
Lelaki yang termenung di depan jendela itu menoleh ke arah Elenna dan tersenyum.
"Piter? Katanya kamu pulang, makan malam bersama kedua orang tuamu?" tanya Elenna.
Tetapi Jupiter hanya diam dan tersenyum manis padanya.
"Elenna?" terdengar suara di belakangnya memanggil namanya.
Elenna pun menoleh ke arah suara.
"Dokter Herman." sapa Elenna.
"Sedang apa kamu disini sendiri,?" tanya Dokter heran.
"Oh... tadi mau menemui Dokter, untuk menanyakan kepastian apakah saya sudah boleh pulang besok?" jawab Elenna.
"Iya, besok kamu sudah boleh pulang. Tapi seminggu lagi jangan lupa kontrol.Okay"
"Siap Dok.Terima kasih banyak." ucap Elenna
"Baiklah, saya mau keliling dulu kamu langsung kembali ke ruangan dan istirahat." ucap Dokter Herman.
"Baik, Dok. Yuk Pit temani aku kembali ke ruangan." betapa terkejutnya Elenna saat menoleh Jupiter sudah tidak ada di tempat.
Dengan raut wajah kebingungan Elenna menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.
"Cari siapa El?" tanya Dokter Herman.
"E... anu Dok pacar saya tadi ada disini tumben pergi gak pamit.Gak apa-apa Dok.Mungkin ditelepon orang tuanya." sahut Elenna dengan nada tidak yakin.
"Yakin kamu tidak apa-apa? Dokter tadi tidak melihat siapa-siapa disini selain kamu."
"Tadi saya sedang bersama Jupiter disini sebelum Dokter memanggil nama saya.Tetapi entahlah tumben ia pergi gak pamit".gerutu Elenna.
Dokter mengerutkan keningnya."Hmm, sepertinya Elenna berhalusinasi."batin Dokter Herman.
"Aku temani kembali ke ruangan kamu ya." ucap Dokter yang sedikit khawatir.
"Terima kasih Dok.Saya berani kok." ucap Elenna sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, saya jalan dulu ya.Nanti saya suruh suster memberimu obat agar pikiran kamu rileks " pamit Dokter Herman sambil menepuk pundak Elenna.
Setelah Dokter Herman pergi, Elenna merogoh kantong bajunya untuk mengambil ponselnya. Ia mencari sebuah nama di kontak ponselnya diantara berderet nama-nama lainnya.
Setelah ia menemukan nama kekasihnya, ia pun langsung menghubungi nomer kontak tersebut.
Elenna menunggu beberapa detik lalu kembali mencoba menghubunginya kembali tapi tetap saja nomer tersebut tidak dapat dihubungi.Tidak ada respon dari sang pemilik nomer.
"Hmm, mungkin mereka sedang makan malam." pikir Elenna mencoba menghibur dirinya sendiri.
Tapi entah mengapa perasaannya semakin tidak enak."Perasaan apa ini, kenapa hatiku terus berdebar dan jantungku berdetak cepat.?" pikir Elenna.
Lalu Elenna memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mulai berkemas agar besok bisa langsung pulang tanpa sibuk berkemas lagi sekaligus untuk menghilangkan pikiran dan perasaan kacaunya saat ini.
Setelah ia rasa semua sudah selesai ia kemas.Elenna mencoba membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.Tetapi pikirannya tidak bisa lepas dari Jupiter .
"Aneh, kenapa ia tadi tidak pamit padaku saat aku ngobrol dengan Dokter Herman, kalau ia akan pulang." senyuman manis yang begitu menenangkan yang sempat Jupiter berikan saat tadi bertemu di lorong Rumah Sakit terus membayangi pikiran Elenna. Hingga ia pun tertidur.
....................................................
"Piterr!! Tunggu!!" panggil Elenna saat Jupiter yang sedang berlari bergandengan tangan dengannya di antara rumput ilalang, tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya dan terus berlari menjauh. Sesekali Jupiter menoleh dan tersenyum padanya sambil melambaikan tangan.
