
Melihat kedua orang tuanya berkumpul di kamar Bima, serta koper dan tas traveling yang telah siap untuk dibawa pergi menimbulkan pertanyaan di kepala Jupiter.
"Ada apa ini? Kakak mau kemana, kenapa kakak berkemas?" beruntun pertanyaan keluar dari mulut Jupiter.
Semua yang ada di kamar Bima pun menoleh ke arah Jupiter.
Bima hanya bisa menelan salivanya sesaat, sebelum ia mencari jawaban yang tidak menimbulkan argumentasi baru di benak adiknya itu .
"Hmm, ini kakak baru saja dapat kerjaan baru dari teman kakak di Jepang." sahut Bima setenang mungkin.
Jupiter menatap intens ke arah Bima kakaknya itu. Ia berusaha menemukan sesuatu yang disembunyikan oleh Bima.
"Tenang saja nanti kalau kakak sudah betah dan cocok dengan kerjaan disana kalian silakan datang ke Jepang, kakak akan ajak kalian keliling-keliling disana." Bima menghampiri Jupiter dan menepuk pundaknya.
Jupiter tetap terpaku diam mencoba mencari celah dari akting yang sedang dipraktekkan oleh kakaknya tersebut.Tetapi sayangnya akting Bima terlalu sempurna.
Jupiter memeluk kakaknya itu. Seolah mengerti apa yang sedang menggelayuti perasaan kakaknya.
__ADS_1
Jupiter masih ingat betul sebelum ia mengetahui sosok pacar Bima, Kakaknya itu selalu bercerita dengan penuh semangat tentang kekasihnya itu. Sorot mata penuh cinta terpancar jelas saat Bima menceritakan tentang pacarnya itu.
Baru bersama Miracle lah Jupiter melihat Bima sangat serius dan mencintai Miracle dengan sangat dalam.
Bahkan papa merekapun pernah berkomentar bila dengan Miracle lah hubungan Bima yang paling dalam dan serius. Dibandingkan dengan hubungan Bima sebelum-sebelumnya.
Karena itulah Jupiter sangat paham betapa terkejut, sedih dan hancurnya perasaan kakaknya itu, ketika tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa ternyata wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati itu adalah kekasih adiknya sendiri yang sedang lupa ingatan akibat kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu.
Jupiter semakin mempererat pelukannya sambil berbisik lirih,"Maafkan Piter. Andai bisa memutar waktu kembali Piter akan berusaha mencegah kecelakaan itu, sehingga kakak tidak terlibat kepedihan yang kakak rasakan saat ini."
Bima melepaskan pelukannya perlahan lalu ia menatap dalam kedua mata Jupiter
"Tapi kakak.... "
Bima menggelengkan kepalanya."Tidak ada kata tapi okay..., Miracle milikmu seutuhnya . Peranku dalam hidup Miracle sudah selesai. Kini tongkat estafet untuk membahagiakannya ku serahkan kembali kepadamu pemilik asli hati Miracle." Bima menepuk kedua pundak adiknya dan kembali memeluknya.
Jupiter sangat-sangat menghargai sikap bijaksana kakaknya itu. Sejak kecil Bima selalu berhasil menjadi seorang kakak idola, pelindung dan penyemangat dalam hidup Jupiter.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat menyanyangi dia bukan? Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian." Bima menepuk bahu Jupiter dan mengacak-acak rambut adiknya itu sambil berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Walaupun sejujurnya ada perasaan sakit dan pedih yang harus ia pendam dalam-dalam bahkan harus ia lupakan.
Jupiter menarik napas lega melihat kakaknya begitu ikhlas melepas kisah cintanya untuk kebahagiaan dirinya.
Kedua orang tua mereka pun ikut tersenyum lega melihat kedua jagoan mereka begitu dewasa dalam menyikapi kenyataan yang ada.
Mereka saling berpelukkan dan terharu dengan sikap dewasa Bima yang rela kebahagiaan dirinya ia kembalikan pada yang lebih berhak yaitu pemilik hati Elenna sesungguhnya.
Setelah semua saling berpelukkan untuk memberikan energi penyemangat untuk menjalani kehidupan selanjutnya, Bima pun berpamitan untuk segera berangkat ke Bandara.
........................................
Bima berangkat ke Bandara bersama seorang sopir pribadi ayahnya.
Dalam perjalanan menuju Bandara entah kenapa perasaan Bima sungguh terasa aneh jantungnya berdetak lebih cepat dan gusar. Perasaan yang sungguh tidak bisa ia jelaskan.
"Ada apa dengan perasaanku ini, apa yang terjadi?" pikir Bima saat perasaan aneh itu semakin menganggu dirinya.
__ADS_1
Bima memandangi tiket penerbangannya dengan tujuan ke Jepang dengan perasaan campur aduk. Ada bisikan halus yang menghendaki dirinya untuk membatalkan perjalanannya itu. Kembali Bima menarik napas untuk menenangkan perasaan gusarnya itu
.......................................