciuman terganasku selama ini.
-BERSAMBUNG-