"Piterr tungguu!! Jangan tinggalkan aku!" teriak Elenna berusaha mengejar kekasihnya itu yang terus berlari dan menjauh.
"Piterr!!!"
"Mira...bangun Mir!!" tubuh Elenna diguncang halus oleh Bima.
Bima berusaha menyadarkan Elenna dari mimpinya.
Setelah beberapa saat akhirnya Elenna pun terbangun dan menghapus airmatanya yang tanpa terasa telah mengalir dari pelupuk matanya.
Betapa terkejutnya Elenna saat mengetahui Bima berada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Bima?? Kok kamu disini, kata Jupiter kamu berangkat ke Jepang?" tanya bingung Elenna.
Bima tersenyum tipis "Kita pulang sekarang yuk.Dokter sudah mengijinkannya.Mata Bima menyapu seluruh sudut ruangan dan menemukan satu koper yang telah siap dibawa.
"Kamu sudah berkemas? Itu koper kamu kan? Yuk kita pulang !" ajak Bima.
"Tunggu Bim!"
Bima menoleh ke arah Elenna sambil mengerutkan keningnya."Tunggu apa lagi? Masih adakah yang belum dikemas?" tanya Bima sambil pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.
Elenna menggeleng pelan.
"Lantas?"
"Tunggu Jupiter sebentar ya. Kemarin ia janji akan menjemput ku. Kasihan kalau dia datang kesini tapi akunya sudah pulang.Aku gak mau ia salah paham. Kamu ngerti kan Bim?"
Bima menarik napas dalam dan menghembuskan dengan berat. Matanya kembali terasa berembun. Tetapi ia berusaha terlihat kuat dan tegar.
"Ini juga perintah Jupiter. Ia memintaku untuk menemani dan mengantarmu pulang.* ucap datar Bima.
"Maksud kamu ia tidak jadi menjemput ku?"
Bima mengangguk pelan."Yuk !" kembali Bima mengajak Elenna untuk keluar dari Rumah Sakit.
"Memangnya ada apa? Kenapa ia tidak menghubungi ku kalau tidak bisa menjemput ku?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut mungil Elenna.
Tetapi Bima terus melangkah menjauh sambil menarik tas trolly milik Elenna.
Tanpa bisa menahan Bima lebih lama lagi Elenna hanya bisa mengikuti langkah kaki Bima.Sambil terus menggerutu.
...........................................
Bima mengendarai mobilnya dalam diam seribu bahasa. Terlalu banyak kejutan dan kesedihan yang terjadi dalam hidupnya dalam hitungan detik.
Sesekali Elenna melirik Bima yang hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.Tanpa Elenna tahu apa yang menyebabkan mulut Bima terkunci rapat.
"Bim, kamu masih marah padaku?" tanya Elenna.
Bima hanya diam bahkan sepertinya ia tidak mendengar pertanyaan Elenna tersebut.
Bima tetap saja membisu. Pikirannya saat ini tidak sedang berada bersama raganya.
Melihat Bima hanya diam seribu bahasa akhirnya Elenna pun ikut membisu."Bima pasti sangat kecewa dan terluka karena aku." batin Elenna.
Beberapa saat kemudian Elenna baru menyadari arah laju mobil Bima bukan menuju rumah kakek dimana ia selama ini tinggal saat ia lupa ingatan.
Elenna mengamati lingkungan sekitar.Dan ia semakin yakin arah mobil yang membawanya tidak menuju rumah kakek.
Tidak lama kemudian mobil pun masuk ke halaman sebuah Rumah Sakit
"Bim, kita kemana? Bukannya ini Rumah Sakit? Apa kita jemput kakek disini? Kakek sedang bersama pasiennya?" tanya Elenna dengan berbagai pertanyaan.
"Kita sudah sampai.Yuk kita turun" Bima tanpa berbicara lebih lanjut membuka pintu dan turun dari mobilnya.
Masih dengan keadaan bingung.Elenna tetap mengikuti langkah Bima.
Tanpa ia duga kedua orang tua Bima dan kakek sudah berkumpul disana.Tidak ketinggalan Renata dan keluarganya.
