
"Pagi Miracle, kata dokter kamu sudah tidak mengeluh sakit kepala lagi.Bagaimana keadaan kamu hari ini?" Irma membawa satu dos roti dan buah-buahan buat Miracle.
Miracle menggeser tubuhnya dan kini merubah posisinya menjadi duduk bersandar.
"Sudah ...., tiduran saja dulu. Biar benar-benar fit kondisimu." Irma mengambil satu buah jeruk lalu mengupas kulitnya dan kemudian ia menarik kursi lalu duduk di dekat ranjang Miracle. Irma kemudian menyuapi Miracle buah jeruk.
"Terima kasih kak. Miracle selalu saja merepotkan kakak dan kakek." keluh sedih Miracle.
"Hush bicara apa kamu ini. Sudah jangan berpikiran macam-macam. Pakai pikiranmu untuk berpikir positif saja." Irma masih terus menyuapi buah jeruk pada Miracle.
Seperti teringat sesuatu Miracle celingukan ke kanan dan ke kiri.
Irma yang melihat Miracle seperti mencari sesuatu, ikut mengikuti arah pandang mata Miracle. Sambil berusaha memahami apa yang sedang dicari oleh Miracle.
"Kamu cari apa? Atau siapa? Dokter Edward,?" tanya Irma.
"Cowok yang di ambulance? Yang menolong Mira saat di toko buku? Mana dia?" tanya Miracle.
"Ohh Bima."
Miracle menoleh ke arah Irma dengan mengerutkan keningnya."Bima? Maksud kakak?"
Irma mengambil gelas yang sudah berisi air putih lalu memberikannya pada Miracle.
"Iyaa bima.Kemarin sih dia janji untuk datang menjenguk mu hari ini." Irma meletakkan kembali gelas yang sudah diminum separuh oleh Miracle.
"Masih ingat wajahnya? Ganteng lho. Baik dan bertanggung jawab. Setia lagi. Dia dampingi kamu terus hingga kamu tenang. Orang indo juga sama seperti kita." goda Irma sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ih apaan sih kakak." Miracle menarik selimut yang tadi menutupi tubuhnya, hingga sekarang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya juga.
"Hahaha." Irma tertawa lepas melihat Miracle tersipu malu dan berusaha menyembunyikan dirinya dibalik selimut.
"Ehmm. kira-kira sebelum kamu lupa ingatan kamu sudah punya pacar belum ya?" gumam Irma Tiba-tiba penasaran dengan kehidupan Miracle sebelum lupa ingatan
"Pacar?"Kembali Miracle memegang kepalanya yang mulai merasa nyeri
"Heii. Mira... are you okay?" Irma terlihat panik melihat Miracle kembali merasa kesakitan.
Dengan sigap ia menopang kepala Miracle."Tiduran saja Mir. Jangan terlalu keras berpikir. Okay!. Ambil napas ... hembuskan. " tuntun Irma pada Miracle.
"Selamat pagi... " tiba-tiba terdengar sebuah sapaan dari arah samping mereka.
Irma dan Miracle dengan kompaknya menoleh ke arah sumber suara.
Kini terlihat di hadapan mereka sosok pemuda tampan dengan tubuh tinggi tegap dengan senyum yang menawan sedang membawa satu buket bunga di tangan.
Miracle tampak kebingungan dengan kehadiran tamu yang sepertinya belum ia kenal."Pasti teman kak Irma." batin Miracle.
"Mira.., ini kenalin sang penolong kamu kemarin." Irma menyentuh punggung pemuda tampan itu, lalu mengiringnya mendekati Miracle. sambil tersenyum.
"Kamu---" belum selesai kalimat Miracle terucap.Bima mengulurkan tangannya.
Miracle pun menyambut baik uluran tangan Bima. "Bima" lalu Bima menyerahkan buket bunga mawar putih nan indah itu pada Miracle.
"Miracle." Setelah memperkenalkan diri kembali ia bertanya "Ini untukku?" Miracle menerima buket bunga pemberian Bima dengan senang hati.
__ADS_1
"Yup untuk kamu.Semoga cepat sembuh ya." pesan Bima.
Miracle mencium harum bunga yang kini telah berada dalam pelukannya."Terimakasih banyak Bima.Buat bunganya juga buat pertolonganmu kemarin." ucap Miracle tulus.
"Okay Mira ..., karena sudah ada Bima yang menemani kamu.Kakak pergi dulu sebentar ya. Menyelesaikan tugas kakak secepatnya lalu kembali kesini lagi." pamit Irma.
"Aku titip adik aku sebentar ya Bim.Bisakah?" tanya Irma dengan tatapan penuh harap pada Bima.
Bima yang mengerti arti sorot mata sebuah harapan yang tersirat dari tatapan Irma.Kemudian mengangguk dan tersenyum."Siap kak Jangan khawatir.Hari ini kebetulan aku tidak ada jadwal kuliah." ucap Bima.
"Oh ya Bim, kamu kuliah jurusan apa disini?" tanya Irma.
"Bisnis kak.Program Pascasarjana " jawab Bima singkat.
"Wow Pascasarjana.Dulu S1 nya juga disini?" tanya penasaran Irma.
"Yup. Sempat kembali ke Indo bantu papa menjalankan bisnisnya.Tapi karena adik saya sudah hampir selesai kuliahnya disana. Akhirnya aku lanjut ambil program Pascasarjana disini lagi Sekarang adik aku yang bantu-bantu papa di kantornya.Itung-itung magang di kantor papa sendiri " jelas Bima panjang lebar.
Irma mengangguk-angguk saat mendengar cerita latar belakang pendidikan Bima."Hmm, sepertinya bukan pemuda kaleng-kaleng anak ini."
Ponsel Irma tiba-tiba berdering lalu ia pun meminta ijin melipir menjauh untuk menerima telepon terlebih dahulu.
Setelah Irma menerima telepon ia pun kembali berpamitan pada Miracle dan Bima untuk menunaikan tugasnya sebagai Dokter terlebih dahulu.
"Baiklah Bim. Kakak tinggal dulu ya." sambil menepuk punggung Bima.
"Silakan kan!" jawab mantap Bima.
__ADS_1
"Oh ya Mir, kalau butuh sesuatu langsung hubungi kakak ya.Secepatnya kakak akan kembali kesini lagi." Irma mencium kening Miracle lalu meninggalkan mereka berdua yang masih tampak canggung.
....................................................