
Keluarga Renata terlihat sedang berkumpul di depan ruang Rawat Darurat.
Ibu nya terus berjalan maju mundur sambil memainkan tangannya. Ia berusaha menghilangkan kecemasan yang ia rasakan.
Sedangkan Ayah Renata pak Pambudi terlihat berdiri tegak sambil menatap lurus ke arah pintu ruangan dimana anaknya kini sedang dalam proses pemulihan akibat terlalu banyak menegak obat penenang.
"Selamat malam Om..Tante..." sapa Jupiter.
"Hai Piter..."
"Bagaimana kondisi Renata,om?"
"Dokter masih berusaha membersihkan lambungnya." jawab sang ayah.
"Seharusnya kami tidak meninggalkan dia sendirian." sesal sang mama.
"Sepertinya Renata melakukan ini karena ia malu bila suatu saat bertemu dengan Elenna." ucap ayah Renata lirih.
Jupiter mengerutkan keningnya dan menatap lekat wajah ayah Renata.
"Iya, Renata sudah mendengar bahwa Elenna kini telah kembali ingatannya.Oleh karena itu mungkin ia merasa bersalah dan malu jika nanti bertemu dengan Elenna." ungkap sang ibu menjelaskan pada Jupiter.
Jupiter terlihat menarik napas, ketika kedua orang tua Renata memberitahunya bahwa Renata telah mengetahui kondisi Elenna saat ini.
__ADS_1
"Pasti ia merasa bersalah dan malu sekali dengan perbuatannya waktu itu." pikir Jupiter mulai memahami mengapa Renata nekat mengakhiri hidupnya.
"Padahal Elenna memaklumi apa yang Rena lakukan. Oh ya Elenna juga titip salam buat semuanya." jelas Jupiter
"Elenna sudah benar-benar ingat semuanya Pit?" tanya Mama Renata.
Jupiter mengangguk yakin.
"Alhamdulillah." sahut pak Pambudi.
"Keluarga nona Renata!" panggil suster rawat.
Kedua orang tua Renata dan Jupiter pun menoleh ke arah Suster rawat yang memanggil mereka.
.........................................
Bima menyetir mobilnya dengan pikiran kemana-mana, pikirannya kini kembali pada kenangan saat dirinya dan Miracle masih bersama.
Bima masih ingat sekali masa-masa indah bersama kekasihnya itu walau hanya sesaat.
Tidak terasa sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Dadanya terasa sangat penuh seakan ingin meledak.
"Kenapa? Kenapa ini harus terjadi.Kenapa Miracle ternyata Elenna, kenapa?? " jerit hati Bima.
__ADS_1
Cairan bening itu terus mengalir membasahi kedua pipi Bima dalam tangisan diamnya.
Kedua mata Bima yang sejak tadi telah berembun kini telah penuh dengan cairan bening air mata yang membuat pandangannya mulai terganggu.
Bima menghentikan perlahan mobilnya di pinggir jalan.Disamalah ia menumpahkan semua emosi yang sejak tadi ia coba tahan di hadapan Miracle.
"Aku mencintaimu Miracle....sangat mencintaimu.Tetapu ternyata kamu milik adikku. Kenapa harus seperti ini akhir kisah kita? Kenapa harus kamu yang ditakdirkan untuk menjadi Elenna, Kenapa??" kembali hati kecil Bima berontak.
Sekuat apapun Bima mencoba untuk menahan rasa kecewa dan sedih yang ia rasakan pada akhirnya pertahanannya hancur juga.
"Aku tidak sekuat itu...aku benar-benar hancur tanpa dirimu . Andai aku bisa menghilang dan menghapus semua kenangan dan perasaan itu." tangis Bima.
Bima menatap sebuah foto dirinya bersama Miracle.Disana ia melihat kebahagiaan terpancar dengan jelas di raut wajah mereka.
Bima kini hanya bisa menatap semua kenangan-kenangan indah saat masih bersama Miracle, dalam pedih dan hancurnya perasaannya.
Jari jemari Bima menyusuri perlahan foto mereka."Andai saja senyuman ini bisa menjadi milik kita selamanya..." batin Bima.
Bima secepat kilat menghapus airmatanya.Ia mengambil napas panjang beberapa kali lalu menghembuskannya.
Tangannya kini memutar kunci kontak mobilnya.Lalu ia pun kini perlahan kembali mengendarai mobilnya.
Kini dalam pikirannya hanya satu, ingin segera pergi menjauh dari semua kesedihannya.Ia telah bertekad untuk mengucilkan diri dari semua kekecewaannya.
__ADS_1
.....................................