Elenna semakin tidak mengerti setelah melihat Mama Langit dan Renata menangis.Bahkan setelah mereka menyadari kedatangan Elenna tangis mereka semakin keras.
Elenna hanya diam dan mengamati kebingungan dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.Kakek perlahan mendekati dirinya.
Lalu menepuk kedua pundaknya."Yang kuat ya nak.Kakek yakin kamu kuat."ucap kakek lalu memeluk Elenna erat.
"Ada apa kek? Apa yang terjadi?" tanya Elenna mulai gusar.
"Bim, kamu belum memberitahunya?" tanya ayah Bima.
Bima yang terduduk di lantai sambil memegang kedua kepalanya, hanya menggeleng pelan.
"Ada apa ini? Bim...apa yang terjadi sesungguhnya.?" perasaan Elenna semakin gusar seluruh tubuhnya mulai terasa dialiri listrik.Ia mulai yakin ada sesuatu yang tidak beres yang tidak ia ketahui.
Elenna melempar pandangan ke semua orang yang hadir di Rumah Sakit tersebut. Tetapi ia tidak melihat kekasihnya diantara mereka. Bahkan Renata terus menangis dalam pelukan orang tuanya.
__ADS_1
"Jupiter....dimana Jupiter? Katakan Bima, dimana Jupiter??" teriak panik Elenna.
Klik
Bunyi pintu dibuka lalu terlihat Dokter keluar dari ruang operasi."Keluarga Jupiter!”
Kemudian kedua orang tua Jupiter pun bergegas menghampiri Dokter.
Tidak berapa lama setelah Dokter berikan penjelasan singkat terlihat mama Jupiter meraung dalam pelukan suaminya.
Melihat hal itu tiba-tiba pandangan Elenna menjadi gelap dan seluruh tubuhnya terasa lemas.
Dengan sigap Bima yang melihat Elenna mulai terhuyung lemas, menopang tubuhnya dengan cekatan."Miracle!!" seru Bima.
Kemudian petugas medis yang melihatnya langsung membawanya ke instalasi perawatan untuk memeriksanya lebih lanjut.
............................................
Beberapa jam kemudian Elenna mulai sadar. Ia mulai perlahan menggerakkan jari jemarinya dan membuka matanya. Untuk sesaat ia berusaha mengenali dimana dirinya berada saat ini.
"Mir kamu sudah mulai sadar?"" Bima sudah bersiap untuk menekan tombol memanggil suster agar memeriksa keadaan Miracle.
Tetapi tangan Miracle mencegahnya.
Dengan satu tangan masih memegang kepalanya.Dan satu tangan menahan tangan Bima agar tidak menekan tombol. Elenna berusaha merangkai kembali potongan-potongan ingatan terakhirnya.
"Katakan sejujurnya padaku Bim, apa yang terjadi? Ada apa dengan Jupiter?" tanya nanar Elenna.
Bima terlihat menarik napas dalam.Ingin ia mengatakan sesungguhnya yang terjadi pada adiknya itu tetapi sayangnya mulutnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
'Bim, katakan padaku apa yang sesungguhnya terjadi." sekali lagi Elenna mencoba mencari kejelasan akan apa yang terjadi.
"Tapi janji ya, kamu harus kuat." pinta Bima sebelum ia menceritakan apa yang tidak Miracle ketahui tentang adiknya Jupiter.
Elenna menganggukkan kepalanya.
Akhirnya dengan berat Bima menceritakan apa yang dialami adiknya. "Kemarin sekitar pukul enam sore sebuah truk yang berlawanan arah memotong jalan, dan tiba-tiba berada tepat di depan mobil Jupiter dengan jarak yang sangat dekat sekali, menyebabkan kecelakaan tidak dapat mereka hindari. Mobil Jupiter bertabrakan hebat dengan truk tersebut.Jupiter terjepit diantara setir mobil dan kursi, yang menyebabkan banyak pendarahan di dadanya dan beberapa tulang nya patah." jelas Bima.
"Dokter telah berusaha menyelamatkannya, tetapi takdir berkata lain. Terlalu banyak darah yang keluar sehingga Jupiter tidak bisa diselamatkan." lanjutnya.
