
Jupiter dengan segala kekacauan pikiran dan perasaannya meninggalkan Rumah Sakit untuk memenuhi janjinya pada orang tuanya untuk datang saat makan malam.
Karena kakaknya saat ini sudah berangkat ke Bandara, ia tidak ingin mengecewakan dan menambah kesedihan perasaan kedua orang tuanya.
Karena Jupiter yakin kedua orang tuanya pun pasti paham alasan khusus dibalik kepergian kakaknya .
Jupiter melangkah cepat menuju parkiran mobil dan akhirnya ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Jupiter ingin menghapus pikiran kacaunya yang saat ini memenuhi kepalanya.
Masih terlintas di kepalanya raut muka sedih dan kecewa saat Elenna tahu kepergian Bima. Dan itu membuat nyeri di dadanya kembali terasa pedih.
Jupiter yakin kekasihnya juga memiliki perasaan yang sama dengan kakaknya.
Kebersamaan mereka saat Elenna lupa ingatan telah mampu menumbuhkan rasa saling cinta dan memiliki.
Walau di hadapannya mereka selalu menyangkalnya.Tetapi sorot mata dan raut wajah mereka tidak bisa dibohongi kalau mereka saling mencintai .
__ADS_1
Tidak terasa cairan bening di sudut mata Jupiter mengalir hangat. Ia merasa semua kisah cintanya bersama Elenna telah berakhir saat Elenna mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.
Pada saat itu bukan hanya ingatan tentang dirinya yang hilang melainkan perasaan dan kedekatan diantara merekapun ikut hilang.Dan terganti dengan hadirnya sosok Bima disaat yang tepat disaat Elenna membutuhkan sosok yang tulus menemani dirinya di lingkungan yang terasa asing baginya.
Kehadiran Bima bagaikan air sejuk yang ia butuhkan selama Elenna merasa kesepian dalam dunia yang tidak ia kenal.
Dan perasaan cinta diantara merekapun, pada akhirnya tumbuh kuat dengan sendirinya.
Hingga saat ini saat memori Elenna telah kembali. Perasaan dekat dan saling membutuhkan diantara mereka masih terlihat jelas dan tidak dapat disembunyikan walaupun mereka berdua berusaha menepisnya. Karena telah sadar dengan kenyataan sebenarnya.
Entah mengapa Jupiter merasa terkadang Elenna terkesan dingin dan canggung pada dirinya.Semua telah berubah.
"Sial!" umpat Jupiter dalam tangis yang ia coba tahan.Remuk perasaan Jupiter saat ini kekasihnya yang hilang bertahun-tahun dan kini telah berhasil ia temukan kembali ternyata bukan miliknya lagi.
Dengan luapan emosi kesedihan dan kekecewaan yang mendalam, kaki Jupiter menginjak pedal gas mobil dengan tekanan kuat yang membuat laju mobil semakin cepat
Saat mobil Jupiter melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dari arah berlawanan datang sebuah truk dengan sorot lampu yang begitu menyilaukan. Dengan reflek dalam keterkejutan nya saat truk yang tiba-tiba muncul di depannya ia menyilang kan kedua tangannya untuk menghalau sinar lampu sorot yang berasal dari truk di depannya.
__ADS_1
..................... .....................
Dalam kegelisahannya Elenna berusaha bangun dan berjalan di sepanjang lorong Rumah Sakit. Ia hendak menanyakan kembali pada dokter yang menangani nya apakah besok ia benar sudah diperbolehkan pulang atau belum.
Lorong Rumah Sakit terasa sepi dan entah mengapa malam ini sedikit terasa horor.Elenna menoleh ke kanan dan ke kiri menyusuri lorong berharap bertemu dengan suster perawat tetapi tampaknya harapannya tidak terwujud.
Ada sesuatu yang tidak biasa di malam ini. Biasa beberapa suster terlihat mondar mandir di lorong tapi kali ini sepi tak seorangpun perawat yang Elenna temui, selama ia mencarinya.
Tiba-tiba matanya tersangkut pada sosok laki-laki yang sedang berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar.
"Lho..bukannya itu Jupiter?" batin Elenna mencoba mengenali sosok laki-laki yang sedang melamun di depan jendela.
Elenna mencoba meyakinkan diri walau sedikit ragu."Bukannya tadi ia pamit untuk pulang makan malam bersama keluarganya? Tapi itu baju sama persis dengan yang tadi ia pakai." pikir Elenna.
Elenna perlahan mendekati laki-laki tersebut."Piter?" sapa nya lirih.
Laki-laki itu pun menoleh saat Elenna memanggil namanya.
__ADS_1
........................................