
"Renata!!" panggil mama Renata saat masuk ke dalam ruang rawat.
Disana terlihat seorang gadis terbaring lemas dengan jarum infus di tangannya.
Mama segera menghampiri anaknya yang masih terbaring lemas itu."Renata...ini mama nak!" mama membelai wajah Renata dan menciumnya.
Perlahan Renata membuka kedua kelopak matanya.Untuk beberapa saat ia masih berusaha beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke dalam kedua matanya.
Dengan satu tangan ia menggosok matanya agar pengelihatannya menjadi lebih jelas.
"Mama..." lirih suara Renata.
"Iya sayang, ini mama. Syukurlah kamu sudah sadar." kembali satu kecupan mendarat di kening dan kedua pipi Renata.
"Rena..dengar ya sayang, mama selalu ada untukmu.Kamu bisa bicara apa saja pada mama.Kamu tidak sendiri sayang." jelas mama.
"Maafkan Renata ma." sahut Renata kalem.
"Iya sayang, papa juga ada disini. Kamu bisa cerita apa saja ke papa dan mama. Kamu tidak pernah sendiri." tiba-tiba Papa muncul dan membuat Renata terharu.
"Pa...Ma..maafkan Renata" ucap Renata dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Kami selalu bersamamu sayang.Kita lalui semua ini bersama. Janji?"
Renata pun mengangguk setuju dalam tangis sesalnya.
__ADS_1
Tiba-tiba sorot matanya menatap sesuatu samar akibat airmata yang mengenang di matanya. Ia mencoba mengenali sosok laki-laki yang berdiri di ujung tempat tidur dorongnya.
"Bukannya itu----" kembali Renata mencoba menghapus airmatanya yang berkumpul bersama memenuhi pelupuk matanya.
"Jupiter??" ucap Renata gemetar berusaha meyakini apa yang dilihatnya tetapi ia sendiri menyangkalnya.
"Tidak ... tidak mungkin ini hanya halusinasi aku saja" batin Renata, menyangkal apa yang ada dihadapannya.Ia tidak ingin kecewa lagi dengan kenyataan sesungguhnya.
Jupiter tahu apa yang menjadi keresahan Renata.Kedua orang tuanya pun menyadari situasi yang sedang terjadi dihadapan mereka.
Kedua orang tua Renata pun akhirnya memberi ruang agar Renata yakin dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri.
Perlahan Jupiter pun mendekati Renata.
Renata benar-benar merasa malu telah mengkhianati persahabatan mereka dan itu jugalah yang menyebabkan dirinya melakukan percobaan bunuh diri.
Renata merasa malu dan tidak berani menampakkan diri dihadapan Elenna sahabatnya itu. Elenna pasti akan sangat membenci dirinya bila mengetahui kelicikan yang pernah ia lakukan demi untuk memiliki Jupiter. Pikiran itulah yang membuat Renata ingin lenyap dari dunia ini.
"Iya, ini aku." Jupiter mencoba untuk tersenyum walau hatinya masih merasa kesal dan kecewa dengan apa yang pernah Renata lakukan pada Elenna dan dirinya.
"Kenapa kamu disini? Bukannya aku tidak pantas untuk dimaafkan." ucap Renata sambil memalingkan wajahnya.
Jupiter menarik napas.
"Iya, kamu betul. Kelicikan yang telah kamu lakukan memang tidak pantas untuk dimaafkan." ucap tegas Jupiter.
__ADS_1
Air mata Renata kembali menetes.
"Tetapi aku hanyalah manusia biasa yang juga bisa berbuat salah seperti mu.Kalau Tuhan saja bisa memaafkan kenapa kita tidak? Elennna juga memaafkan mu ia titip salam untukmu tadi."
Mendengar nama sahabatnya yang telah ia tikung memaafkan perbuatannya.Airnata Renata semakin tidak dapat ia bendung lagi.
"Bagaimana keadaan Elenna? Apakah ingatannya sudah kembali?"tanya Renata sambil menyeka air matanya.
"Syukurlah keadaan Elenna semakin membaik. Kata Dokter besok sudah bisa pulang "
"Oh ya, bolehkah aku menemuinya ? Apakah ia masih mau bertemu dengan ku?"
"Pasti! Kamu sudah lama bersahabat dengannya bukan? Kamu pasti sudah mengenal sifatnya." jawab Jupiter sambil tersenyum.
"Kalau besok Elenna jadi keluar dari Rumah Sakit aku akan antarkan dia kesini untuk menemuimu." tambah Jupiter
"Jangan! "cegah Renata.
Jupiter mengerutkan keningnya.
"Aku yang akan menemuinya tidak pantas ia menemuiku aku yang akan datang kepadanya untuk meminta maaf padanya." ucap Renata.
Jupiter tersenyum mendengar pernyataan Renata. "Baiklah kabari saja kalau kamu ingin datang menemuinya. Aku pamit dulu ya." kemudian Jupiter melangkah keluar ruangan dengan perasaan lega.
.....................................
__ADS_1