Mendengar penjelasan Bima, Elenna berteriak histeris memanggil Jupiter. Ia pun berlari keluar ruangan untuk melihat jasad Jupiter untuk terakhir kalinya.
"Tidak!! Itu tidak benar Jupiter masih hidup. Kemarin sore ia masih berada di Rumah Sakit bersamaku ia masih tersenyum padaku bagaimana mungkin ia mengalami kecelakaan?" sangkal Elenna akan keadaan Jupiter.
"Jupiter!! Jangan tinggalkan aku!! Aku tidak percaya dia telah pergi. Jupiter tidak akan tega meninggalkan diriku.Tidak!!"seru Elenna histeris.
Kakek dan kedua orang tua Jupiter berusaha menenangkan Elenna. Kakek terus memeluk Elenna dan membisikkan sesuatu untuk menguatkan Elenna.
Setelah Elenna terlihat sedikit tenang dan mulai bisa menguasai diri.Mama Jupiter merangkulnya dan menuntunnya untuk duduk bersamanya."Ikhlaskan Jupiter ya agar lancar perjalanannya disana.Kita yakin bila kita ikhlas melepaskannya ia pun akan bahagia disana.Kamu tidak ingin Jupiter bersedih kan?" bisik mama mencoba menghibur dan menguatkan Elenna.
Walaupun mama sendiri masih syok dengan kepergian putranya secara tiba-tiba. Mereka berdua pun akhirnya menangis bersama.Melepaskan rasa kehilangan yang mereka rasakan.
Dan untuk terakhir kalinya Kakek menuntun Elenna untuk melihat jasad Jupiter.
Melihat tubuh Jupiter yang terbaring kaku.Elenna hanya bisa meneteskan air matanya. Lemas sudah tubuhnya mulutnya pun terasa tersekat tak mampu lagi mengeluarkan suara.Hanya isak tangis yang tersisa.
"Apakah ini arti dari mimpiku semalam?"pikir Elenna.Sambil terus menggeleng gelengkan kepalanya berusaha menyangkal apa yang terjadi.
Bayangan Jupiter saat melepaskan genggamannya dan berlari menjauh serta tersenyum melambaikan tangan padanya kembali terlintas di kepala Elenna. "Ia telah berpamitan padaku." ucap lirih Elenna.
"Tidakkk!! Kenapa kamu tega tinggalkan aku sendiri Piter! " kembali Elenna belum bisa menerima kenyataan yang terjadi
..........................................,.
Tiga hari kemudian setelah Jupiter dimakamkan. Elenna kembali mendatangi makam kekasihnya. Dengan mata yang bengkak dan sembab ia menaburkan bunga untuk kekasihnya itu.
"Baru saja kita bersama lagi. tetapi takdir kini membawa mu pergi dariku untuk selama lamanya.Semua terjadi begitu cepat hingga aku belum siap untuk menerima semua kenyataan pahit ini tetapi bagaimana pun juga aku harus mengikhlaskan kepergian mu demi kebahagiaan mu.Selamat jalan kekasihku, terimakasih buat kegigihan dan kesetiaan mu untuk mencari serta menunggu ku hingga aku sembuh.Walau pada akhirnya kita tetap tidak bisa bersama. Tetapi percayalah cintaku hanyalah untukmu. Dan kelak di kehidupan yang lain, aku berharap kita akan tetap dipertemukan kembali dan dapat hidup bersama dengan bahagia.Aku janji di kehidupan berikutnya aku adalah orang pertama yang akan mencari mu disana." janji Elenna di pusara Jupiter.
.................................
Setelah kepergian Jupiter, Bima pun melanjutkan kehidupannya dengan bekerja di Jepang untuk melupakan semua kepedihan yang ia rasakan. Walaupun ia sangat mencintai Elenna tetapi ia tidak mau memaksanya untuk menerima dirinya. Karena Bima sadar cinta Elenna untuk adiknya jauh lebih besar dan abadi.
Kini Elenna dan Bima menjalani takdir hidup mereka masing-masing.
__ADS_1
.............. T A M A T................